,

Mendobrak Budaya Membuang Sampah



SAMPAH sudah menjadi persoalan besar bagi kita dan dunia dewasa ini. Kehadiran sampah yang tidak hanya dari limbah rumah tangga, menjadi hal yang harus dipecahkan dengan duduk bersama oleh banyak pihak.

Sampah bukan lagi musuh manusia namun sudah lebih massive menjadi musuh dunia terutama plastik. Dan bukan rahasia lagi jika banyak pemerintah di berbagai belahan bumi berusaha ‘memeranginya’.

Banyak dana dan anggaran dikucurkan. Mulai dari sekedar kampanye, hingga aksi-aksi sosial untuk mengatasinya.

Namun, volume sampah setiap harinya seolah tidak pernah berkurang. Bahkan cenderung bertambah.

Banyak pula bermunculan saat ini komunitas-komunitas yang mencoba memanfaatkan limbah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis. Namun gerakan mereka terbatas pada limbah-limbah plastik.

Ada pula kelompok-kelompok yang mencoba memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi kompos. Tentu juga terbatas dalam jumlah yang relatif kecil dengan komposisi sampah-sampah yang berasal daun.

Lalu bagaimana dengan jenis sampah lainnya. Bahkan kadang kita lihat ada sampah kasur terbawa aliran sungai, batang dan ranting pohon mengambang dengan santainya seolah tidak memiliki beban untuk menuju muara.

Setipis itukah kesadaran masyarakat dalam membuang sampah? Semudah itu pulakah sungai yang dulu-dulu mengalirkan air biru bening segar menjadi solusi praktis mengeyahkan sampah dari halaman belakang rumah?

Sampah jenis plastik menjadi persoalan paling serius dari berbagai langkah penanganan terkait sampah. Apalagi jamak diketahui, plastik menjadi musuh utama bumi kita karena sulitnya proses daur ulang yang harus ditempuh oleh tanah.

Melalui Perwal Semarang Nomor 27 tahun 2019, Pemkot Semarang mengeluarkan aturan untuk mulai mengatasi sampah. Pemakaian sedotan plastik, gelas plastik, tas plastik dan juga styrofoam, pipet dan lain-lain, mulai dibatasi.

Sanksipun diberlakukan. Pada tahap awal, pelanggar akan mendapatkan sanksi tertulis meningkat menjadi perintah paksa lalu pembekuan usaha hingga pencabutan izin usaha.

Para pelaku usaha menjadi bidikan utama sebagai penyumbang sampah plastik terbesar di kota ini. Hotel, restoran, rumah makan, café, penjual makanan dan toko modern diharapkan mulai membatasi penggunaan barang tak mudah diurai tersebut.

Solusipun ditawarkan. Tidak saja mengajak komunitas turut serta, namun juga memberi contoh.

Dalam suatu event, masyarakat diajak mengumpulkan sampah plastik dimana satu kantong sampah yang dihasilkan ditukar dengan satu gelas kopi gratis. Dalam kesempatan lain, Pemkot Semarang memberi contoh distribusi daging kurban menggunakan besek dan pembungkus dari daun pisang.

Efektifkah? Iya saat itu. Entah karena dipandegani langsung oleh Bapaknya Wong Semarang atau karena memang semangat mendapatkan secangkir kopi gratis.

Penggunaan besek dan daun pisang juga meningkat drastis. Setidaknya selama sepekan Lebaran Qurban, volume penggunaan besek dan pembelian daun pisang serta daun jati di pasar tradisional meningkat pesat.

Tidak itu saja, Pemkot Semarang juga sudah membangun PLTSa, sebuah penghasil listrik dari tenaga sampah. Warga sekitar juga sudah memanfaatkan biogas menjadi energi yang diubah untuk memasak sehari-sehari.

Namun setelahnya apa yang terjadi? Perilaku dan pola hidup masyarakat dalam menggunakan plastik berulang kembali.  

Volume sampah di TPA Jatibarang sebagai tempat terakhir bermuaranya seluruh sampah di kota ini menjadi normal di angka 4 juta kubik per hari. Jumlahnya tak pernah benar-benar berkurang.

Mengubah Perilaku Membuang Sampah

Mengatasi persoalan sampah memang sepertinya tidak akan benar-benar dapat sempurna, total sepenuhnya bersih. Sekeras apapun usaha pemerintah dalam menerapkan larangan, sanksi dan hukuman, jika faktor perilaku ini tidak mendapat sentuhan, hasilnya tetap saja nol besar.

Pemkot Semarang bahkan memberlakukan sanksi denda Rp50 juta bagi warga yang tertangkap basah membuang sampah. Tapi tetap saja masih ditemui perilaku yang berulang sama, membuang sampah sembarangan.

Tapi iya benarkah ini soal perilaku? Jangan-jangan ini adalah budaya yang sudah mendarah daging di masyarakat?

Pasalnya selama ini, cukup banyak sentuhan personal baik melalui media, campaign maupun aksi nyata di lapangan, halus maupun frontal. Namun para pembuang sampah tidak pernah surut langkah.

Seakan tanpa beban dosa mereka melakukannya. Tak pernah ada pikiran bahwa anak cucu mereka kelak masih ingin menikmati keindahan dunia.

Lebih menyedihkan lagi, saat Indonesia sedang berbenah menjadi destinasi utama wisata dunia, perilaku masyarakatnya belum dapat berubah. Sampah dimana-mana dan menjadi keluhan utama para turis mancanegara.

Sebagai permulaan, tak perlu kita melihat lebih jauh. Mulai dari diri kita sendiri.

Membiasakan diri lalu membentuknya menjadi pola hidup yang lambat laun menjadi budaya yang akan kita wariskan ke anak cucu, menjadi pilihan terbaik. Jikapun kita belum membuat kompos dari sisa daun atau barang-barang bernilai ekonomis dari sampah plastik, kita dapat mengawalinya dari mengubah perilaku kita sendiri dalam keseharian?

Sudahkah kita membuang sampah pada tempatnya? Sudah kita membiasakan diri memberi contoh pada anak-anak kita akan kebiasaan positif?

Jikapun beranjak lebih jauh, sudah kita mengelola sampah rumah tangga kita menjadi barang-barang yang lebih berarti? Namun jika belum mampu, dua hal tersebut di atas cukuplah berarti.

Tak perlu janji, mari kita beri bukti. Ibu Pertiwi menanti…


Referensi:



Share:
Read More

Saparan: Pesan Persaudaraan dari Lereng Merbabu


SENIN siang itu cukup terik. Apalagi sepekan terakhir, matahari sedang berada di titik terdekat dengan khatulistiwa.

Serasa di ubun-ubun, panasnya menyengat, menghasilkan peluh yang menderas. Berkali-kali menyeka keringat, bukan berarti langkah kami surut.

Menyusur jalan kampung yang berdebu di penghujung kemarau ini, kami bergegas. Masih banyak rumah yang harus kami kunjungi, beradu lalang dengan ratusan warga lainnya.

