,

Sempurna Cinta di Tanah Dhyang*


www.guswah.id

INI adalah kali keempat Keenan kembali ke Tanah Dhyang. Namun kali ini dengan misi yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Misi yang diendapnya berbulan-bulan, misi yang menjadikan jerawat batu ngendon persis di keningnya, merah, mirip bindi hanya saja ini di dahi laki-laki.

Keenan tersadar, Dieng memang istimewa, setidaknya baginya. Begitu pula yang dipikirkan jutaan orang yang pernah mengunjunginya, atau masih berangan-angan mencicipi hawa dingin, berwisata di tengah aura mistis alamnya.

Hampar kompleks Candi Arjuna, seolah tidak pernah habis untuk dieksplor. Begitu pula belasan kawah dan beberapa telaga yang menanti diunggah. Tapi kali ini, misinya beda. Keenan sedang mengejar cinta, cinta dari seorang dara yang juga pernah dijumpainya, mengantar pertemuan pertamanya di Tanah Dieng ini. Tanah yang disumpah Kyai Kaladete akan menemukan kesejahteraan pasca pengorbanannya memiliki rambut gimbal.

Aneesa namanya. Dia seorang gadis layaknya, tak ada yang istimewa, cantiknya sederhana saja. Tapi bagi Keenan, kesederhaaan itulah yang membuatnya terpikat, melabuhkan hati untuk kemudian memagutkan segenap rasa. Tapi rasa Keenan, bukanlah rasa yang mudah terungkapkan. Ia pendam rasanya selama 12 purnama, atau sejak pertama mengenal Aneesa.

Iapun bersumpah akan mengorbankan hari-harinya, hidup dan perjuangan demi cintanya. Terombang-ambing di bak truk yang membawanya melalui Karangkobar dari Banjarnegara, angannya beranjak. Jika biasanya ia ke Dieng melalui Wonosobo, jalur yang juga biasa digunakan wisatawan lainnya, kini ia harus menempuh jalan ini. Jalan yang luar biasa mengular, berkelak-kelok naik turun bukit, namun memiliki pemandangan yang sangat indah. Terbayar lunas perjuangan pertamanya.

Di Pasar Batur, Keenan harus bertukar bak truk dari yang semula mengangkut sayur, kali ini bersama dengan tumpukan karung-karung beraroma menyengat. Di ujung jalan masuk Candi Arjuna, barulah ia paham itu adalah pupuk kandang yang akan digunakan untuk menyuburkan tanaman kentang.

“Pantas baunya seperti mulut naga yang puasa tujuh bulan,” gerutunya dalam hati.

Di gerbang candi, Keenan ragu. Apakah akan meneruskan langkah, atau memutuskan ke lokasi lain. Namun keyakinan mengalahkan keraguan. Langkahnya mantab, demi cinta yang mungkin sudah menunggunya.

www.guswah.idTapi salah. Pelataran Arjuna sore itu hanya penuh sesak dengan ibu-ibu PKK yang sibuk ber-swafoto. Langit bitu, Arjuna ganteng, Sembadra yang seksi dan Semar yang gagah, menjadi pemuas latar foto yang tak lama lalu sudah berpindah terpampang di wallpaper emak-emak gaul itu.

“Mas, mas tolong fotoin dong. Latarnya Candi Arjuna tapi harus kelihatan bukit dan langitnya ya. Sebentar saya rapikan dulu kainnya biar lebih keren,” pinta seorang ibu berbaju hijau yang sepertinya bosan ber-swafoto sembari merapikan kain berwarna putih dengan corak hitam yang menjadi kain penutup wajib bagi siapapun yang masuk ke kompleks candi. Dan demi melihat kehadiran Keenan, segera ia mengajukan permintaan bantuan. Keenan-pun menurutinya sembari menebar pandangan, jangan di antara mereka terselip cinta yang sedang diburunya. Tapi ia salah. Tak ada seorangpun gadis di antara mereka. Beberapa ibu PKK memang mengajak anak gadisnya untuk tamasya, tapi mereka masih balita, belum pantas jadi cintanya.

Kekecewaannya sedikit terobati kala berjalan keluar dan menemukan Pendopo Soeharto-Whitlam. Dia teringat, bagaimana dulu di tahun 1974 Presiden RI Soeharto bertemu dengan PM Australia Gough Whitlam untuk membahas dukungan terhadap integrasi Timor Timur oleh RI. Meski hanya 15 menit dan di tempat terpencil kala itu, setidaknya Dieng telah kembali menjadi saksi sejarah. Mungkin pula kali ini waktu berpihak padanya, Dieng juga akan bersaksi atas cintanya.

