,

Pentingnya Bantuan Hidup Dasar dan Membangun Kebanggaan Akan Semarang

gus Wahid United

AKHIR Nopember lalu, sepertinya akan menjadi salah satu momen terbesar di hidup saya. Bersama Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, belasa bloger dan rekan media, kami belajar bagaimana memberikan pertolongan pertama bagi yang membutuhkan.

Sebenarnya bukan hal baru di hidup saya. Sejak SMA, saya sudah tergabung dalam barisan Palang Merah Remaja (PMR) di SMA 1 Salatiga. Bahkan sejak SD, saya masuk jajaran Dokter Kecil. Jadi begini-begini, saya pernah jadi dokter loh...

Namun sejak masuk bangku kuliah, semua ilmu itu terlupa. Cita-cita masuk Fakultas Kedokteran memang terpenuhi, setidaknya masuk gerbangnya :D

Dan setelah sekian tahun berselang, seperti dejavu, saya disadarkan betapa penting memberikan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Belasan tahun tanpa praktek keahlian ini, karena memang profesi saya tidak bersinggungan dalam dunia medis, lalu saya tersadar kemampuan ini wajib dimiliki oleh setiap orang, baik ia medis maupun non medis demi menolong mereka yang membutuhkan.

Dr Satya Ariza dan dr Hifni Hakim Prabowo membuka mata saya melalui acara 'Blogger & Media Gathering Bersama Dinas Kesehatan Kota Semarang' Hotel Atria Magelang, 23-24 Nopember ini, bahwa semua orang bisa jadi hero untuk sesama. Bahwa orang butuh bantuan pernafasan atau mereka yang tersedak, bisa kita tolong dengan BHD.

gus Wahid United

Hanya saja patut dicatat, tentu kita semua tidak menginginkan kejadian semacam ini. Amit-amit katanya, tapi kalau sudah ketemu ya wajib kita praktekkan kemampuan life skill ini. BHD ini sendiri sangat berguna bagi korban yang yang mengalami kesulitan pernafasan atau tersedak. Bayangkan saja, terlambat beberapa menit, nyawa orang bisa melayang lo.

Bayangkan saja, jika kita berhasil memberikan BHD dalam 1 menit pertama, 98% kemungkinan menyelamatkan jiwa. Sangat tinggi. Namun jika BHD telat diberikan 10 menit saja, kemungkinan suksesnya hanya 1%.

Tapi sebelum memberikan pertolongan, penuhi dulu nih syarat dan ketentuan ini (kayak iklan promo aja hihi). Bukan, maksudnya adalah penolong juga harus memperhatikan hal-hal berikut sebelum memberikan BHD:
- Dangerous: Pastikan penolong berada dalam kondisi aman dan tidak membahayakan diri sendiri.
- Response: Periksa respon korban apakah masih bisa menjawab ketika ditanya, apakah menunjukkan bagian yang sakit, atau justru tidak memberi respon.
- Shout: Selanjutnya panggil bantuan.
- Circulation: Lakukan penilaian sirkulasi. Kita bisa melakukan dengan meraba denyut nadi yang ada di leher dekat dengan bagian bawah dagu.
- Airways: Lakukan pemeriksaan jalan nafas.
- Compression: Kompresi Dada. Pastikan posisi tubuh tegak lurus, tangan atau siku tidak ditekuk.Tindakan paling penting pada bantuan sirkulasi adalah Pijatan Jantung Luar. Pijatan Jantung Luar dapat dilakukan mengingat sebagian besar jantung terletak diantara tulang dada dan tulang punggung sehingga penekanan dari luar dapat menyebabkan terjadinya efek pompa pada jantung. Penempatan pijatannya harus dua jari di bawah puting, dan jangan sampai salah memijat lo geshhh
- Breathing: Nilai pernafasan. Lihat apakah dada mulai naik turun, rasakan denyut nadinya apakah kembali muncul, dan rasakan apakah mulai ada hembusan nafasmya.
- Eh...sebelum menjalani semua tahapan itu, ada baiknya pakai sarung tangan steril ya demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Menariknya, kami juga diberi kesempatan praktek langsung terhadap boneka untuk memahami BHD
secara menyeluruh. Praktek memberikan bantuan bagi yang tersedak juga menarik. Pokoknya semua menarik, semenarik dirimu akanku...eaaaa.



Bangga Semarang
TINGGAL di Kota Semarang sejak mulai duduk di bangku kuliah hingga menikah lalu punya anak, tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Apalagi...(catet nih), dekat dengan Walikota dan Wakil Walikotanya, dikenal secara pribadi, membuat saya makin cinta dengan Semarang.