Apalagi masih menumpuk jajan yang musti kami icipi. Belum lagi menu-menu lezat seperti opor ayam, rendang daging atau telor balado bahkan bakso, serasa menanti kedatangan kami.

Tapi ini bukan Lebaran. Syawal telah jauh ditinggalkan, sekira 4 bulan di belakang. Senin legi 28 Oktober ini, tepat pula jatuh pada 29 Safar 1441 H.


Inilah Saparan. Sebuah tradisi yang terus dijaga hingga kini oleh warga Desa Sumogawe, Getasan Kabupaten Semarang.

Di sini, tak perlu menunggu lebaran untuk bersilaturahmi. Di tempat ini, semua makanan tersaji free tanpa harus menanti datangnya hari fitri.

“Saat Saparan, semua kolega, kerabat dan teman dekat kami undang hadir untuk memperpanjang silaturahmi dan kekerabatan,” Maman, warga Krajan Sumogawe yang menjadi tujuan pertama saya mulai berkisah.

Saparan bagi warga Sumogawe adalah lebaran ketiga setelah Idul Fitri dan Idul Adha. Di saat inilah seluruh warga membuka pintu rumah lebar lebar-lebar, tak lupa karpet dan tikar juga digelar.


Aneka rupa jajan tersaji, menunggu disantap sembari berbasa-basi. Di ruang makan, menu-menu masakan berat menanti dicicipi, menahan gejolak perut agar segera diisi.

Tapi tunggu dulu. Tak terlalu bijak menyantap semua menu yang tersedia. Pasalnya, warga lain juga menyediakan menu serupa dan tak berkah jika semua sajian warga yang dikunjungi tak dirahapi.

“Saat open house seperti sekarang ini, semua warga Sumogawe berada di rumah. Yang kerja ya libur demi menunggu tamu-tamu yang akan berkunjung. Dan semua tamu, wajib makan di setiap rumah yang mereka kunjungi karena Saparan adalah wujud syukur warga atas nikmat Illahi,” imbuh Maman seraya mempersilahkan rekan-rekan kerjanya di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Salatiga menyikat habis semua sajian.


Sebelumnya, seluruh warga telah berkumpul di tetua kampung. Bersama mereka menggelar kenduri dan merti bumi, memberi sesaji dari daging ternak dan hasil bumi.

Kirab budaya seluruh tua muda bahkan anak-anak menjadi penanda, betapa rasa syukur adalah segalanya. Pun mereka tak lupa berdoa, tilik kubur dan ziarah dikemas dalam nyadran, tepat sepekan sebelum Saparan.

“Kalau di Dusun Magersari, Saparan-nya jatuh pada setiap Rabu pon bulan yang sama. Jadi masing-masing Saparan di berbagai dukuh di Sumogawe tidak bareng. Kami jadi bisa saling berkunjung, bergantian silaturahmi antar warga dusun. Prosesinya juga sama, diawali dengan merti bumi dan kirab budaya,” ungkap Tiyo, warga Magersari.

Kyai Sumokerti dan Nyai Gawe, pasangan pendiri Desa Sumogawe, pasti bangga dengan polah tingkah cucu cicit mereka. Di tengah gejolak dan syahwat negeri yang rakyatnya mudah tersulut emosi, Sumogawe membawa pelita keharmonisan, persaudaraan dan kebersamaan.

Bahwa open house bukan sekedar milik mereka yang berlabel pejabat. Bahwa sebenarnya amatlah mudah membuat Nusantara ini bahagia, selama masing-masing manusianya memegang teguh aturan dan adat budaya.

Pesan persaudaraan dari lereng Merbabu ini, layak kita bawa ke penjuru negeri. Mengabarkan sekaligus menyebarkan virus arif lokalnya tradisi Saparan.

“Satu rumah lagi sepertinya masih mampu mas perutnya, tadi aku sengaja makan dikit-dikit kok biar muat banyak. Mumpung gratis lo,” rayu seorang rekan.

Tidak. Gumamku lirih bergeming.

Saya terlalu tidak sabar ingin segera mengabarkan tentang Saparan kepada dunia. Tentang semangat persaudaraan dan nguri budaya dari Sumogawe yang ternyata tak hanya dikenal atas produksi susu sapi perah dan Pokdarwis Ken Nyusu-nya.

Saya sangat bersemangat untuk Sumogawe...

Share:
Read More
, , ,

Hidup Seperti Rollercoaster (Catatan Perjalanan ke Kawah Ijen)




HIDUP itu seperti rollercoaster, naik turun, tidak selalu di atas namun juga tidak melulu di bawah. Kadang kencang, kadang pelan, sesekali menegangkan, meski banyak juga yang membosankan.
Saya sepakat itu. Bahkan hitungannya tidak lagi tahun, tapi bisa dalam kurun waktu beberapa jam.
Seperti yang saya alami dalam trip ke Ijen Banyuwangi, akhir Agustus lalu. Bahwa sehari sebelumnya saya masih staycation di hotel bintang lima, dimanjakan dengan fasilitasnya, nongkrong bersama kawan di cafe ternama, hidup saya mewah.
Ya untuk saat itu, dua hari itu saja saya berada di kasta teratas kehidupan. Selebihnya ya karena memang saya tidak mampu bergelimang kemewahan bintang lima, ya wajib disyukuri ketika ada yang mentraktir menginap di situ.
Kehidupan saya berputar cepat. Usai melepaskan diri dari rombongan, saya sudah langsung berada di level terendah tatanan social kita.
Dari yang naik bus umum dengan label ekonomi, hingga ojek menuju Paltuding seharga 200K. Itupun awalnya masih saya tawar lo. Dan setelah tahu jarak tempuh yang sebenarnya, saya cukup menyesal hanya memberi di nominal itu.
Bayangin saya, turun bus di pertigaan Pos Gathak, Bondowoso, jarak ke Paltuding masih sekitar 58Km. Dengan posisi jam di angka 17.30, mau tak mau pilihannya hanya ngojek atau nginap di sini karena saya terlanjur memilih jalur Bondowoso.
Jarak mungkin sesuatu yang bisa ditempuh, iya. Tapi demi mengingat rute, jalur berkelok naik turun, hutan dan senyap serta rasa cemas khawatir akan adanya tindak kriminal, jelas jika saya jadi pengojeknya, sayapun tak mau hanya diberi bayaran 200K.
Bahkan 500K jika mengendarai sepeda motor, saya masih akan menolak. Adoh tenan kas, adem san!! Ya maklum lah, jalurnya menuju titik pendakian terdekat ke Ijen yakni Paltuding, jauh, berkelok dan menanjak sangat dingin.
Pun ketika di Paltuding, hidup saya sudah mulai berubah lagi. Batasan memulai pendakian jam 01.00 WIB, membuat semua wisatawan atau pendaki harus bersabar.
Mereka bisa tinggal di hotel, homestay, tidur di dalam mobil jika bawa kendaraan pribadi atau seperti saya menghabiskan waktu berbincang dengan pemilik warung dan beberapa teman baru. Badan saya memang penat sejak perjalanan pagi sebelumnya dari Batu, Malang yang total butuh waktu hampir 10 jam dengan angkutan umum.
Tapi rasa penasaran, passion untuk melihat eternal blue fire, jauh mengingkari rasa capek. Bahwa sudah sejak 20 tahun silam saya mendambakan memotret api biru abadi yang hanya ada dua di dunia ini, tak terbendung. Kalau di Indonesia ada, ngapain juga harus ke Islandia kan?!