Tak ditemukannya belahan hati di Arjuna, memaksanya bergegas ke selatan. Kawah Sikidang menjadi tujuan, toh harga tiketnya juga cuma Rp15 ribu untuk dua destinasi itu. Keenan yakin, cintanya berada di sana. Sebulan lalu ketika mengunjungi Dieng bersamanya, cintanya itu pernah berujar ingin memulai kehidupannya di masa mendatang di tanah ini. Baginya, itu adalah tanda untuk ‘menembakkan peluru cinta’.

“Entah mengapa, aku pengin sesuatu yang spesial di sini. Aku ingin Dieng menjadi saksi salah satu perjalanan besar di hidupku nanti lo,” ujar cintanya kala mereka berdua menghabiskan ujung hari di ujung jalan menuju Arjuna. Itu adalah bulan keduabelas sejak pertemuan pertama mereka, juga di Dieng ini, termasuk trip bersama mereka saat Dieng Culture Fest lalu.

Makanya Keenan tahu, kemana kira-kira kaki Aneesa akan melangkah usai mengunjungi Arjuna. Sikidang selalu menarik bagi Aneesa. Kawah yang berpindah-pindah, meletup dan mengeluarkan bau belerang yang sangat kuat, menarik bagi seorang Aneesa.

www.guswah.id“Kamu tahu gak Keen, kalau nanti suatu saat Kawah Sikidang ini tidak akan lagi berpindah tempat,” tanya Aneesa setelah sebelumnya menjelaskan asal muasal nama Sikidang. Bahwa Sikidang dapat diartikan sebagai kidang atau rusa, yang sukanya meloncat-loncat, begitu pula kawah ini yang selalu berpindah tempat, lincah kayak rusa.

“Tidak. Yang aku tahu, aku tidak akan berjalan di belakangmu kalau ke sini. Aku khawatir kamu kentut dan baunya tersamarkan oleh aroma belerang,” ujar Keenan sekenanya, disambung dengan langkah cepat Aneesa yang ingin mencubitnya gemas. Namun Keenan lebih dulu lari, disusul Aneesa sembari berteriak-teriak kecil, masih gemas ingin mencubit.

“Jadi, Kawah Sikidang ini tidak akan lagi berpindah tempat jika ia sudah bertemu dengan Kawah Sibanteng. Tapi entah kapan itu terjadi. Setidaknya, Sikidang sudah berpindah sebanyak 3 kali. Kemungkinan, ia akan bertemu Sibanteng di lokasi pertama Sikidang muncul,” Aneesa menerocos, menjejali dengan berbagai informasi. Tapi sebaliknya, Keenan seolah abai penjelasan itu, ia lebih sibuk memandang wajah Aneesa, gadis yang dipilihnya sejak pertemuan mereka 12 purnama lalu.

Kawah Sikidang masih sama dengan setahun pertama pertemuan mereka. Hanya saja kini lebih banyak pedagang berjajar memanjang hingga mendekati bibir kawah. Keenan memandang memutar, menyapu seluruh pengunjung. Tak jua ditemukannya gadis pujaannya. Kelebatnyapun tak nampak. Ia sedikit putus asa. Apalagi terang sebentar lagi memudar, berganti petang.

Keenan memutar otak, sepertinya ia harus menyerah kali ini. Masih ada esok, untuk mendapatkan cintanya, menautkan rasa yang mengendap dalam. Rasa yang harus diungkapkannya, apapun hasilnya. Waktunya dicukupkan untuk beristirahat, D’Qiano menjadi pilihan sekaligus tempat melepas penat.

“Di sana ada tempat berendam air panas. Aku bisa ngadem dan refresh di sana. Ya setidaknya melepas daki dan aroma busuk belerang dan pupuk kandang tadi siang,” ujarnya menghibur diri dalam hati.

*
SUDAH sejak adzan Subuh Keenan terbangun. Tidurnya tak terlalu nyenyak. Beban rasa di hatinya terlalu berat untuk tak segera diungkapkan.

Sejenak mengatur rencana, ia menduga Aneesa akan berburu sunrise. Sikunir menjadi alternatif pertama. Tapi ia menggeleng, trek 45 menit dan jalan cukup terjal tidak akan diambil mengingat sudah jam 05.00 lebih.
www.guswah.id

“Mungkin di Bukit Sipandu,” Keenan mencoba menerka kemana gadisnya bertujuan.