Dan semakin hari, cinta saya semakin tumbuh. Torehan prestasi dan keberhasilannya semakin membuat saya tersuruk tak mau pindah ke lain kota. Dari sisi kesehatan nih, sesuai penuturan Kadinkes Semarang Widoyono, angka harapan hidup telah naik drastis dari 77, 18 di tahun 2013 menjadi 77, 21 di tahun 2017. Tentu saja angka ini masih akan terus didongkrak naik dengan berbagai program terkait kesehatan yang digerakkan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang.

"Salah satu visi yang menjadi tolak ukur kerja keras Dinas Kesehatan Kota Semarang adalah untuk mewujudkan pelayanan kesehatan lima besar terbaik Se-Indonesia pada tahun 2021. Visi tersebut sudah mulai dipilah menjadi target-target yang harus dicapai setiap tahunnya," ujar Pak Wido, panggilan akrabnya.

gus Wahid United
Kadinkes Kota Semarang Widoyono aka Pak Wido
Iapun menjelaskan runtut beberapa pencapaian berupa inovasi layanan kesehatan yang sudah dilakukan oleh DKK Semarang, antara lain :
- Adanya Universal Health Care (UHC) yang sudah hampir 100% meng-cover seluruh warga kota. Dengan UHC maka semua warga dapat memperoleh pelayanan kesehatan dengan gratis melalui BPJS. Syaratnya cukup mudah. Calon peserta UHC yang merupakan warga kota Semarang, berdomisili di Semarang minimal selama 6 bulan, cukup menunjukkan KTP dan KK Kota Semarang sebagai bukti, dan bersedia ditempatkan di kelas 3.
- Ambulans Siaga yang diperuntukkan bagi pasien non gawat darurat.
- Si-Cepat atau Ambulans Hebat yang diperuntukkan bagi kasus gawat darurat.
- Motor Ambulans.
- KONTER (Konsul Dokter) dengan menghubungi 1500-123 untuk konsultasi kesehatan sampai menemukan panduan rumah sakit, dokter, dan apotek.
- Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK)
- PUSTAKA (Puskesmas Tanpa Antrian).

Dan DKK Semarang terus berinovasi, tak mau berhenti. Komando di tangan Pak Wali Hendi dan Pak Wido terus dipecut. Inovasi-inovasi terus digebar angka harapan hidup masyarakat Semarang terus menanjak naik.

Berbagai saranan layanan kesehatan juga terus ditambah. Di tahun 2018 ini, Semarang sudah memiliki 19 Rumah Sakit Umum, 37 Puskesmas, dan ada sekitar 2000-an dokter umum praktek yang tersebar di 16 kecamatan.

Dari 37 Puskesmas yang ada, 1 berstatus Puskesmas paripurna, 4 utama, 22 madya, dan 10 Puskesmas berstatus dasar. Semua Puskesmas tersebut bahkan telah terakreditasi. So kurang joss apalagi nih...kurang bangga bagaimana lagi dengan Semarang kita?

gus Wahid United
Dani Miarso

gus Wahid United
Kepala Bidang Yankes Bu Lilik 
Untuk teknis lengkap serta panduan BHD-nya, nih simak yang ini.


Share:
Read More
, ,

Trip ke Malaysia Hari 1: Menyusuri KL hingga Menara Kembar

gus Wahid United



PANGGIL ia Gus. Entah siapa nama yang sebenarnya. Toh juga menurut Shakespeare, what is the name. Mungkin hanya untuk KTP dan pemesanan tiket saja nama diperlukan. Selebihnya, panggil ia Gus, tidak lebih.

Ia juga bukan anak kyai atau pembesar agama lainnya yang biasa menggunakan nama panggilan ini. Mungkin hanya sekedar gagah-gagahan, karena faktanya, ia nyaman dipanggil panggilan itu.

Kini lelaki muda itu telah duduk di baris 27K di pesawat yang akan membawanya ke Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Sebelah kirinya telah lebih dulu duduk seorang bapak-bapak yang dari gerak-geriknya, tidak ingin diajak berbincang. Padahal dalam hati, ia ingin ngobrol sepanjang perjalanan, melupakan beban harus naik pesawat, suatu hal yang sangat tidak disukainya.

“Permisi, saya di duduk dekat jendela,” seorang perempuan berjilbab membuyarkan lamunan kekhawatirannya. Bapak di sebelahnya sudah lebih dulu memiringkan lutut memberi jalan, kini gilirannya.

Usai memberi jalan, kembali diraihnya Dear Nathan karya Erisca Febriani. Sepertinya ia sudah tidak ingin berniat ngobrol dengan siapapun, buku yang dibawanya terlalu menarik untuk tidak dihabiskan selama hampir 2 jam penerbangan ini.