Bermula dari sebuah majalan fotografi, tulisan dan foto blue fire terpampang. Fotomedia namanya, sekarang sudah almarhum, menyebut destinasi di Banyuwangi adalah satu dari list yang harus dikunjungi wisatawan terutama penghobi fotografi.
Pun ketika rekan perjalanan saya dari pos I sudah menghilang karena terhambat dan berjalan lebih lambat, saya terus menanjak sendirian di tengah keramaian. Ritme dan tempo berjalan tak pernah saya ubah sebagai bentuk penghematan atas nafas yang tersengal dan usia yang tak lagi bisa dibilang remaja. (Ya iyalah, anak saya sudah 3 je)
Dua jam berikutnya, hidup saya sudah kembali berputar. Pengalaman, tantangan dan petualangan yang saya damba dua dekade terakhir, terpapar jelas, memuaskan semua raga di tengah lelah dan kengerian medan menuju si api biru yang bahkan sebenarnya tidak jauh beda dengan nyala api gas elpiji di rumah.
Ya memang bener sih, blue fire tak beda dengan LPG. Yang bikin mereka tak serupa adalah, blue fire ini muncul dari sela bebatuan di Kawah Ijen dimana untuk mendapatkan fotonya saja, kita harus bersaing keras dengan kepulan asap belerang yang tak segan membuat nafas sesak.
Lebih dari itu, api ini sudah menghilang jika sudha lebih dari jam 04.30. Ya wajar memang, nyala birunya sudah akan terbias matahari jika lebih dari waktu tersebut.
Aktivitas penambang belerangpun tak kalah indah diabadikan. Mereka yang berjuang demi hidup dengan pertaruhan kesehatan yang terus menerus terpapar asap belerang, taruhan nyawa melintas jalan setapak di tebing dengan membawa kurang lebih 150Kg belerang di pikulan kiri dan kanan, juga merupakan pilihan momen bagus untuk diabadikan.

Dan ketika hidup adalah pilihan; memilih blue fire atau sunrise Ijen, pada akhirnya saya memilih tidur di sela bebatuan. Terhindar dari asap belerang, keramaian serta heboh ribuan manusia yang berfoto dengan latar belakang si api biru, saya memejam barang sejam.

Saya baru ingat, saya belum merem sekejappun sejak lepas dari hotel bintang lima di Batu, di hotel yang juga diinapi Ibu Menkeu Sri Mulyani malam itu. Lebih lagi, saya tipe yang tidak bisa merem di tempat yang tidak bisa selonjor atau dengan kata lain harus tidur di tempat yang bisa dihinggapi dengan nyaman (baca: posisi tidur mengkurep kalau bisa lengkap dengan memeluk guling dan lalu mengilerinya).
Dan lagi-lagi hidup adalah pilihan, untuk terus berputar seperti rollercoaster atau berbaring nyaman di dasar bebatuan Kawah Ijen. Saya harus ingat bahwa saya harus pagi-pagi turun ke Banyuwangi jika memang hendak melanjutkan petualangan ke Baluran.
Di sana...petualangan baru sudah menunggu.

Jangan lupa pula mampir di channel Youtube gus Wahid United ya gaess...


Share:
Read More

Diplomasi Patah Hati



BAGI sebagian (besar) orang, patah hati adalah bencana. Lebih beresiko mungkin dari seluruh bencana alam yang ada di muka bumi.
Itulah pula mengapa, pedangdut kesohor tanah air Alm Meggy Z lebih memilih sakit gigi daripada patah hati. Putus cinta adalah duka tak berkesudahan, menurutnya.
Sementara sakit gigi, paling banter hanya bertahan sepekan. Setelahnya normal lagi, ketawa lagi, beda dengan putus cinta yang bisa menahun.
Awalnya juga demikian, saya pikir saya akan tersuruk poranda di lembah duka. Pasca putus dari mantan (ya iyalah mantan, kan sudah putus yeee), saya tak akan lagi dapat melihat cerahnya surya, indahnya dunia (lebay dikit ah).
“OK kita putus. Baik-baik!” kata baiknya diucapkan dengan penekanan mendalam, menjurus ketus.
Lunglai beberapa jam mendengar maklumat tersebut, saya terkesiap. Sepertinya, perasan ini pula yang dirasakan tentara Jepang saat mendengar Indonesia merdeka dari RRI kala itu.
Atau hancurnya perasaan warga Amerika saat John F Kennedy tewas ditembak. Ditimpuk dengan isu perselingkuhannya dengan Marlyn Monroe, tersuruk sudah.
Tapi bukan Wahid kalau hanya menangis di sudut ruangan. Bukan saya itu kalau hanya meratap melihat atap yang dipandang sampai ubananan pun tak akan pernah berubah, tetap plafonnya berwarna putih lethek saking banyaknya sawang rumah laba-laba.
Hari kedua saya bangkit. Masih bingung mau berbuat apa. Biasanya, hari-hari gini ada dia yang menemani, kini harus sendiri.
Menata hati, saya beringsut. Meski mirip siput, perlahan namun pasti.
Tetap saja bingung mau berbuat apa. Nanar menatap sekeliling, mata tertancap pada deretan buku di lemari. Sudah lama saya tak membaca.
Jadi teringat, kami dulu  rajin berburu buku. Ya, hanya berburu. Buku yang terbeli, hanya menambah daftar koleksi, selebihnya kami lebih sering berdua daripada membaca.
Atau kalaupun membaca, ya lebih sering saling membaca mata, meresensi isinya lalu mengartikan maksudnya yang sebenarnya juga saling paham. Ah sudahlah, jadi ingat lagi kannn...
Lalu bukunya? Hehe lupa. Terserak di samping pergumulan kami. Perburuan buku seolah hanya jadi stimulan bahwa kami pasangan serasi, kemanapun berdua tak bisa dipisahkan.
Eh eh...ternyata sudah dua buku sudah habis saya baca dalam sehari. Padahal jika lagi normal, satu buku biasa saya lahap dalam satu pekan. Hehe maklum lagi gak waras...
Saya bosan, mencari sesuatu yang pula jarang saya lakukan. Momentum putus cinta, selayaknya adalah melakukan hal-hal yang jarang kita lakukan.
Lagi-lagi, proses cuci motor juga sudah rampung kurang dari 1 jam. Padahal 2 motor sekaligus saya usap dan saya sabun, yang bahkan saya lupa mensabun diri saya sendiri. Mandi maksudnya, jangan ngeres aja tuh pikiran.
Bersih atau kurang bersih ya dimaklumi saja, namanya juga lagi putus cinta. Sudah bagus lo mau tandhang gawe dan bukannya nangis doang di pojokan kan.
Dan ketika genap satu minggu, ternyata sudah ada 3 tulisan yang siap tayang di blog. Dan saya sendiri tidak mengetahui, bagaimana saya seproduktif ini. Sebelumnya? Boro-boro satu minggu satu tulisan, dalam sebulan saja belum tentu saya menghasilkan :D
Pas saat jatuh cinta, seolah dunia milik berdua. Semua yang kita lakukan, terfokus kepadanya. ‘Dia’... seolah adalah ‘NOS’ bagi pembalap Nascar, menjadi ‘Muse’ bagi Mozart dalam mencipta karya.
Seharusnya sih demikian. Tapi kalau kita buta dan lebih menghabiskan waktu berdua, ya mandeglah proses produksi. Kini saya bayar semuanya ketika putus cinta.
Lalu, apakah iya kita harus putus cinta dulu agar bisa over produksi?