Bergegas usai solat dan mandi, ia ambil tas lengkap dengan kamera dan peralatannya. Semua skenario sudah disiapkan, mengambil momen paling istimewa demi pujaan hatinya.

Keenan bergeming. Langkah dan hatinya tidak bersepakat. Ia ingin ke Bukit Sigandu namun hatinya membisikkan kata agar ia memilih ke Bukit Pangonan dengan alasan waktu sudah mendekati 05.00, sehingga akan lebih cepat treking dan sampai puncaknya.

"Masih bisa dapat sunrise...waktu yang tepat untuk menyatakan cinta kepada Aneesa. Terlebih di sana ada savana yang pasti lebih romantis," bisik hatinya lirih. 

Masuk akal pikirnya. Bergegas ia percepat langkahnya, seolah tak ingin tertinggal sedikitpun. Di kaki bukit, tak dijumpainya seorangpun. Begitu pula di sepanjang jalan menanjak menuju puncak bukit. Hanya beberapa petani kentang yang sibuk menyiangi gulma. Dua pipa besar yang mengalirkan uap panas dari kawah-kawah di Dieng, ikut menemani jalur pendakiannya.

"Iya mas, tadi ada rombongan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara yang naik ke puncak. Ya belasan orang lah," ujar seorang petani menjawab sapaan Keenan, sekaligus mengkroscek siapa tahu ada belahan jiwanya di antara mereka.

Masih terengah-engah ketika kakinya sampai di sisi hutan Lembah Sumurup. Terhampar di depannya, padang savana luas, mulai menghijau seiring hujan pasca kemarau panjang. Sisa-sisa padang yang terbakar, masih nampak coklat, meski mulai menghilang. Bekas kawah purba ini, telah beralih rupa menjadi telaga dan kini berganti dengan padang savana. Konon di sinilah pertama kali tanaman purwaceng yang legendaris itu ditemukan.  

Memandang berkeliling, mata Keenan nanar. Dari belasan orang yang nampak dari ketinggian ia berdiri, belum terlihat sosok yang diidamkannya. Sedikit merasa letih dan kecewa, ia memutuskan berbalik arah. Sesaat itu pula, seiring Keenan membalikkan badan, Aneesa muncul dari balik semak, tepat di belakangnya. Sama terkejutnya ekspresi keduanya.

Namun Keenan jauh lebih terkejut. Aneesa muncul sembari menggandeng mesra tangan seorang laki-laki yang jauh lebih ganteng, gagah dan wajahnya nyaris selalu tersenyum, meski ia sedikit merasa aneh dengan senyuman itu. Sesekali, lelaki itu bahkan menggelendot manja di bahu gadis yang dipilihnya untuk menghabiskan sisa umur bersama.

“Keenan? Kenapa kau sampai ada di sini, sendirian lagi? Sedang apa? Sama siapa? Ngapain?” berondongan pertanyaan Aneesa, belum mampu dijawabnya. Ia benar-benar lunglai, tak mampu berkata apa-apa. Bukan karena pertanyaan yang bertubi-tubi, namun lebih karena sosok lelaki itu. Surprise tak dinyana.

“Ehm...ehmm aku mencarimu. Aku mengejarmu sejak dari Semarang, ke Dieng dan Arjuna dan juga Sikidang,” jawab Keenan sekenanya. Matanya masih nanar bertanya-tanya, siapa lelaki ganteng yang menggenggam tangan Aneesa itu.

“Mengejar? Untuk apa? Aku kan tidak lari. Ah kau ada-ada saja,” Aneesa masih menjawab datar. 

“Oh iya, ini kenalin kakakku, namanya Adheera. Kami memang mau ke sini, namun harus berjalan pelan-pelan. Kakakku suka usil, jadi harus sabar. Aku pengin nunjukin ke kakak bahwa dunia itu indah, ia juga bisa belajar dari alam. Ya meski kemampuannya terbatas, tapi kakakku juga butuh piknik. Masak cuma adeknya saja yang travelling terus. Makanya ia kuajak naik Bukit Pangonan saja yang lebih landai. Dan meski agak lama, akhirnya kami sampai juga di sini. Indahnya ya puncak Pangonan ini,” penjelasan Aneesa bagai setetes kopi purwaceng, meletupkan gairah Keenan.

Dari penjelasan itu pula, ia baru tahu bahwa Adheera mengalami autism sejak umur 2 tahun. Dan nyaris sepanjang hidupnya, Aneesa memberikan perhatian penuh kepada sang kakak. Travelling, mendaki gunung serta memotret adalah hobi yang disalurkannya di sela kesibukannya mengasuh Adheera.