“Ceritanya mirip Dylan 1990, sangat mirip bahkan. Tipikal anak muda tahun 90-an gitu deh.” Tiba-tiba gadis di sebelahnya memecah keheningan di antara mereka. Keheningan yang canggung mengingat phobia yang dialami Gus.

“Suka baca novel?” gadis itu melanjutkan pertanyaan.

“Tidak juga. Hanya untuk membunuh waktu. Saya hanya ingin segera landing, jadi saya piker membaca buku dan menghabiskannya akan membunuh waktu terbang,” ujar Gus sedikit berdiplomasi menutupi rasa takutnya.

“Ohhh. Kalau memang suka baca novel, cob abaca karya-karya Tere Liye atau Ika Natasha. Atau yang lebih lama karya si Ayu Utami atau Dewi Lestari, sangat berbobot. BTW, ke KL untuk urusan kerja?” gadis itu nyerocos.

“Ehm saya mau travelling saja.”

“Lo mas ini bloger? Atau vloger?”

“Ya dua-duanya gitu deh. Tapi kali ini sepertinya saya hanya akan menulis dan memotret. Cukup banyak utang video yang belum saya edit. Rasanya seperti dikejar-kejar tukang tagih tiap kali inget. Hehehe,” Gus terkekeh sendiri mengingat banyaknya deadline yang mesti diselesaikannya.

“Oh begitu. Kapan-kapan boleh dong saya kunjungi blog-nya. Saya juga suka baca-baca blog travel dan wisata, apalagi yang ditulis dengan cara berbeda tidak seperti kebanyakan. Bosen kalau hanya blog yang cerita aku kesini naik ini itu, di sana ngapain aja dan sebagainya. Semoga cerita mas tidak seperti itu, anti mainstream.” Pengucapan anti mainstream dirasa Gus seperti sebuah penekanan yang harus lebih diperhatikan. Tapi ia cukup percaya diri, blognya bukan ecek-ecek, apalagi blog yang mainstream seperti kebanyakan. Ia berbeda. Bahkan dalam kesehariannya, ia sudah ciptakan beda itu mulai dari style hingga gaya menulis.

Penampilannya memang cukup unik. Celana pendek, topi dibalik, t-shirt yang selalu bergambar MU atau jersey, menjadi pembeda. Ia coba pertahakankan brand itu selama ini, brand tentang Gus yang bloger penyuka MU.

“Ini kartu nama saya, silakan jika mau intip-intip blog saya. Lengkap alamatnya disitu beserta media kit-nya,” tuturnya sembari mengulurkan kartu nama dengan logo lelaki mengenakan topi terbalik bergambar MU memunggungi siapapun pembaca kartu nama ini.

“OK mas makasih, saya Riyanti,” si gadis mengulurkan tangannya. “Silakan dilanjut membacanya, saya menonton video saja.”
gus Wahid United

Tak ada lagi perbincangan setelah itu selain uluran bantuan memberikan makan siang dari flight attendant. Bagi Gus sendiri, ini bukanlah makan siang yang diidamkannya. Namun dengan menikmatinya perlahan, setidaknya itu bisa membunuh rasa takut terbangnya. Ia mencoba menikmati apapun yang ada pesawat ini. Apapun.

*

PERJALANAN menuju KL dilanjutkannya dengan menggunakan KLIA Express. Tiket seharga 55 MYR, dipilihnya dengan harapan segera sampai di hotel. Bukan pilihan terbaik sebenarnya karena masih ada moda lain yang lebih murah seperti KLIA atau bus. Ia sendiri tak memiliki banyak uang.

gus Wahid United

Beberapa ratus MYR menjadi uang saku selama perjalannya 4 hari 3 malam di Negeri Jiran ini. Perjalanan inipun bukan yang diharapkannya mengingat banyaknya utang deadline tulisan dan video yang harus dikerjakannya.

Namun dua pekan sebelumnya, sebuah email dari seseorang yang tidak dikenalnya tiba-tiba memberikan tiket pesawat Jakarta-Kuala Lumpur PP, termasuk kode booking hotel yang setelahnya diketahui berbintang 5. Hotel Majestic, salah satu yang terbaik di sini. Hotel bernuansa heritage yang dibangun pada 1928.

Meski ragu menerima pemberian ini yang dikatakan oleh si pemilik email sebagai hadiah, entah hadiah atas apa, Gus akhirnya menerimanya. Toh tidak ada yang akan membahayakan nyawanya. Jikapun membahayakan, ia juga sudah pasrah atas hidupnya kepada Sang Pencipta. Sebuah kejadian besar dalam hidupnya, membuatnya tak lagi takut akan kematian, meski tetap saja ia memilih takut terbang. Takut ketinggian lebih tepatnya.