Share:
Read More
,

Pesona Lighting Waterfall Curug Gondoriyo



gus Wahid United


SEBUAH destinasi wisata baru yang unik, berbeda dan inovatif segera lahir dari Kota Semarang. Ya, destinasi Curug Gondoriyo menawarkan sensasi berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya.

Perpaduan air terjun, tata kelola lampu dan wisata malam, dipastikan akan menarik minat pengunjung. Dan memang, curug setinggi 25 meter di Dusun Karang Joho, Kelurahan Gondoriyo di Ngaliyan ini memang berbeda.

Keberadaan lampu warna warni menyorot sisi dalam air terjun, akan membuat mata jatuh cinta. Lensa kamerapun tak ikut berhenti mengabadikannya.

Dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Curug Gondoriyo Arifin, destinasi ini baru akan dibuka secara resmi pada Februari mendatang. Pengelola saat ini masih mematangkan berbagai persiapan serta story telling terkait spot di sekitar curug.

“Nanti akan kami buka untuk umum pada 9 Februari. Ada dua jam kunjungan yakni pagi mulai jam 09.00-17.00 dan malam mulai 19.00-24.00,” terang Ketua Pokdarwis Curug Gondoriyo Arifin.

Dipastikan, dalam mengelola dan tata lahan, pihaknya tidak akan mengubah estetika ataupun merusak alam. Dan sejak setahun silam, pihaknya terus bahu membahu bersama warga dan pemerintah untuk menyiapkan curug ini sebagai destinasi wisata unggulan di Kota Semarang.

Selain keindahan curug, di sisi kiri, pengunjung juga akan menemui sebuah gua setinggi 10 meter dengan lebar 3 meter dan kedalaman 2,5 meter. Di dalamnya terdapat sebuah batu yang mirip meja besar dan patung mirip kepala primata.

Dimungkinkan, gua ini semacam tempat pertemuan rahasia atau persembunyian sementara. Keberadaan batu seperti meja besar menjadi penandanya.

Kabarnya di sisi kanan curug juga ada gua yang hanya dapat dilihat secara mistis. Jadi, hanya mereka yang memiliki indra keenam saja yang dapat melihat bentuknya, kalau aku sih hanya temannya Indra hahaha.

Tidak hanya itu, ada pula batu tumpang yang meski saling bertumpuk, namun batu yang atas tidak jatuh. Konon makhluk gaib penunggu batu ini seringkali mengingatkan pengunjung atau warga yang melintas dan memiliki niat buruk, agar mengurungkan niatnya.

“Konon ada gembala yang tidak tahu bahwa di bawahnya ada jurang curug dan ia terus berjalan. Karena bisikan gaib, ia memang terjatuh namun hanya tersangkut di akar rerumputan dan tidak terjerembab ke dasar curug sehingga ia selamat. Jadi kalau ada sepasang muda mudi pengin berniat burukpun, akan diingatkan lebih dulu,” imbuh Arifin.

Menariknya lagi, ada juga fosil kayu jati raksasa sepanjang 25 meter yang berbentuk seperti saluran. Air yang mengalir kabarnya dapat mengairi sawah seluas 50 ha. Saluran ini diberi nama Talang Londho.
gus Wahid United

Lebih dari itu, Pokdarwis juga telah menyiapkan jembatan comblang yang dimasudkan agar pengunjung dapat lebih mesra kepada pasangan maupun calon pasangannya. Layaknya Mak Comblang, para muda mudi yang jomblo dapat menemukan jodohnya di sini, sedangkan bagi yang sudah berpasangan dapat lebih mesra kepada pasangannya.

Di ujung jembatan bambu ini sudah disiapkan gembok cinta untuk mengunci cinta masing-masing pasangan yang melintas di Jembatan Comblang. Untuk selanjutnya, mereka dapat bersantai di gazebo yang diberi nama Gubuk Patemon.

Ada juga pemandian Kali Anyes yang mata airnya tidak pernah kering meski di musim kemarau sehingga sangat membantu kebutuhan air warga sekitar. Lebih dari itu, air dari mata air ini sangat dingin layaknya air es.

Konon bagi yang memiliki hasrat dan keinginan, dapat membasuh muka atau mandi sekaligus memohon kepada Yang Maha Kuasa, niscaya akan dikabulkan. Benar atau tidak, tentu saja itu kembali kepada pribadi masing-masing.

Dari sisi kuliner, pengunjung akan disuguhi nasi bleduk. Makanan berbahan dasar nasi jagung ini akan disuguhkan bersama urap sayuran serta ikan wader dan bacem tahu tempe.

Sedangkan wedang sinom merupakan air rebusan pucuk daun asam yang diolah bersama gula jawa. Minuman ini dipercaya sangat baik untuk kesehatan terutama untuk lambung.

gus Wahid United

Tertarik? Cobalah berkunjung ke sana dimana masing-masing pengunjung cukup mengeluarkan ongkos tiket Rp10 ribu dengan fasilitas free wedang sinom. Jam kunjungnya untuk siang adalah jam 09.00-17.00 dan untuk malam hari mulai jam 19.00-22.00.

Untuk akses menuju ke Curug Gondoriyo, kita dapat  mengambil rute dari Ngaliyan menuju kawasan BSB. Tepat sebelum LP Kedungpane, langsung berbelok ke kanan menuju lokasi dengan kondisi jalan yang sangat baik dan dapat dilalui kendaraan roda empat.

Pengunjung bahkan dapat langsung memarkirkan kendaraannya di lokasi parkir tepat di atas curug dan tidak perlu berjalan jauh untuk melihat keberadaan air terjun ini kok.


gus Wahid United

gus Wahid United

Baca juga:
- https://www.hidayah-art.com/2019/02/wisata-kekinian-di-air-terjun-gondoriyo.html
- https://www.doyanjalanjajan.com/2019/02/lighting-waterfall-di-curug-gondoriyo.html


Share:
Read More
,

Pertaruhan Cinta ASUS ZenBook Pro UX580


“Tidak, kita putus!” teriakmu pagi itu, usai diskusi kecil kita.

“Ya tolong hormati keputusanku. Cowok itu secara syar’i memang diperbolehkan memiliki lebih empat. Dan dia sudah jadi pilihanku, aku juga harus memperjuangkannya,” kilahku, kembali ke topik perdebatan.