“Makanya kalau ngetrip, aku tak bisa lama-lama. Ada kakakku yang juga butuh perhatianku. Eh sudah ah, aku terus yang cerita. Kamu juga cerita, kenapa sampai di sini? Kenapa pula mengejarku, emang aku maling? Udah yuk, jalan ke bawah yuk, pengin motret savana nih,” ujar Aneesa kembali menggandeng tangan kakaknya.

Ingin rasanya Keenan menjawab. “Iya, kamu maling hatiku. Gak cuma separuh, tapi seutuhnya. Apa yang kamu lakukan, gerakmu, tingkahmu, budi pekerti dan segala kebaikan dirimu sudah mempesonaku. Seperti pesona Dieng yang tak pernah luntur sampai kapanpun, bersanding sempurna dengan keelokan sifatmu Neesa,” tapi itu hanya disimpannya dalam hati, sampai nanti benar-benar tiba waktu terbaik untuk mengungkapkannya.

Tapi setidaknya, kini telah terbuka jalan untuk hatinya berlabuh. Bahkan meski jauh dari pelabuhan, Keenan yakin akan menambatkan perahunya di sini, di hati Aneesa, di tengah cantik pesona Tanah Dhyang. Keenan makin yakin, memantapkan langkahnya ikut menggandeng tangan Adheera di seberang sisi Aneesa, bersama.

guswah.id
Photo by @ikapuspita1
* Catatan pertama Famtrip Bloger dan Media bersama Disbudpar Banjarnegara

Share:
Read More
,

Lara Sendiri Meniti Tangga Embung Nglanggeran


Embung Nglanggeran

SUARA angin berdesir tak begitu kencang. Tapi entah, hatiku menderu begitu cepat. Papan penunjuk ‘Anda memasuki Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran’ membuat hatiku limbung. Jarak 22 km dari pusat Kota Wonosari, Yogyakarta ke lokasi ini sudah kuabaikan dan aku sudah sampai di sini. Aku harus kuat.

Beruntung tanganku masih kokoh memegang setir. Salah-salah, aku bersama mobil dan segenap kenangan ini dapat masuk jurang, musnah ditelan dinginnya gunung ini. Ketinggian 700 Mdpl semestinya membuat suasana sejuk, namun langkah ini semakin tersaruk justru ketika kuinjakkan kembali Embung Nglanggeran yang fenomenal.

Embung NglanggeranDi undakan pertama saja, kakiku sudah bimbang melangkah. Sepasang kekasih seperti tak merasakan pilu hati ini, bergandeng tangan membimbing pasangannya melangkah turun.

“Kalau kamu capek, aku gendong sini,” ujarku menawarkan diri sambil meringis membayangkan jika kau benar-benar mengiyakan lalu minta digendong pula memutari embung yang memiliki luas 0,34 hektar dan dibangun tahun 2013 lalu untuk kepentingan pengairan 20 hektar kebun buah.

“Yakin?” tanyamu memastikan.

“Ya tak apa asal pulangnya nanti dipijitin,” sergahku disambut tanganmu yang mencoba mencubit perut disusul dengan lari-lari kecil kita bekerjaran di tangga naik embung.


Tapi itu satu tahun lalu. Dan kini, pasangan di depan itu benar-benar mengaduk semua kenangan itu. Pilu, namun aku sangat merindumu.

Tepat di bibir embung, bayangmu memintaku memotretmu bersandar di pagar besi berwarna abu-abu, menambah pilu suasana siang itu. Lalu berlari ke arah barat daya, berfoto dengan latar belakang Gunung Api Purba. Belum puas, kembali kau bergeser ke arah utara, kali ini background embung menjadi pilihan di frame berikutnya.
Embung Nglanggeran

Sekilas kulihat wajahmu berubah menjadi pucat. Kuduga, kamu terlalu capek mendaki tangga embung. Namun demi melihat senyum dan ajakanmu berfoto di berbagai sudut, kuabaikan wajah pucat dan perasaan aneh entah apa ini namanya.

Sayang, kemarau panjang membuat air tampungan embung kosong. Melompong seperti asaku yang kopong. Aroma lumut kering terbakar surya menyengat indera. Menyesakkan dada demi mengingat semua tentang kita.

Teringat keinginanmu untuk menaiki puncak Gunung Api Purba. Terkenang pula janjiku untuk menemanimu di sana, berfoto di puncaknya. Atau juga cita-citamu untuk memburu sunrise, berlatar embung di kejauhan.