Menerima ‘hadiah’ sendiri bukan tanpa tantangan. Pasalnya, Gus tetap harus mengatur sendiri itinerary-nya selama di KL, mengatur sendiri uang saku yang diambilnya dari jumlah tabungannya yang tak seberapa, menata sendiri jadwal dan waktu yang pas untuk berkunjung ke destinasi pilihannya.

Turun di KL Central yang merupakan stasiun terpadu dari seluruh kereta baik MRT, LRT, Komuter dan juga monorel ini, ia berganti kereta menggunakan Komuter KTM ke Stasiun Kuala Lumpur. Hotelnya hanya berjarak 200 meter dari stasiun itu, cukup berjalan kaki.

Proses check in selesai dan benar adanya, seluruh hotel sudah dibayar oleh si pemberi hadiah. Hingga saat itu, ia hanya berpikir si pemberi hadiah melakukan semua ini karena ulang tahunnya di awal bulan. Ia tidak terlalu yakin, tulisan blognya dapat memenangkan lomba dengan hadiah sebesar ini. Entah. Ia sama sekali tidak merisaukannya, hanya menikmati semua perjalanan ini. Toh hidup kadang penuh dengan kejutan, manusia hanya menjalani.

*

RISAU berada di kamar usai perjalanan panjanga mencapai 1.470 KM dari kota tinggalnya di Semarang, Gus beranjak. Usai mandi, solat dan berganti pakaian, ia memutuskan pergi ke pusat kota. Pusat Kuliner di Jalan Alor menjadi tujuannya.

Ia menyempatkan diri mengambil foto Crystal Fountain di depan KL Pavilion Mall. Sebuah karya seni yang menggambarkan 3 mangkok tersusun di tengah air mancur. Konon, ini merupakan perpaduan 3 ras yang menyusun Bangsa Malaysia yakni Melayu, India dan China yang rukun demi kejayaan negeri.

Beranjak ke Jalan Alor, di sana, ia menemukan beberapa makanan halal yang pas di lidahnya. Sup tomyam dengan tambahan omelet, nasi putih dan es teh tarik menjadi pilihan yang pas untuk mengisi perut yang terakhir disapanya dengan makanan dari pramugari. Total 44 MYR dihabiskannya untuk makan malam yang cukup nikmat terutama karena berada di sentra kuliner, berada persis di tengah jalan.

Usai menyesap sebatang rokok, ia beranjak. Belum sempat meraih dompet dari saku, seorang pemuda mendekatinya. Dengan bahasa yang tidak terlalu dipahaminya, pemuda itu membuka berlembar-lembar kertas foto berusaha menunjukkan gambar-gambar dari sepertinya sebuah panti asuhan. Gus menangkap maksudnya, pemuda ini meminta sumbangan.

gus Wahid UnitedNamun sebuah kode dari pramusaji membatalkan niatnya merogoh kocek untuk membantu. Tidak lama berselang, seorang pemudi gantian melakukan hal serupa, Gus menolak dengan halus. Silih berganti, kini pengamen datang lalu peminta-minta.

“Gak beda ama di Semarang dan Jakarta, banyak sekali pengamen dan peminta-minta datang saat orang sedang makan. Podo wae iwk,” ujarnya lirih dalam hati dalam logat Semarangan yang kental.
Tak menunggu lama, ia beranjak ke Jalan Sultan Ismail untuk memburu MRL. Tujuannya adalah Menara Kembar Petronas yang menjadi landmark kota ini. Letih yang dideranya membuatnya memilih sedikit mengeluarkan uang namun berhemat tenaga daripada harus berjalan kaki 1,6 Km melintasi KLCC menuju menara.

gus Wahid UnitedTurun di Bukit Nanas, Gus menyusur Jalan Ampang, langsung menuju angle terbaik untuk mengambil gambar menara yang pernah heboh di film Entrapment. Malam cukup larut, namun pemburu Menara Kembar masih banyak, masing-masing sibuk dengan kamera HP-nya, berselfie. Gus memilih di pojokan, mencari angle yang menurutnya paling berbeda.






Sedikit awan biru menyembul di pucuk menara. Arak-arakan awan membuat frame lensanya semakin menarik. Gus puas, ia kembali ke hotel, beristirahat dan tidur. Petualangan berikutnya sudah menanti.  

