, ,

Pertautan Rasa di Atas Perahu Kali Serayu



USAI perjalanan jiwanya di Bukit Pangonan, Keenan masih melanjutkan hari-harinya. Namun kali ini ia tak sendiri, gadis idamannya sudah berada di sisi, untuk meneruskan sisa hari.

Berbunga-bunga hatinya. Tak pernah secerah ini. Langit Dieng masih dinaungi mendung, meski sesekali tertembus sinar matahari.

“Aku pengin rafting di Kali Serayu. Mumpung kita masih di sini, daripada nanti kita harus balik hanya untuk rafting. Kamu mau nemenin kan Keen?” tanya Aneesa kepada Keenan, sesaat setelah mereka menuruni kaki Bukit Pangonan.

“Tapi sebelumnya, kita antar mama, papa dan kak Adheera ke BIZ dulu ya,” imbuh Aneesa seolah sudah yakin kalau Keenan bakal setuju dengan idenya.

“Iya, aku manut kamu saja baiknya gimana. Eh apa sih itu BIZ? Atau bis? Ah aku ngikut kamu aja,” Keenan pasrah.

“Nanti kujelaskan di dalam mobil saja. Kamu gak bawa motor kan ke sini? Yuk ikut saja,” sergah Aneesa seraya menggandeng tangan Keenan ke parkiran mobil, tepat di bawah Pangonan.

Tak sulit bagi Keenan menangkap penjelasan tentang BIZ dari Aneesa. Jauh di luar dugaannya, BIZ atau Serulingmas Banjarnegara Interactive Zoo adalah kebun binatang paling beken di sini. Tidak sekedar tempat wisata tentunya dengan melihat 41 koleksi satwa, namun juga sarana rekreasi dan edukasi warga.

Sebanyak 18 jenis mamalia, 18 jenis aves dan 5 jenis reptil, menjadi penghuni paling menarik di sini.

“Kak Adheera mesti suka banget. Dia paling seneng kalau diajak ke kebun binatang liat macan hhahha. Ia bisa berjam-jam hanya melihat macan di kandangnya. Ya kan kak? Nah sembari mama papa nemenin kak Dheera, kita main rafting dulu, kan cuma 2-3 jam saja,” yang disebut namanya hanya tersenyum simpul, meringis lebih tepatnya. Sementara Keenan masih menatap kagum wajah teduh Aneesa yang selalu berbinar-binar setiap kali berbincang. Ia tak banyak bicara, namun matanya menyiratkan segenap makna tentang cinta.

Dan kini, gerbang masuk BIZ laksana 2 gading raksasa yang ditangkupkan, sudah menunggu.
Memilih menggunakan sarana odong-odong, ternyata membuat Adheera makin gembira, meski raut wajahnya masih datar. Gangguan autism tak mudah membuat Adheera menunjukkan emosinya. Tapi Aneesa tahu, mana yang dapat membuat kakaknya gembira dan sebaliknya.

Berkeliling ke seluruh kandang, rombongan kecil ini berhenti di depan kandang macan. Di sisi kandang besi berukuran 10x10 meter yang seluruhnya terkelilingi pagar kawat, Adheera berhenti. Matanya tak lekat menatap dua ekor harimau benggala, Aji dan Upik yang sedang santai merebahkan diri. Entah apa yang dipikirkannya, namun matanya jelas menyiratkan binar.

“Ini saatnya kita kabur dulu. Kak Dheera bisa berjam-jam duduk di situ melihat macan kok. Biar gentian mama dan papa yang nemenin, kita arung jeram dulu. Boleh kan ma?” Aneesa menggelendot manja di bahu mamanya.

“Boleh selama kalian berhati-hati, jangan sombong, takabur karena itu alam. Tidak bisa diterka. Dengarkan seluruh petuah mas-mas yang jadi tour leader-nya,” mama berpesan.

“Bukan tour leader atau gaet ma, mereka itu pemandu atau guard dan juga rescue. Jadi mama tenang saja, setiap perahu ada 1 pemandu kok. Kalau tour leader itu ya kalau kita piknik itu lalu ngasih penjelasan dan sebagainya. Kita kan gak piknik tapi arung jeram, jadi gak butuh gaet hehe,” Aneesa menjelaskan.

“Iya, apalah itu namanya.”