“Tapi kamu sama sekali tidak menghargai perasaan wanita jika seperti itu namanya. Kamu egois. Aku sudah tidak mau lagi bersama lelaki egois sepertimu,” emosimu terus meledak, tak bisa kucegah. Aku bisa apa jika memang itu keputusanmu. Toh keputusanku juga sudah bulat, sama halnya sepertimu, tak bisa lagi dibendung. Maafkan aku sayang.

Kuambil tas kecil warna hitam, kuraih kamera dan kukeluarkan lensa dari dalam tas ransel. Tas kecil ini lebih praktis untuk acara santai seperti gathering bloger Asus ini.

“Aku bareng, aku malas naik ojol,” ujarmu merajuk menghentikan langkahku. Kutoleh dan kulihat wajahmu masih memerah, marah.

“Tapi kan kita baru saja putus. Apa tidak ada baiknya kita berangkat ke Gets Hotel sendiri-sendiri?” kilahku. Kubayangkan akan ada ceramah panjang lebar selama perjalanan nantinya. Setirku pasti akan terganggu dengan omelannya.

“La emang kalau orang putus, tidak boleh bareng? Jadi gitu? Kamu semakin egois? Atau jangan-jangan, kamu sudah punya pacar bloger lainnya,” ucapan dan emosinya semakin meledak, makin merembet kemana-mana. Bahkan sampai hal yang tidak berkaitan dengan tema perdebatan.

“Ya sudah deh. Ayo. Aku panasin mesin mobil dulu,” aku mengalah, menghindari debat berkepanjangan. Toh akhirnya wanita yang akan menang huh.

Langkahku gontai, sedikit bingung. Apa sebenarnya maumu wahai wanita. Sedetik kamu minta putus, sejurus kemudian minta bareng. Itu artinya, akan 15 menit perjalanan bersama mantanmu yang belum satu jam kau putus ini lo. Belum lagi kita harus menghadiri Year End Microsoft Blogger Gathering ini, sekurangnya 4 jam kita akan ada di dalam ruangan yang sama, dengan mantan kita. Duh...

“Nanti pulangnya aku juga bareng!”

Kalimatmu sedikit ngegas, untung saja rekan bloger yang sedang mengisi daftar hadir, tak mendengar nada sedikit memerintah itu, mirip nada yang disampaikan ibu-ibu pejabat ke sopirnya yang memiliki bau badan menyengat. Duh...aduh.

*
gus Wahid

“Jadi, Zenbook Pro UX580 merupakan laptop pertama dengan dua layar di Indonesia. Layar kedua ini disebut touchpad,” Oom Yahya membuka gathering pagi itu - sebagai pembicara pertama - dengan kalimat yang membuat semua yang datang melongo. Teknologi apalagi ini?

Iya, jadi ternyata ZenBook Pro UX580 ini hadir dengan fitur ScreenPad, spesifikasi premium dan layar 4K dengan reproduksi warna sangat akurat. Sebuah laptop kelas premium yang hadir dengan spesifikasi lebih tinggi dari seri ZenBook lainnya dan ditujukan untuk pengguna profesional, terutama mereka yang bergerak di industri kreatif seperti 3D designer, video editor dan fotografer.

ZenBook Pro UX580 juga merupakan laptop pertama di dunia yang hadir dengan ScreenPad, yaitu touchpad yang bisa difungsikan sebagai layar kedua. ScreenPad merupakan inovasi terbaru ASUS yang ditujukan untuk meningkatkan pengalaman serta produktivitas penggunanya. Oom Yahya masih melanjutkan dan kami semua terbengong, melongo dengan benar-benar ngowoh tanpa dibuat-buat, beruntung tak sampai ngecess..

"ASUS ZenBook Pro UX580 tampil dengan bodi berbahan metal yang solid dibalut warna Deep Dive Blue yang elegan. Bentuknya juga sangat ringkas dengan ketebalan yang hanya 18,9mm dan bobot hanya 1,88kg, sehingga mudah dimasukkan ke dalam tas dan mudah dan tidak terlalu merepotkan untuk dibawa bepergian," imbuhnya makin bikin mupeng.

Meski memiliki bentuk yang ringkas, ZenBook Pro 15 UX580 masih tampil dengan layar yang lebar. Layar resolusi ultra tinggi yakni 4K memiliki ukuran bentang 15,6 inci namun hadir dengan bodi seukuran laptop yang umumnya hanya mengusung layar 14 inci.

Hal tersebut dimungkinkan berkat teknologi NanoEdge yang membuat bezel layar di laptop ini bisa tampil dengan bezel hanya 7,3mm dan screen-to-body ratio sebesar 83%. Tidak hanya itu, ZenBook Pro 15 UX580 juga sudah mengantongi sertifikasi standar militer MIL STD-810G yang membuktikan laptop ini telah lolos pengujian ekstrem seperti tes ketinggian (altitude test) dan tes suhu (temperature test).

Terkait ScreenPad, teknologi ini merupakan fitur inovatif yang membuat touchpad bekerja secara lebih pintar. ScreenPad juga memiliki beragam fungsi yang bisa digunakan untuk menunjang produktivitas bahkan memungkinkan pengguna untuk mengubah tampilan touchpad dengan menambahkan wallpaper.

Selain itu, ScreenPad juga bisa digunakan sebagai layar kedua. Lewat mode Screen Extender, pengguna bisa membuat ScreenPad layaknya layar tambahan untuk ZenBook Pro 15 UX580 ini.

"Dengan demikian, semua aplikasi yang ada di desktop bisa ditampilkan di ScreenPad layaknya ditampilkan di monitor terpisah," pungkas Oom Yahya seraya menyebut harga jual di Rp35 juta.

Dan ini nih spec istimiwirnya...

gus Wahid

Lalu hadirlah sesi kedua yang ngomongin tentang bagaimana menempatkan diri sebagai bloger berkaitan dengan kaidah-kaidah jurnalistik yang harus diemban di pundaknya. Siapa pembicaranya? Sekiranya tak perlu kuungkapkan lebih jauh di sini...sepintas saja dari penampilannya, ini orang cuek banget.
Dateng sebagai pembicara namun pakai celana pendek, kaos MU, topi dibalik. Pffttt kemaki banget. AKu berharap dibalik kemakinya itu, terdapat mustika yang dapat membawanya ke puncak, ke ranah bloger hits yang disegani. Semoga... 

gus Wahid

*
“Ehm, aku sudah memikirkan ucapanmu. Aku bisa memahaminya jika memang kamu menginginkannya,” kamu membuka percakapan setelah hampir 5 menit perjalanan pulang dan kita terjebak dalam hening. Canggung. Ya bayangkan saja, sehari sebelumnya kami adalah pasangan pacar, pagi kami putus, namun ia masih meminta berangkat dan pulang bareng.