 
Share:
Read More
,

7 Mitos Melegenda dari Sumur Jalatunda

gus Wahid

Mengunjungi Dieng, belum lengkap rasanya jika belum mampir ke Sumur Jalatunda. Di sini, akan disajikan sensasi sebuah sumur raksasa dengan kedalaman sekitar 100 meter. Dengan HTM hanya Rp5 ribu per orang yang dikelola Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, pengunjung sudah dapat menikmati pemandangan luar biasa yang beda dengan destinasi lainnya.
Meski demikian, Sumur Jalatunda memiliki mitos yang bisa dipercaya atau tidak sama sekali, semua bergantung pada pemahaman kita masing-masing. Dan berikut tujuh mitos terkait Sumur Jalatunda.
1. Hasil Hitung Tangga Tidak Akan Pernah Sama
Jika anda sudah sampai di pelataran parker Sumur Jalatunda, jangan lupa mulai menghitung berapa jumlah anak tangganya. Menurut mitos, jumlah hasil hitung masing-masing orang tidak akan pernah sama. Jikapun sama, ketika dihitung kembali saat turun, pasti akan berbeda.
Secara logika, hal ini mungkin terjadi karena kita tidak fokus hanya menghitung anak tangga. Pasalnya, para pengunjung semestinya lebih focus untuk berwisata, berfoto dan sebagainya. Mungkin hasilnya benar-benar akan sama, jika proses penghitungan dilakukan berbarengan, serentak, tanpa melakukan aktivitas lain selain menghitung anak tangga.
Saya sendiri berhasil menghitung jumlah anak tangga di angka 87. Sementara beberapa rekan menghitung di angka 86 dan 88. Cobalah menghitung jika ke sini, lalu kita bandingkan hasilnya.
gus Wahid

2. Permintaan Terkabul Jika Dapat Melempar Batu Mengenai Dinding Sumur
Saat sudah sampai di atas, di gardu pandang, anda dapat melempar batu ke dalam sumur. Konon, jika lemparan kita dapat sampai ke dinding sumur di seberang, permintaan kita akan terkabul.  Benarkah? Wallahualam.
Yang jelas, saat itu saya melempar menggunakan pecahan genteng, dan tidak pernah dapat mencapai bibir sumur di seberang. Boro-boro mendekati, lemparan saya bahkan sudah terjatuh ketika melewati tengah sungai.
Logikanya memang benar, karena gaya gravitasi bumi menarik semua benda di atasnya. Selain itu, jika mempercayai mitos yang satu ini, tentu dikhawatirkan akan menjadi musyrik karena tentunya segala permintaan dan doa hanya dipanjatkan kepada Allah SWT.
Tapi kalau sekedar ingin mencoba dan menguji lemparannya, ya boleh-boleh saja kok. :D
gus Wahid

3. Merupakan Jalan Penghubung ke Laut Selatan
Satu kisah lain menyatakan, Sumur Jalatunda merupakan jalan penghubung ke Kerajaan Laut Selatan. Entah penghubung dalam artian mistis ataupun logis.
Yang jelas, kita semua harus percaya bahwa seluruh air di daratan, memiliki kaitan erat dengan air di lautan. Toh semua aliran air nantinya akan bermuara di laut kan? Jika ternyata lautan yang dimaksudkan adalah Laut Selatan (Samudera Hindia), mungkin karena secara geografis, Dieng memang lebih dekat ke selatan daripada ke utara (Laut Jawa).
4. Berasal dari Legenda Roro Jongrang dan Bandung Bondowoso
Namanya juga legenda, boleh percaya boleh tidak. Namun kisah ini melekat erat dalam keseharian warga Dieng.
Alkisah, Roro Jongrang membuat syarat yang tidak mudah bagi Bandung Bondowoso yang ingin meminangnya, yakni harus membuat sumur yang besar dan dalam. Dengan kesaktiannya, Bandung berhasil memenuhi permintaan tersebut. Namun dengan kecerdikannya, Roro memperdaya Bandung dan meminta masuk ke dalam sumur, lalu sesaat setelah masuk, lubang sumur ditimbun batu agar Bandung Bondowoso mati dan tidak dapat kembali ke permukaan.
Legenda ini senada dengan kisah adanya putri cantik namun buruk hati. Ketika hendak dipinang seorang pengeran, ia membuat syarat serupa, membuat sumur dan lalu mengubur sang pangeran di dalam sumur ketika ia turun ke dasar untuk mengeceknya. Kisah ini juga masih beredar luas di kalangan warga Dieng, sampai saat ini.
gus Wahid