“Mending kalian segera berangkat, langit di Wonosobo sudah mendung banget tuh. Kalau di sana hujan, papa yakin kalian gak akan bisa rafting karena sungainya jadi banjir. Hulu Kali Serayu di Wonosobo kan?” papa dengan bijak memberi petuah, memberi izin berdasar. Gaya khas seorang ayah.

“Iya iya pah mah,” ujar Aneesa.

“Om, tante, kami pamit dulu. Inshaallah kami baik-baik saja. Kak Dheera, baik-baik di situ ya, jangan sampai macannya takut diliat kakak lama-lama seperti itu,” Keenan mencoba mencairkan suasana, memecah kekikukannya.

“Udah ah, daaaggg, jalan dulu ya. Nanti tak certain, tak bagi foto-foto rafting deh,” sedikit berlari, Aneesa kembali menggandeng tangan Keenan. Yang digandeng hanya manut, mirip dokar yang ditarik kuda, pasrah kemana dibawa.
*

JARAK dari Serulingmas ke Pikas, tidak jauh, masih di tengah kota. Tidak lebih dari 15 menit. Tentu ini menjadi kelebihan tersendiri bagi Banjarnegara memiliki destinasi-destinasi terpadu dengan jarak tempuh minim, namun maksimum akses di pusat kota.

Tentu ini berimbas positif bagi warga. Tak perlu jauh-jauh berwisata, semua ada di pusat kota. Dan tentu saja akan membawa indeks bahagia yang berlipat ganda, sebahagia hati Keenan dan Aneesa, setelah mereka berada di atas perahu, bersiap pengarungan, berbeda dengan malam sebelumnya yang memilih berendam di air panas D'Qiano.

Arus siang itu tak begitu deras, biasa saja sebiasa arus di sungai terbesar di Banjarnegara ini. Matahari juga tak begitu cerah, tersaput awan di beberapa sisi. Tak begitu banyak rombongan lain yang ikut rafting, hanya enam perahu bersama rombongan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara yang sebelumnya bersua di Bukit Pangonan dan berjalan bareng di Sumur Jalatunda.

Seluruh briefing keselamatan sudah diberikan. Tata cara mengayuh perahu, perintah-perintah yang mungkin disampaikan saat pengarungan, hingga tips agar tetap jika semisal terjatuh dan terbawa arus.

Di baris peserta, Aneesa lebih fokus mendengarkan sementara Keenan mengangguk-angguk seolah paham, sementara matanya lebih banyak mencuri tatap ke Aneesa di sisi kirinya yang kini telah mengenakan helm dan pelampung berwarna merah terang.


Keenan semakin kagum tatkala melihat Aneesa berbincang akrab dengan Mbah Roso, pemandu perahu karet mereka. Di sela aktivitasnya mengendalikan arah perahu mengarungi jeram, mereka nampak sudah mengenal satu sama lain. Gadisnya, pikir Keenan, memang istimewa, pintar, cantik dan mudah bergaul.

Sesekali di sela perbincangan mereka, perintah silih berganti disampaikan Mbah Roso. Guyonan, candaan dan tanya silih berganti, akrab membalut hati. Keenan semakin yakin, pilihan hatinya tidak salah.

"Awas jeram, boom masuk," Mbah Roso memberi perintah, memecah lamunan Keenan. "Yak, sekarang dayung maju lagi. Jeram Panjang sudah menanti di depan kita. Hati-hati dan bersiap ya. Kita sangat beruntung meski sedikit gerimis, tapi di Wonosobo tidak hujan jadi tidak banjir," lanjutnya.


Perahu melaju dengan kecepatan sedang, tak begitu kencang. Apalagi Jeram Panjang sudah menanti di depan. Keenan masih sempat melirik Aneesa yang duduk di kanan depan, tepat di sisinya ketika aba-aba dari Mbah Roso terdengar. "Boom masuk, boom masuk."

Aba-aba diberikan dengan segenap tenaga, namun tak cukup kuat mencegah Keenan untuk tak mengabaikannya. Ia masih sempat melirik Aneesa yang sudah lebih dulu jongkok di lantai, dan berucap "Ayo," namun terlambat.

Booom...perahu mereka menabrak batu besar, sesaat masuk di Jeram Panjang. Daya dorong arus kencang dan daya tolak batuan besar bertemu, membuat tubuh Keenan terpental keluar perahu, jatuh tertelungkup di dasar kali.

Sebercak warna merah segar memancar keluar di sela arus kali yang deras.