Kamu juga ingin tahu lebih banyak tentang kisah 7 KK (Kepala Keluarga) yang menghuni puncak Gunung Api Purba. Kisah Mpu Pitu yang sudah turun temurun, harus selalu dihuni jumlah itu tidak boleh lebih, sebuah kepercayaan yang membangkitkan semangat menjaga kelestarian kawasan.

Embung Nglanggeran

Kamu juga ingin melihat lebih dekat Pohon Termas yang getahnya konon mampu menyembuhkan beberapa penyakit, seizin Allah tentu saja. Apalagi uniknya, pohon ini hanya dapat tumbuh di tebing-tebing menempel di tebing Gunung Api Purba. Liver, stroke, batu ginjal hingga lumpuh, kabarnya dapat dibantu penyembuhannya dengan getah pohon ini.

Mata Air Comberan yang ada di puncak gunung, juga menggodamu untuk melihatnya lebih dekat. Keistimewaannya yang tidak pernah mengering meski kemarau sekalipun. Arca Tanpa Kepala yang ditemukan di Gua Putri juga di puncak gunung, ikut menyeret asamu ke sana.

Atau juga Tapak Syahadatain yang dipasang 9 orang bersama-sama dengan ritual 3 hari 3 malam. Semua menarik perhatianmu, seiring dengan jiwa petualang dan rasa ingin tahu yang luar biasa besar. Dan inilah yang kusuka darimu.

Tak lama sebenarnya, toh hanya sekitar 50 menit perjalanan untuk mendaki puncak dari embung ini. Sebuah pendakian yang tentunya tidak akan menguras stamina bagi orang sepertimu, penakluk puncak beberapa gunung di Tanah Jawa ini.

Di gazebo sederhana itu, kita sempat menyusun rencana ke puncak. Bermanja-manja, kau senderkan kepala di dada. Ah dunia sepertinya hanya menjadi milikku saat itu. Waktu berhenti, hanya untuk memberi bahagia yang ternyata tak akan dapat lagi kureguk bersamamu.
Embung Nglanggeran
Siang itu, tepat ketika matahari menyentuh ubun-ubun, aku kehilanganmu. Diterpa semilir angin Nglanggeran, aku harus merelakanmu menjauh, bukan untuk sementara, tapi untuk selama-lama. Bahkan masih terasa sender kepalamu di dadaku, dapat kurasakan detak jantung yang berdegup kencang kala itu.

Semua berubah ketika batuk kecilmu tak kunjung reda. Diikuti muntahan darah kental, kamu terhuyung. Beruntung aku sempat memegang pundak lalu menyandarkanmu, memelukmu. Sesaat itu pula, kamu kembali muntah. Darah menggenang di seluruh baju yang kukenakan.

Di tengah kebingungan dengan apa yang terjadi, aku hanya bisa menangis. Seperti saat ini, aku kembali menangis di tempat terakhir kita berpelukan, sekali, terakhir dan selamanya.

*

Chronic Myelogenous Leukemia (CML) atau dalam Bahasa Indonesia-nya leukimia mielogen kronis stadium IV. Itu kalimat pertama yang kudengar dari ibundamu ketika menemuiku, tiga hari pasca kepergianmu.

Tiga tahun penyakit ini mendera tubuhmu, tapi tak pernah kau rasa. Bahkan pusaramu masih basah ketika kubayangkan sel-sel kanker ganas justru menyerang sel-sel darah putih yang seharusnya melindungi dari serangan benda asing atau penyakit. Sel darah putih ini dihasilkan oleh sumsum tulang belakang yang karena pertumbuhannya tak lagi normal, justru membuat fungsi kekebalan tubuh menjadi tidak maksimal.
“Jenis kanker darah ini kebanyakan diderita oleh orang-orang dengan usia di atas 20 tahun. CML memiliki dua tahap. Pada tahap pertama, sel-sel abnormal akan berkembang secara perlahan-lahan. Ketika memasuki tahap kedua, jumlah sel-sel abnormal akan bertambah dengan pesat sehingga akan menurun secara drastic. Dia menemanimu ke Nglanggeran demi merayakan ultahmu. Dia tidak ingin mengecewakanmu Nak. Bahkan meski kami sudah melarang karena kondisinya yang memburuk, ia bergegas ingin menemanimu di hari spesialmu,” tutur ibu memberi penjelasan yang berubah menjadi kunang di mataku, dunia berputar lalu gelap.
Ketika sadar, sudah banyak mata menatapku. Semua sama, semua berkaca-kaca seperti mataku yang sudah lebih dulu basah, tak ubahnya seperti Embung Nglanggeran.
*

Embung Nglanggeran

Dan kini, setahun berlalu, tepat di ultahku aku kembali ke Nglanggeran, tapi tanpamu. Aku hanya sendiri berkawan kenangan.