Ya memang sih kami adalah pasangan bloger. Ketemu dan sepakat mulai pacaran setelah trip bareng. Banyak rekan bloger lainnya iri dengan pasangan seperti kita. Ada bilang kami pasangan terkompak, pasangan milenial hingga pasangan tahu-tempe bahkan yang parah menyebut kami sepasang sandal jepit, saling melengkapi kanan dan kiri. Terserah deh...

Dan ketika perdebatan kami sesaat sebelum berangkat gathering ini pecah, aku rela putus dengannya. Sekaligus harus melupakan semua sebutan bagi kami tadi.

Aku rela. Aku memang harus tegas, sudah saatnya aku memiliki selain dia yang jadi kekasihku. Aku memang harus menduakan belahan jiwaku.

Dan ini harus kulakukan. Keberadaan dia sebagai pacar, tidak lagi dapat menunjang kinerjaku sebagai bloger, apalagi aku ingin lebih dari sekedar bloger handal, aku ingin jadi bloger internasional, kalau perlu bloger alam semesta. :D

“Aku bisa memahami keputusanmu untuk menduakanku. Tapi ada syaratnya.”

“Apa syaratnya?” aku mencoba bernegosiasi.

“Pinjami aku laptop ZenBook Pro UX580 jika barangnya sudah datang. Aku mau bikin video unboxing. Dan aku mau upload pakai akun Youtube-ku sendiri, bukan akunmu,” tuturmu melunak.

“Ok.”

“Satu lagi.”

“Apa?” aku mulai tak sabar, merasa riwil dengan semua permintaannya.

“Aku gak mau bantu bayar. Aku cuma mau pinjam. Dan...ini yang paling penting, jangan bahas-bahas lagi kita putus seharian ini, aku malu,” katamu sembari menunduk. Sekilas kulirik, rona pipimu memerah. Ah kau belahan jiwaku, peri gigi keberuntunganku, dewi tercantik sejagad bumiku.

“Tenang, aku hanya akan menduakanmu dengan pekerjaanku kok, tidak dengan wanita lain. Yang penting kamu bisa memahami dulu berbagai kecanggihan dan keunggulan laptop itu serta keuntungannya untuk berbagai aktivitas blogging dan vlogging kita. Kita bisa pakai kapan saja laptop itu jika nanti pesanan sudah datang ya. Sukur-sukur kamu mau nemenin saat aku ngetik, sukur-sukur lagi mau bikinin kopi sembari mijiti,” kalimat bijakku meluncur disambung cubitan mesramu di perutku diiringi usahaku untuk menghindarinya.

“Woi!! Kalau nyetir yang benar, jangan sambil pacaran!” teriak bapak-bapak di balik jendela melihat mobilku oleng hendak memepet motornya.

Kami terbahak mentertawakan ketololan ini. Maaf-maaf, ujar kami dalam hati. Lalu mata kami bertatapan. Sedetik itu pula, kuraih pundakmu, kurekatkan erat di bahu di sela setir dan ritme sibuk kota ini.

I love you...bisikku. Aku cinta kamu ZenBook Pro UX580...bisikku dalam hati.

Share:
Read More
,

Pentingnya Bantuan Hidup Dasar dan Membangun Kebanggaan Akan Semarang

gus Wahid United

AKHIR Nopember lalu, sepertinya akan menjadi salah satu momen terbesar di hidup saya. Bersama Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, belasa bloger dan rekan media, kami belajar bagaimana memberikan pertolongan pertama bagi yang membutuhkan.

Sebenarnya bukan hal baru di hidup saya. Sejak SMA, saya sudah tergabung dalam barisan Palang Merah Remaja (PMR) di SMA 1 Salatiga. Bahkan sejak SD, saya masuk jajaran Dokter Kecil. Jadi begini-begini, saya pernah jadi dokter loh...

Namun sejak masuk bangku kuliah, semua ilmu itu terlupa. Cita-cita masuk Fakultas Kedokteran memang terpenuhi, setidaknya masuk gerbangnya :D

Dan setelah sekian tahun berselang, seperti dejavu, saya disadarkan betapa penting memberikan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Belasan tahun tanpa praktek keahlian ini, karena memang profesi saya tidak bersinggungan dalam dunia medis, lalu saya tersadar kemampuan ini wajib dimiliki oleh setiap orang, baik ia medis maupun non medis demi menolong mereka yang membutuhkan.

Dr Satya Ariza dan dr Hifni Hakim Prabowo membuka mata saya melalui acara 'Blogger & Media Gathering Bersama Dinas Kesehatan Kota Semarang' Hotel Atria Magelang, 23-24 Nopember ini, bahwa semua orang bisa jadi hero untuk sesama. Bahwa orang butuh bantuan pernafasan atau mereka yang tersedak, bisa kita tolong dengan BHD.

gus Wahid United

Hanya saja patut dicatat, tentu kita semua tidak menginginkan kejadian semacam ini. Amit-amit katanya, tapi kalau sudah ketemu ya wajib kita praktekkan kemampuan life skill ini. BHD ini sendiri sangat berguna bagi korban yang yang mengalami kesulitan pernafasan atau tersedak. Bayangkan saja, terlambat beberapa menit, nyawa orang bisa melayang lo.

Bayangkan saja, jika kita berhasil memberikan BHD dalam 1 menit pertama, 98% kemungkinan menyelamatkan jiwa. Sangat tinggi. Namun jika BHD telat diberikan 10 menit saja, kemungkinan suksesnya hanya 1%.

Tapi sebelum memberikan pertolongan, penuhi dulu nih syarat dan ketentuan ini (kayak iklan promo aja hihi). Bukan, maksudnya adalah penolong juga harus memperhatikan hal-hal berikut sebelum memberikan BHD:
- Dangerous: Pastikan penolong berada dalam kondisi aman dan tidak membahayakan diri sendiri.
- Response: Periksa respon korban apakah masih bisa menjawab ketika ditanya, apakah menunjukkan bagian yang sakit, atau justru tidak memberi respon.
- Shout: Selanjutnya panggil bantuan.
- Circulation: Lakukan penilaian sirkulasi. Kita bisa melakukan dengan meraba denyut nadi yang ada di leher dekat dengan bagian bawah dagu.
- Airways: Lakukan pemeriksaan jalan nafas.
- Compression: Kompresi Dada. Pastikan posisi tubuh tegak lurus, tangan atau siku tidak ditekuk.Tindakan paling penting pada bantuan sirkulasi adalah Pijatan Jantung Luar. Pijatan Jantung Luar dapat dilakukan mengingat sebagian besar jantung terletak diantara tulang dada dan tulang punggung sehingga penekanan dari luar dapat menyebabkan terjadinya efek pompa pada jantung. Penempatan pijatannya harus dua jari di bawah puting, dan jangan sampai salah memijat lo geshhh
- Breathing: Nilai pernafasan. Lihat apakah dada mulai naik turun, rasakan denyut nadinya apakah kembali muncul, dan rasakan apakah mulai ada hembusan nafasmya.
- Eh...sebelum menjalani semua tahapan itu, ada baiknya pakai sarung tangan steril ya demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Menariknya, kami juga diberi kesempatan praktek langsung terhadap boneka untuk memahami BHD
secara menyeluruh. Praktek memberikan bantuan bagi yang tersedak juga menarik. Pokoknya semua menarik, semenarik dirimu akanku...eaaaa.