*
Gelap. Hanya itu yang diingatnya. Beberapa teguk air masuk melalui kerongkongannya yang terbuka. Benturan di kepala menyisakan nyeri yang membuat Keenan tersadar.

"Beruntung kamu hanya terbentur dan helmmu tidak terlapas. Kamu bai-baik saja kan Keen?" Aneesa terus berusaha menyadarkan lelaki di hadapannya ini. Wajahnya sendu, cemas berlebihan membuatnya kehilangan daya pikat, sorot matanya memudar, takut kenapa-napa.

"Ehmm aku dimana? Aku kenapa ini?" sesaat Keenan bingung

"Kamu di atas perahu rescue mas, kamu gak apa-apa. Cuma kaget terbentur tadi pas jatuh di Jeram Panjang, sempat pingsan. Tapi kamu baik-baik saja," tutur seorang pemandu.

"Keenan, kamu baik-baik kan? Jangan kenapa-napa ya. Aku takut kamu kenapa-napa," Aneesa nyerocos, kekhawatirannya sudah menurun beberapa detik usai Keenan tersadar.

"Iya mas, lain kali jangan melamun dan dengarkan komando dari pemandu ya. Kamu sering melamun atau jangan-jangan curi-curi pandang ke Mbak Neesa ya," Mbah Roso menimpali disahut teriakan gemas Aneesa sembari mendaratkan cubitan di perut Mbah Roso.


"Iya mas, mbak ini tadi panik banget pas mas kecemplung. Beruntung kami sebagai tim rescue cukup sigap. Kami memang selalu menempatkan diri di posisi depan sebelum perahu peserta masuk ke jeram. Kami berjaga. Makanya kami selalu duluan di depan kalian," pemandu lain yang sepertinya paling senior memberi pemahaman. Badge bertuliskan BannyuWoong Adventure, terpampang di lifejacket-nya. "Nah sekarang, mau dilanjutkan rafting-nya atau berhenti di sini saja?"

"Lanjut dong, kan belum sampai finish. Belum tuntas adrenalinnya mengarungi Serayu. Lanjut kan Keen? Kamu gak takut atau trauma kan? Ada mas-mas rescue ini kok. Tuh peralatannya lengkap, ada tali panjang juga yang siap dilempar jika kita terpental terlalu jauh. Ini aman kok," Aneesa mencoba meyakinkan.

Mengangguk pelan, Keenan bangkit. Dikencangkannya tali helm dan diperiksanya seluruh tali pelampung. Diraihnya dayung yang tergeletak di samping, sembari menempatkan ibu jari kanannya di bawah T-Grip. Tangan kirinya mantap menggandeng Aneesa, seolah ia tak ingin terlepas kedua-duanya.

"Aku siap. Kini kamu tak akan lagi dapat mengkhawatirkanku. Aku jauh lebih baik dan siap mengarungi apapun selama bersamamu. Kita akan baik-baik saja, berdua, bersama." **




* Catatan kedua Famtrip Bloger dan Media bersama Disbudpar Banjarnegara
** Tamat
- All photo by Bannyu Woong Adventure
Share:

14 komentar:

  1. Kok sama nih, aku pun juga tercebur sesaat perahu meninggalkan jeram. Nggak nyebur nggak seru kata yang pernah kecebur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi, mb wati kecebur bareng Keenan? Aih aihh hihi

      Hapus
  2. Mas bro..foto perahu2 di tengah kali Serayu cakep bangeeet...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbal, sepakat. Sayang bukan foto pribadiku huhu...

      Hapus
  3. Kok kayak baca cerpen...xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap...anda benar. Ini cerpen berlatar trip, wisata, budaya.
      Lg nyoba cara baru nulis blog wisata dgn latar begini hehe 🙏

      Hapus
  4. Pengalaman seru saat rafting itu kalau kecemplung dan glek... glek..nenggak banyu serayu, itu baru ada sensasi..... hahaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi...saya dan Keenan sdh sah jd warga Banjarnegara geh pak? 🙊😂😂

      Hapus
  5. Belum pernah ke serayu, kalau ada jadwal lagi boleh lah saya diajak (weekend)
    pengen jeram yang lebih hebat dari sungai elo kemarin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah mas e mulai ketagihan meh mbuat titanik seri 2 iwk hihi.

      Siappp...next kita agendakan yaww

      Hapus
  6. Wuihh bener iwk, gak salah...seri keduanya juga OK. terus berkreasi kak. Two tumbs up

    BalasHapus