Menerawang, kubayangkan perasaan Didi Kempot yang mencoba menggambarkan lara hatinya melalui lagu Banyu Langit. Seperti laraku kehilanganmu.

Banyu langit sing ono dhuwur khayangan, watu gedhe kalingan mendunge udan, telesono atine wong seng kasmaran, setyo janji seprene tansah kelingan. Ademe gunung merapi purbo, melu krungu swaramu ngomongke opo, ademe gunung merapi purbo, sing ning langgran wonosari jogjakarta’.



Baca juga kisah roman travel lainnya: 
- https://www.guswah.id/2018/08/luluh-dalam-dekap-kota-poros-tengahnya.html
- https://www.guswah.id/2018/09/meramu-keindahan-keanggunan-dan.html
- https://www.guswah.id/2018/09/mencumbu-rindu-dalan-susu.html
- https://www.guswah.id/2018/10/menjejak-bahagia-tanah-dieng-catatan.html

Share:
Read More

Pemuda Kreatif Indonesia, Itukah Kamu? (Flash Blogging Ditjen IKP Kominfo)

Empat tahun Indonesia kreatif...kamu gimana?

EMPAT tahun Indonesia Kreatif dan seorang teman membawa dagangannya, bawang goreng kemasan. Ah saya jadi bertanya, di era 1000 start up ini, di masa ketika empat Unicorn telah mempenetrasi dunia, masih ada rekan yang jualan bawang.

Bukan…bukan bawang gorengnya yang ingin jadi centre point saya. Tapi dengan segala pengetahuan dan usaha pemerintah membangkitkan ekonomi kreatif, jualan bawang goreng ini terasa garing.

Ditawarkan door to door, teman ke teman, saya tidak yakin volume penjualannya akan melejit seperti raihan 31 medali emas kontingen Indonesia di Asian Games 2018. Perolehan ini jauh melebihi perolehan emas-emas di Asian Games sebelumnya yang selalu bisa dihitung dengan jari.

“Perolehan medali emas kita di Asian Games kali ini meleset dari target,” ujar Pak Wapres Jusuf Kalla sedikit bersarkas. Iya memang, meleset dari target, karena raihannya jauh melebih target :D.

Lalu? Nah inilah bagaimana start up berpikir, bekerja sesuai ranahnya sebagai pemuda yang ingin jadi apa…jadi pemikir. Memikirkan sedikit saran dan sumbang ide untuk penjualan bawang goreng rekan blogger saya di Flash Blogging 9 Nopember ini bersama Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo RI ‘4 Tahun Indonesia Kreatif’.

Baca juga: https://www.guswah.id/2018/02/mode-fighting-ml-5v5-demi-menuju.html
*

SEDIKIT sentuhan, saya pikir industri rumahan bawang goreng ini akan menjadi perusahaan besar. Tentu saja butuh usaha keras untuk mewujudkannya. Ide inovatif menjadi kunci utama dilanjutkan dengan membentuk tim atau rekan kerja yang handal.

Lean start up dapat menjadi model pengembangan produk berikutnya. Pendekatan pengembangan bisnis produksi yang ramping dan mencoba melihatnya dari sudut pandang konsumen, mungkin dapat menjadi trik jitu.

Pemasaran menjadi kunci lainnya. Lihat sajabagaimana packging produk bawang goreng yang sangat sederhana –kalau tidak bisa dibilang jelek-. Bahkan tak ada keterangan apapun yang melabeli produk yang dijual dengan harga Rp35 ribu per pack seberat 250 gram ini. Baik itu izin IRT, Kemenkes atau brand yang menjadi kunci utama produk. Polos.




*break solat Jumat*  

DAN itulah mengapa, tiga tahun terakhir saya selalu ikut Flash Blogging. Dua kali penyelenggaraan di Santika Premiere dan tahun ini di PO Hotel, semakin membuat wawasan saya bertambah. Tidak saja luas, namun volume otak saya akan keberhasilan pemerintahan Jokowi 4 tahun kepemimpinannya sangat berasa.

Tidak perlu saya jabarkan satu-satu lah ya. Apa yang disampaikan Dirjen IKP Kominfo Rosarita Niken W, merangkum semua keberhasilan itu.