Bangga Semarang
TINGGAL di Kota Semarang sejak mulai duduk di bangku kuliah hingga menikah lalu punya anak, tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Apalagi...(catet nih), dekat dengan Walikota dan Wakil Walikotanya, dikenal secara pribadi, membuat saya makin cinta dengan Semarang.

Dan semakin hari, cinta saya semakin tumbuh. Torehan prestasi dan keberhasilannya semakin membuat saya tersuruk tak mau pindah ke lain kota. Dari sisi kesehatan nih, sesuai penuturan Kadinkes Semarang Widoyono, angka harapan hidup telah naik drastis dari 77, 18 di tahun 2013 menjadi 77, 21 di tahun 2017. Tentu saja angka ini masih akan terus didongkrak naik dengan berbagai program terkait kesehatan yang digerakkan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang.

"Salah satu visi yang menjadi tolak ukur kerja keras Dinas Kesehatan Kota Semarang adalah untuk mewujudkan pelayanan kesehatan lima besar terbaik Se-Indonesia pada tahun 2021. Visi tersebut sudah mulai dipilah menjadi target-target yang harus dicapai setiap tahunnya," ujar Pak Wido, panggilan akrabnya.

gus Wahid United
Kadinkes Kota Semarang Widoyono aka Pak Wido
Iapun menjelaskan runtut beberapa pencapaian berupa inovasi layanan kesehatan yang sudah dilakukan oleh DKK Semarang, antara lain :
- Adanya Universal Health Care (UHC) yang sudah hampir 100% meng-cover seluruh warga kota. Dengan UHC maka semua warga dapat memperoleh pelayanan kesehatan dengan gratis melalui BPJS. Syaratnya cukup mudah. Calon peserta UHC yang merupakan warga kota Semarang, berdomisili di Semarang minimal selama 6 bulan, cukup menunjukkan KTP dan KK Kota Semarang sebagai bukti, dan bersedia ditempatkan di kelas 3.
- Ambulans Siaga yang diperuntukkan bagi pasien non gawat darurat.
- Si-Cepat atau Ambulans Hebat yang diperuntukkan bagi kasus gawat darurat.
- Motor Ambulans.
- KONTER (Konsul Dokter) dengan menghubungi 1500-123 untuk konsultasi kesehatan sampai menemukan panduan rumah sakit, dokter, dan apotek.
- Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK)
- PUSTAKA (Puskesmas Tanpa Antrian).

Dan DKK Semarang terus berinovasi, tak mau berhenti. Komando di tangan Pak Wali Hendi dan Pak Wido terus dipecut. Inovasi-inovasi terus digebar angka harapan hidup masyarakat Semarang terus menanjak naik.

Berbagai saranan layanan kesehatan juga terus ditambah. Di tahun 2018 ini, Semarang sudah memiliki 19 Rumah Sakit Umum, 37 Puskesmas, dan ada sekitar 2000-an dokter umum praktek yang tersebar di 16 kecamatan.

Dari 37 Puskesmas yang ada, 1 berstatus Puskesmas paripurna, 4 utama, 22 madya, dan 10 Puskesmas berstatus dasar. Semua Puskesmas tersebut bahkan telah terakreditasi. So kurang joss apalagi nih...kurang bangga bagaimana lagi dengan Semarang kita?

gus Wahid United
Dani Miarso

gus Wahid United
Kepala Bidang Yankes Bu Lilik 
Untuk teknis lengkap serta panduan BHD-nya, nih simak yang ini.


Share:
Read More
, ,

Trip ke Malaysia Hari 1: Menyusuri KL hingga Menara Kembar

gus Wahid United



PANGGIL ia Gus. Entah siapa nama yang sebenarnya. Toh juga menurut Shakespeare, what is the name. Mungkin hanya untuk KTP dan pemesanan tiket saja nama diperlukan. Selebihnya, panggil ia Gus, tidak lebih.

Ia juga bukan anak kyai atau pembesar agama lainnya yang biasa menggunakan nama panggilan ini. Mungkin hanya sekedar gagah-gagahan, karena faktanya, ia nyaman dipanggil panggilan itu.

Kini lelaki muda itu telah duduk di baris 27K di pesawat yang akan membawanya ke Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Sebelah kirinya telah lebih dulu duduk seorang bapak-bapak yang dari gerak-geriknya, tidak ingin diajak berbincang. Padahal dalam hati, ia ingin ngobrol sepanjang perjalanan, melupakan beban harus naik pesawat, suatu hal yang sangat tidak disukainya.

“Permisi, saya di duduk dekat jendela,” seorang perempuan berjilbab membuyarkan lamunan kekhawatirannya. Bapak di sebelahnya sudah lebih dulu memiringkan lutut memberi jalan, kini gilirannya.

Usai memberi jalan, kembali diraihnya Dear Nathan karya Erisca Febriani. Sepertinya ia sudah tidak ingin berniat ngobrol dengan siapapun, buku yang dibawanya terlalu menarik untuk tidak dihabiskan selama hampir 2 jam penerbangan ini.

“Ceritanya mirip Dylan 1990, sangat mirip bahkan. Tipikal anak muda tahun 90-an gitu deh.” Tiba-tiba gadis di sebelahnya memecah keheningan di antara mereka. Keheningan yang canggung mengingat phobia yang dialami Gus.

“Suka baca novel?” gadis itu melanjutkan pertanyaan.

“Tidak juga. Hanya untuk membunuh waktu. Saya hanya ingin segera landing, jadi saya piker membaca buku dan menghabiskannya akan membunuh waktu terbang,” ujar Gus sedikit berdiplomasi menutupi rasa takutnya.

“Ohhh. Kalau memang suka baca novel, cob abaca karya-karya Tere Liye atau Ika Natasha. Atau yang lebih lama karya si Ayu Utami atau Dewi Lestari, sangat berbobot. BTW, ke KL untuk urusan kerja?” gadis itu nyerocos.

“Ehm saya mau travelling saja.”

“Lo mas ini bloger? Atau vloger?”

“Ya dua-duanya gitu deh. Tapi kali ini sepertinya saya hanya akan menulis dan memotret. Cukup banyak utang video yang belum saya edit. Rasanya seperti dikejar-kejar tukang tagih tiap kali inget. Hehehe,” Gus terkekeh sendiri mengingat banyaknya deadline yang mesti diselesaikannya.

“Oh begitu. Kapan-kapan boleh dong saya kunjungi blog-nya. Saya juga suka baca-baca blog travel dan wisata, apalagi yang ditulis dengan cara berbeda tidak seperti kebanyakan. Bosen kalau hanya blog yang cerita aku kesini naik ini itu, di sana ngapain aja dan sebagainya. Semoga cerita mas tidak seperti itu, anti mainstream.” Pengucapan anti mainstream dirasa Gus seperti sebuah penekanan yang harus lebih diperhatikan. Tapi ia cukup percaya diri, blognya bukan ecek-ecek, apalagi blog yang mainstream seperti kebanyakan. Ia berbeda. Bahkan dalam kesehariannya, ia sudah ciptakan beda itu mulai dari style hingga gaya menulis.