5. Berasal dari Kawah Purba
Sebuah cerita lain menyebut, Sumur Jalatunda dulunya merupakan kawah purba. Karena sudah tidak aktif, lubang kawah yang menganga ini akhirnya dipenuhi dengan air tampungan hujan dan jadilah seperti telaga yang sekarang ini dalam dalam ukuran seperti sumur raksasa.
Kemungkinan adanya kawah purba, sangat logis mengingat Kaldera Dieng juga dimungkinkan dari hasil letusan gunung api purba maha raksasa jutaan tahun silam. Keberadaan kawah-kawah purba dan sisanya ini dapat dibuktikan dengan banyaknya lahan berbentuk ceruk besar di Dieng, seperti halnya di lokasi Kompleks Candi Arjuna, Bukit Pangonan, Sumur Jalatunda dan belasan kawah-kawah yang masih aktif di Dieng hingga saat ini.
6. Jangan Membuang Sampah ke Dalam Sumur
Barang siapa yang membuang sampah ke dalam Sumur Jalatunda, niscaya ia akan mendapat tuah atau balak (bahaya). Ya tentu saja, karena membuang sampah adalah tindakan yang kurang terpuji. Namun budaya masyarakat yang sering membuang sampah di sembarang tempat, sulit dihapuskan.
Mungkin dengan adanya tuah tersebut, warga dan wisatawan dapat berpikir dua kali untuk membuang sampah sembarang. Karena memang lebih baik membuang sampah di tempat sampah dan membuang mantan di kenangan hehe.
gus Wahid

7. Suasana Mistis Berkabut Selimuti Area Sumur
Suasana ini dapat kita jumpai di sore hari, kala kabut mulai turun. Di saat seperti itulah, nuansa dan suasana mistis akan sangat terasa. Apalagi ditambah keberadaan gapura berbentuk cantik di sisi utara pintu masuk.
Kabut dan candi, seolah menjadi perangsang mistis paling OK di Sumur Jalatunda. Entah benar atau tidak benar, kalau bicara hal-hal mistis, memang di sekitar kitapun banyak makhluk gaib, tidak hanya di sekitar Sumur Jalatunda
gus Wahid

Nah demikian tadi 7 mitos yang kental menyelimuti keberadaan Sumur Jalatunda. Percaya atau tidak percaya, kembali pada individu masing-masing. Yang jelas, kawasan Dieng memang selalu eksotis untuk dieksplor.
Selamat piknik!!
Share:
Read More
, ,

Pertautan Rasa di Atas Perahu Kali Serayu



USAI perjalanan jiwanya di Bukit Pangonan, Keenan masih melanjutkan hari-harinya. Namun kali ini ia tak sendiri, gadis idamannya sudah berada di sisi, untuk meneruskan sisa hari.

Berbunga-bunga hatinya. Tak pernah secerah ini. Langit Dieng masih dinaungi mendung, meski sesekali tertembus sinar matahari.

“Aku pengin rafting di Kali Serayu. Mumpung kita masih di sini, daripada nanti kita harus balik hanya untuk rafting. Kamu mau nemenin kan Keen?” tanya Aneesa kepada Keenan, sesaat setelah mereka menuruni kaki Bukit Pangonan.

“Tapi sebelumnya, kita antar mama, papa dan kak Adheera ke BIZ dulu ya,” imbuh Aneesa seolah sudah yakin kalau Keenan bakal setuju dengan idenya.

“Iya, aku manut kamu saja baiknya gimana. Eh apa sih itu BIZ? Atau bis? Ah aku ngikut kamu aja,” Keenan pasrah.

“Nanti kujelaskan di dalam mobil saja. Kamu gak bawa motor kan ke sini? Yuk ikut saja,” sergah Aneesa seraya menggandeng tangan Keenan ke parkiran mobil, tepat di bawah Pangonan.

Tak sulit bagi Keenan menangkap penjelasan tentang BIZ dari Aneesa. Jauh di luar dugaannya, BIZ atau Serulingmas Banjarnegara Interactive Zoo adalah kebun binatang paling beken di sini. Tidak sekedar tempat wisata tentunya dengan melihat 41 koleksi satwa, namun juga sarana rekreasi dan edukasi warga.

Sebanyak 18 jenis mamalia, 18 jenis aves dan 5 jenis reptil, menjadi penghuni paling menarik di sini.

“Kak Adheera mesti suka banget. Dia paling seneng kalau diajak ke kebun binatang liat macan hhahha. Ia bisa berjam-jam hanya melihat macan di kandangnya. Ya kan kak? Nah sembari mama papa nemenin kak Dheera, kita main rafting dulu, kan cuma 2-3 jam saja,” yang disebut namanya hanya tersenyum simpul, meringis lebih tepatnya. Sementara Keenan masih menatap kagum wajah teduh Aneesa yang selalu berbinar-binar setiap kali berbincang. Ia tak banyak bicara, namun matanya menyiratkan segenap makna tentang cinta.