Pertumbuhan ekonomi yang melejit, berkurangnya pengangguran karena semakin banyaknya angka lapangan kerja, keberhasilan peningkatan saham Freeport, menekan angka berita hoaks hingga yang masih anget adalah keberhasilan meraih medali emas baik Asian Games dan Asian Para Games. Pokoknya tidak perlu saya jabarkan detil, takut dikira kampanye, padahal ini nyata.


Pun ketika Stafsus Kominfo Andoko Darta memberikan motivasi kepada para pemuda agar mengambil perannya di pembangunan kini. Mau jadi apa wahai pemuda? Kreator, Peduli, Orang biasa, Pahlawan, Cendekiawan atau Eksplorer. Pilih dirimu dan tempatkan peranmu di salah satunya.
Saya sendiri memilih berperan sebagai creator sekaligus eksplorer. Keindahan berbagai sudut Indonesia, sangat perlu untuk dituangkan dalam blog saya ini. OK-lah saat ini saya masih mencoba membangun kontribusi untuk Kota Semarang, tempat dimana saya tinggal sekarang.

Tapi saya yakin suatu kali nanti, saya juga akan mampu menjadi pahlawan bagi Indonesia. Setidaknya pahlawan bagi diri, keluarga dan lingkungan ini. 
Mari berkarya bersama, demi Indonesia.

Baca pula: https://www.guswah.id/2017/07/belajar-pancasila-dari-dian-sastro.html






Share:
Read More

MU dan Mimpi Naik Old Trafford


Nopember 5, 23.45
GENAP 25 tahun saya memilih dan mencintai klub besar penuh sejarah, Manchester United (MU). Selama itu pula, jangankan bermimpi, membayangkan saja saya tak pernah mampu.

Terlalu banyak pengorbanan dan usaha yang harus saya lakukan untuk kesana. Memang sesekali pernah terbersit untuk pergi ke markas sekaligus stadion kebanggaan para fans MU tersebut, namun hal itu tak pernah saya pelihara.

Hingga kisaran 10 tahun lalu, melalui perjumpaanyang sudah diatur Allah serta garis takdir, bertemulah kami para pecinta MU di Semarang. Bernaung di bawah atap rumah bernama Indomanutd, kami membangun pondasi cinta bersama. Tidak saja kini kami berteman, lebih dari itu, kami adalah keluarga besar.

Old Trafford
by Wikipedia
Seiring itu pula, melalui perjumpaan, obrolan serta diskusi, mucnul kembali gairah untuk menata mimpi ke Old Trafford. Bagi kami, pergi ke OT dapat diibaratkan ‘berangkat hajinya’ para Manutd’ers. Kami sebut ini, Naik Old Trafford, serupa dengan istilah naik haji. ‘Ibadah’ ini menjadi rukun wajib ketiga setelah ‘keharusan’ selalu menonton match, lalu selalu mencari info mengenai para player dan isu-isu yang melingkupinya.

Tentu saja semua social media yang terhubung dengan klub kecintaan itu terus melekat di aplikasi gawai masing-masing. Tak terhitung pula tampilan OT yang selalu menjadi magnet utama untuk membangun kembali puing-puing mimpi ke Manchester, duduk di salah satu tribun, datang ke lapangan dan bersujud mencium rumputnya, berguling sebentar jika diizinkan, memasuki lorong pemain menuju stadion atau pula berbelanja semua pernak-perniknya di Mega Store.

Aihhh...mimpi yang membahagiakan.

Tidak... tidak. Saya bukan sedang membicarakan berhala atau hal-hal yang terkait dengan agama saya. Ini murni duniawi. Persoalan ini pula yang seringkali memunculkan perdebatan-perdebatan dengan mbak bojo yang seolah saya lebih mengutamakan ke OT daripada ke Baitullah untuk menunaikan rukun Islam kelima. Tidak. Tolong jauhkan pikiran itu dari benakmu...

Terbang ke Manchester lalu ke markas Red Devils, adalah mimpi terbesar saya. Dan beberapa menit menjelang pergantian usia ini, saya berusaha menuangkan hal yang menjadi salah satu penyemangat hidup, satu persoalan yang selalu saya banggakan bahkan menjadi bagian dari personal branding gus Wahid United.

Bahwa Wahid adalah MU, bahwa MU adalah bagian dari hidup seorang gus Wahid. Satu kesatuan, tak terpisahkan. Ada Wahid, tentu selalu dengan baju MU yang melekat. Ataupun jika terpaksa, masih ada aseksoris MU lainnya, di badannya.