Penampilannya memang cukup unik. Celana pendek, topi dibalik, t-shirt yang selalu bergambar MU atau jersey, menjadi pembeda. Ia coba pertahakankan brand itu selama ini, brand tentang Gus yang bloger penyuka MU.

“Ini kartu nama saya, silakan jika mau intip-intip blog saya. Lengkap alamatnya disitu beserta media kit-nya,” tuturnya sembari mengulurkan kartu nama dengan logo lelaki mengenakan topi terbalik bergambar MU memunggungi siapapun pembaca kartu nama ini.

“OK mas makasih, saya Riyanti,” si gadis mengulurkan tangannya. “Silakan dilanjut membacanya, saya menonton video saja.”
gus Wahid United

Tak ada lagi perbincangan setelah itu selain uluran bantuan memberikan makan siang dari flight attendant. Bagi Gus sendiri, ini bukanlah makan siang yang diidamkannya. Namun dengan menikmatinya perlahan, setidaknya itu bisa membunuh rasa takut terbangnya. Ia mencoba menikmati apapun yang ada pesawat ini. Apapun.

*

PERJALANAN menuju KL dilanjutkannya dengan menggunakan KLIA Express. Tiket seharga 55 MYR, dipilihnya dengan harapan segera sampai di hotel. Bukan pilihan terbaik sebenarnya karena masih ada moda lain yang lebih murah seperti KLIA atau bus. Ia sendiri tak memiliki banyak uang.

gus Wahid United

Beberapa ratus MYR menjadi uang saku selama perjalannya 4 hari 3 malam di Negeri Jiran ini. Perjalanan inipun bukan yang diharapkannya mengingat banyaknya utang deadline tulisan dan video yang harus dikerjakannya.

Namun dua pekan sebelumnya, sebuah email dari seseorang yang tidak dikenalnya tiba-tiba memberikan tiket pesawat Jakarta-Kuala Lumpur PP, termasuk kode booking hotel yang setelahnya diketahui berbintang 5. Hotel Majestic, salah satu yang terbaik di sini. Hotel bernuansa heritage yang dibangun pada 1928.

Meski ragu menerima pemberian ini yang dikatakan oleh si pemilik email sebagai hadiah, entah hadiah atas apa, Gus akhirnya menerimanya. Toh tidak ada yang akan membahayakan nyawanya. Jikapun membahayakan, ia juga sudah pasrah atas hidupnya kepada Sang Pencipta. Sebuah kejadian besar dalam hidupnya, membuatnya tak lagi takut akan kematian, meski tetap saja ia memilih takut terbang. Takut ketinggian lebih tepatnya.

Menerima ‘hadiah’ sendiri bukan tanpa tantangan. Pasalnya, Gus tetap harus mengatur sendiri itinerary-nya selama di KL, mengatur sendiri uang saku yang diambilnya dari jumlah tabungannya yang tak seberapa, menata sendiri jadwal dan waktu yang pas untuk berkunjung ke destinasi pilihannya.

Turun di KL Central yang merupakan stasiun terpadu dari seluruh kereta baik MRT, LRT, Komuter dan juga monorel ini, ia berganti kereta menggunakan Komuter KTM ke Stasiun Kuala Lumpur. Hotelnya hanya berjarak 200 meter dari stasiun itu, cukup berjalan kaki.

Proses check in selesai dan benar adanya, seluruh hotel sudah dibayar oleh si pemberi hadiah. Hingga saat itu, ia hanya berpikir si pemberi hadiah melakukan semua ini karena ulang tahunnya di awal bulan. Ia tidak terlalu yakin, tulisan blognya dapat memenangkan lomba dengan hadiah sebesar ini. Entah. Ia sama sekali tidak merisaukannya, hanya menikmati semua perjalanan ini. Toh hidup kadang penuh dengan kejutan, manusia hanya menjalani.

*

RISAU berada di kamar usai perjalanan panjanga mencapai 1.470 KM dari kota tinggalnya di Semarang, Gus beranjak. Usai mandi, solat dan berganti pakaian, ia memutuskan pergi ke pusat kota. Pusat Kuliner di Jalan Alor menjadi tujuannya.

Ia menyempatkan diri mengambil foto Crystal Fountain di depan KL Pavilion Mall. Sebuah karya seni yang menggambarkan 3 mangkok tersusun di tengah air mancur. Konon, ini merupakan perpaduan 3 ras yang menyusun Bangsa Malaysia yakni Melayu, India dan China yang rukun demi kejayaan negeri.

Beranjak ke Jalan Alor, di sana, ia menemukan beberapa makanan halal yang pas di lidahnya. Sup tomyam dengan tambahan omelet, nasi putih dan es teh tarik menjadi pilihan yang pas untuk mengisi perut yang terakhir disapanya dengan makanan dari pramugari. Total 44 MYR dihabiskannya untuk makan malam yang cukup nikmat terutama karena berada di sentra kuliner, berada persis di tengah jalan.

Usai menyesap sebatang rokok, ia beranjak. Belum sempat meraih dompet dari saku, seorang pemuda mendekatinya. Dengan bahasa yang tidak terlalu dipahaminya, pemuda itu membuka berlembar-lembar kertas foto berusaha menunjukkan gambar-gambar dari sepertinya sebuah panti asuhan. Gus menangkap maksudnya, pemuda ini meminta sumbangan.

gus Wahid UnitedNamun sebuah kode dari pramusaji membatalkan niatnya merogoh kocek untuk membantu. Tidak lama berselang, seorang pemudi gantian melakukan hal serupa, Gus menolak dengan halus. Silih berganti, kini pengamen datang lalu peminta-minta.

“Gak beda ama di Semarang dan Jakarta, banyak sekali pengamen dan peminta-minta datang saat orang sedang makan. Podo wae iwk,” ujarnya lirih dalam hati dalam logat Semarangan yang kental.
Tak menunggu lama, ia beranjak ke Jalan Sultan Ismail untuk memburu MRL. Tujuannya adalah Menara Kembar Petronas yang menjadi landmark kota ini. Letih yang dideranya membuatnya memilih sedikit mengeluarkan uang namun berhemat tenaga daripada harus berjalan kaki 1,6 Km melintasi KLCC menuju menara.

gus Wahid UnitedTurun di Bukit Nanas, Gus menyusur Jalan Ampang, langsung menuju angle terbaik untuk mengambil gambar menara yang pernah heboh di film Entrapment. Malam cukup larut, namun pemburu Menara Kembar masih banyak, masing-masing sibuk dengan kamera HP-nya, berselfie. Gus memilih di pojokan, mencari angle yang menurutnya paling berbeda.






Sedikit awan biru menyembul di pucuk menara. Arak-arakan awan membuat frame lensanya semakin menarik. Gus puas, ia kembali ke hotel, beristirahat dan tidur. Petualangan berikutnya sudah menanti.  

 
Share:
Read More