Dan kini, gerbang masuk BIZ laksana 2 gading raksasa yang ditangkupkan, sudah menunggu.
Memilih menggunakan sarana odong-odong, ternyata membuat Adheera makin gembira, meski raut wajahnya masih datar. Gangguan autism tak mudah membuat Adheera menunjukkan emosinya. Tapi Aneesa tahu, mana yang dapat membuat kakaknya gembira dan sebaliknya.

Berkeliling ke seluruh kandang, rombongan kecil ini berhenti di depan kandang macan. Di sisi kandang besi berukuran 10x10 meter yang seluruhnya terkelilingi pagar kawat, Adheera berhenti. Matanya tak lekat menatap dua ekor harimau benggala, Aji dan Upik yang sedang santai merebahkan diri. Entah apa yang dipikirkannya, namun matanya jelas menyiratkan binar.

“Ini saatnya kita kabur dulu. Kak Dheera bisa berjam-jam duduk di situ melihat macan kok. Biar gentian mama dan papa yang nemenin, kita arung jeram dulu. Boleh kan ma?” Aneesa menggelendot manja di bahu mamanya.

“Boleh selama kalian berhati-hati, jangan sombong, takabur karena itu alam. Tidak bisa diterka. Dengarkan seluruh petuah mas-mas yang jadi tour leader-nya,” mama berpesan.

“Bukan tour leader atau gaet ma, mereka itu pemandu atau guard dan juga rescue. Jadi mama tenang saja, setiap perahu ada 1 pemandu kok. Kalau tour leader itu ya kalau kita piknik itu lalu ngasih penjelasan dan sebagainya. Kita kan gak piknik tapi arung jeram, jadi gak butuh gaet hehe,” Aneesa menjelaskan.

“Iya, apalah itu namanya.”

“Mending kalian segera berangkat, langit di Wonosobo sudah mendung banget tuh. Kalau di sana hujan, papa yakin kalian gak akan bisa rafting karena sungainya jadi banjir. Hulu Kali Serayu di Wonosobo kan?” papa dengan bijak memberi petuah, memberi izin berdasar. Gaya khas seorang ayah.

“Iya iya pah mah,” ujar Aneesa.

“Om, tante, kami pamit dulu. Inshaallah kami baik-baik saja. Kak Dheera, baik-baik di situ ya, jangan sampai macannya takut diliat kakak lama-lama seperti itu,” Keenan mencoba mencairkan suasana, memecah kekikukannya.

“Udah ah, daaaggg, jalan dulu ya. Nanti tak certain, tak bagi foto-foto rafting deh,” sedikit berlari, Aneesa kembali menggandeng tangan Keenan. Yang digandeng hanya manut, mirip dokar yang ditarik kuda, pasrah kemana dibawa.
*

JARAK dari Serulingmas ke Pikas, tidak jauh, masih di tengah kota. Tidak lebih dari 15 menit. Tentu ini menjadi kelebihan tersendiri bagi Banjarnegara memiliki destinasi-destinasi terpadu dengan jarak tempuh minim, namun maksimum akses di pusat kota.

Tentu ini berimbas positif bagi warga. Tak perlu jauh-jauh berwisata, semua ada di pusat kota. Dan tentu saja akan membawa indeks bahagia yang berlipat ganda, sebahagia hati Keenan dan Aneesa, setelah mereka berada di atas perahu, bersiap pengarungan, berbeda dengan malam sebelumnya yang memilih berendam di air panas D'Qiano.

Arus siang itu tak begitu deras, biasa saja sebiasa arus di sungai terbesar di Banjarnegara ini. Matahari juga tak begitu cerah, tersaput awan di beberapa sisi. Tak begitu banyak rombongan lain yang ikut rafting, hanya enam perahu bersama rombongan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara yang sebelumnya bersua di Bukit Pangonan dan berjalan bareng di Sumur Jalatunda.

Seluruh briefing keselamatan sudah diberikan. Tata cara mengayuh perahu, perintah-perintah yang mungkin disampaikan saat pengarungan, hingga tips agar tetap jika semisal terjatuh dan terbawa arus.

Di baris peserta, Aneesa lebih fokus mendengarkan sementara Keenan mengangguk-angguk seolah paham, sementara matanya lebih banyak mencuri tatap ke Aneesa di sisi kirinya yang kini telah mengenakan helm dan pelampung berwarna merah terang.


Keenan semakin kagum tatkala melihat Aneesa berbincang akrab dengan Mbah Roso, pemandu perahu karet mereka. Di sela aktivitasnya mengendalikan arah perahu mengarungi jeram, mereka nampak sudah mengenal satu sama lain. Gadisnya, pikir Keenan, memang istimewa, pintar, cantik dan mudah bergaul.