Mimpi ke Old Trafford
Rosyad kibarkan bendera Indomanutd Semarang di OT..woww

23.54
MASIH beberapa menit menuju 6 Nopember. Jalan sayapun belum terbuka. OT masih jauh di sana, menunggu saya meralisasikannya.

Bukan tanpa usaha tentu saja. Namun tetap saja dengan gaji pas-pasan, semua mimpi memiliki batasan. Yang bahkan bisa tak tercapai laksana menggayuh bintang di semesta.

Tak patah arang. Mimpi inilah yang akan membuat saya terus hidup, tetap hidup dan selalu bersemangat menjalani hidup. Baju MU yang melekat setiap hari –bahkan saya tak memakai baju MU hanya ketika tidur dan mandi tentu saja-, adalah moodbooster, tangga untuk meraih mimpi.

Tak peduli berapa kali pertanyaan, “Sudah pernah ke Manchester, mas?” atau “Belum komplit lo mas kalau mencintai MU tapi belum ke OT.” Saya bergeming. Mencintai MU dalam keseharian adalah kewajiban, dan pergi ke OT adalah rukun terakhir cinta ini, jika mampu.

Pun saya tak berdiam diri. Upaya-upaya kecil terus saya pupuk laksana menyemai bibit-bibit tauge di musim hujan. Saya sirami, saya berikan cahaya matahari yang mencukupi. Sayangnya, tabungan ke OT bukanlah tauge yang setiap kali disiram, tumbuh berlipat.

Sayangnya, tabungan tetaplah hanya angka yang tak jauh dari keinginan untuk menjumputinya ketika kebutuhan menjadi persoalan besar. Belum lagi persoalan di kantor kerja yang membuat saya harus berpikir dan berupaya lebih keras. Akankah Theater of Dreams semakin menjauh?

Saya coba cara unik ini. Mengumpulkan lembaran rupiah dalam galon besar. Melubanginya sebagai jalan udara sekaligus lubang besar memanjang untuk memasukkan kertas-kertas berpita magnetis sekuritas tersebut. Tapi entah sampai kapan akan membesar angkanya...

Cara ketiga adalah terus memupuk semangat bersama saudara-saudara saya yang lain di Indomanutd. Kami sepenanggungan. Tidak semua dari kami berkesempatan mengunjungi OT karena memang kondisi ekonomi kami tidak sama.

Tawaran datang dari sponsor. Dengan memenangkan undian, kami bisa berangkat ‘menunaikan ibadah naik Old Trafford’. Saya terus berdoa agar saya salah satunya. Entah kapan keberuntungan akan menghampiri. Hanya bisa pasrah.

Bryan dan sponsor keberuntungannya ke Old Trafford
Alternatif terakhir, saya menulis kisah permohonan dan mimpi besar ini. Tentu saja tidak pernah berharap ada dermawan berbaik hati lalu datang menghampiri, “Hai Wahid, karena kamu bagus dan bla bla bla, kamu tak berangkatin ke Old Trafford. Semua biaya aku tanggung, kamu tinggal siapin badan, kamera dan paspor.”

Dan bum....beberapa minggu kemudian, social media saya penuh dengan foto-foto saya mejeng di OT. Di Sir Matt Busby Way, di depan stadion saat menjelang malam, foto berlatar Sir Matt Busby di tribun timur, lalu di dalam stadion dengan background tulisan Manchester United di tribun, duduk di salah satu kursi kosong di antara 75.635 kursi stadion lainnya sambil menopang kaki, atau sok sombong ngopi Posong kesukaanku di Red Cafe. Eh memangnya ada Kopi Posong sampai Manchester...

Dan puncak dari segala ibadah ini tentu aja menyaksikan match langsung MU di Old Trafford. Berharap para pemain melumat habis lawan-lawannya dengan clean sheet di depan mata saya secara langsung. Ya tentu saja tanpa lupa me-mention sang sponsor hahaha...tapi ini jelas hanya khayalan, bukan mimpi hihi.

Tapi memang banyak jalan menuju Roma, saya percaya pepatah itu. Sepercaya saya akan banyaknya jalan menuju Old Trafford...dan saya yakin akan meraihnya, seperti raihan mimpi-mimpi duniawi lainnya yang sudah lebih dulu terwujud. Someday...

12.33
IZINKAN saya sejenak memejam mata, berdoa kepada Pencipta agar meridloi dan memudahkan semua urusan hamba-Nya...aamiin.
   
Mimpi ke Old Trafford
Uli dan inspirasi pembangun mimpi ke OT

Baca juga https://www.guswah.id/2016/10/pantaskah-mem-bully-mu.html
Share:
Read More