Sesekali di sela perbincangan mereka, perintah silih berganti disampaikan Mbah Roso. Guyonan, candaan dan tanya silih berganti, akrab membalut hati. Keenan semakin yakin, pilihan hatinya tidak salah.

"Awas jeram, boom masuk," Mbah Roso memberi perintah, memecah lamunan Keenan. "Yak, sekarang dayung maju lagi. Jeram Panjang sudah menanti di depan kita. Hati-hati dan bersiap ya. Kita sangat beruntung meski sedikit gerimis, tapi di Wonosobo tidak hujan jadi tidak banjir," lanjutnya.


Perahu melaju dengan kecepatan sedang, tak begitu kencang. Apalagi Jeram Panjang sudah menanti di depan. Keenan masih sempat melirik Aneesa yang duduk di kanan depan, tepat di sisinya ketika aba-aba dari Mbah Roso terdengar. "Boom masuk, boom masuk."

Aba-aba diberikan dengan segenap tenaga, namun tak cukup kuat mencegah Keenan untuk tak mengabaikannya. Ia masih sempat melirik Aneesa yang sudah lebih dulu jongkok di lantai, dan berucap "Ayo," namun terlambat.

Booom...perahu mereka menabrak batu besar, sesaat masuk di Jeram Panjang. Daya dorong arus kencang dan daya tolak batuan besar bertemu, membuat tubuh Keenan terpental keluar perahu, jatuh tertelungkup di dasar kali.

Sebercak warna merah segar memancar keluar di sela arus kali yang deras.

*
Gelap. Hanya itu yang diingatnya. Beberapa teguk air masuk melalui kerongkongannya yang terbuka. Benturan di kepala menyisakan nyeri yang membuat Keenan tersadar.

"Beruntung kamu hanya terbentur dan helmmu tidak terlapas. Kamu bai-baik saja kan Keen?" Aneesa terus berusaha menyadarkan lelaki di hadapannya ini. Wajahnya sendu, cemas berlebihan membuatnya kehilangan daya pikat, sorot matanya memudar, takut kenapa-napa.

"Ehmm aku dimana? Aku kenapa ini?" sesaat Keenan bingung

"Kamu di atas perahu rescue mas, kamu gak apa-apa. Cuma kaget terbentur tadi pas jatuh di Jeram Panjang, sempat pingsan. Tapi kamu baik-baik saja," tutur seorang pemandu.

"Keenan, kamu baik-baik kan? Jangan kenapa-napa ya. Aku takut kamu kenapa-napa," Aneesa nyerocos, kekhawatirannya sudah menurun beberapa detik usai Keenan tersadar.

"Iya mas, lain kali jangan melamun dan dengarkan komando dari pemandu ya. Kamu sering melamun atau jangan-jangan curi-curi pandang ke Mbak Neesa ya," Mbah Roso menimpali disahut teriakan gemas Aneesa sembari mendaratkan cubitan di perut Mbah Roso.


"Iya mas, mbak ini tadi panik banget pas mas kecemplung. Beruntung kami sebagai tim rescue cukup sigap. Kami memang selalu menempatkan diri di posisi depan sebelum perahu peserta masuk ke jeram. Kami berjaga. Makanya kami selalu duluan di depan kalian," pemandu lain yang sepertinya paling senior memberi pemahaman. Badge bertuliskan BannyuWoong Adventure, terpampang di lifejacket-nya. "Nah sekarang, mau dilanjutkan rafting-nya atau berhenti di sini saja?"

"Lanjut dong, kan belum sampai finish. Belum tuntas adrenalinnya mengarungi Serayu. Lanjut kan Keen? Kamu gak takut atau trauma kan? Ada mas-mas rescue ini kok. Tuh peralatannya lengkap, ada tali panjang juga yang siap dilempar jika kita terpental terlalu jauh. Ini aman kok," Aneesa mencoba meyakinkan.

Mengangguk pelan, Keenan bangkit. Dikencangkannya tali helm dan diperiksanya seluruh tali pelampung. Diraihnya dayung yang tergeletak di samping, sembari menempatkan ibu jari kanannya di bawah T-Grip. Tangan kirinya mantap menggandeng Aneesa, seolah ia tak ingin terlepas kedua-duanya.

"Aku siap. Kini kamu tak akan lagi dapat mengkhawatirkanku. Aku jauh lebih baik dan siap mengarungi apapun selama bersamamu. Kita akan baik-baik saja, berdua, bersama." **




* Catatan kedua Famtrip Bloger dan Media bersama Disbudpar Banjarnegara
** Tamat
- All photo by Bannyu Woong Adventure
Share:
Read More