, , , , , ,

Luluh Dalam Dekap Kota Poros Tengahnya Jawa

JALANAN Kota Pekalongan siang itu cukup terik. Jarum pendek yang melintas di angka 1, menjadi penahan langkah untuk menyusur setiap jalan. Namun kenangan akanmu, tak cukup kuat menahanku untuk tidak melangkah, menapak seluruh jejak yang pernah kita toreh bersama, di sini...di Lapangan Jetayu ini.
Ingatkah kau saat pertama membawaku ke kotamu? Kau gandeng tanganku sejak sampai di halaman stasiun hingga kita naik motor berdua lalu mengitari lapangan di depan Museum Batik ini. Saat itu usai parkir, setengah berlari ke sisi selatan kau ajak aku melangkahi kotak-kotak lebar trotoar.
“Lihat,” sergahmu seraya menarikku, “Itu tugu Nol Kilometer. Ini penanda poros tengahnya Pulau Jawa lo, dibangun oleh Daendels saat ia membangun jalan dari Anyer sampai Panarukan di tahun 1808.”
Tak peduli denganku yang masih terbengong, ocehanmu terus berlanjut. Bertulis MYLPALL, tugu setinggi paha orang dewasa ini juga merupakan penanda pembangunan jalan raya pos (Grote pos Weeg). Bahwa tugu ini pulalah yang menjadi titik tengah jalan sepanjang kurang lebih 1.100 Km itu. Jakarta membentang sejauh 400 Km ke barat dan Surabaya 420 Km ke arah timur, logis kupikir penjelasanmu.
Seiring itu pula, mimik wajahmu berubah. Ada rona duka di balik tatapmu. Lalu kau berkata tentang kesedihan, tentang bagaimana anak-anak muda di zaman ini yang abai akan sejarah besar masa lampau, tentang Pekalongan yang pernah jaya di kala itu. Tak kusangka, ternyata kau memiliki pemikiran yang mendalam. Aku tak salah memilih, gumamku.
Belum selesai kekagetanku dengan perubahan sikapmu, tanganku kembali kau gaet. Kembali menyusur kotak-kotak lebar ini, kali ini kau gandeng aku ke arah barat, menyeberang jalan menjumpai sebuah gedung kuno berwarna putih dengan garis orange yang dominan.
“Ini adalah Gedung Kantor Pos Kota Pekalongan yang dibangun tahun 1920. Ini dibangun untuk menggantikan jalur pos dimana kala itu pengiriman pos dilakukan dengan naik kuda dari Jakarta lalu berganti kuda di sini sebelum ke Semarang. Itu sejak tahun 1746,” tuturmu menerawang.
Kutebak, kau sedang membayangkan banyak kuda dikawal sepasukan VOC yang mengirim barang atau surat. Entahlah.
Belum sempat kulanjutkan lamunanku, kembali kau seret lembut tangan kiriku. Permintaanku untuk memotret bahkan belum kau penuhi. Tergesa kau ajak aku meninggalkan halaman Kantor Pos menuju ke utara. Tanpa berkata, kau terus merangsekku untuk menghentikan langkah di depan bangunan kuno bertulis Batik TV.
Sekilas kulirik matamu. Ada sesuatu yang tak bisa kutangkap. Sebuah luka atau duka, namun tak kau lukis dengan indah, hanya sekilas aku membacanya, itupun tidak tuntas karena kau keburu berkata-kata.
“Dulu gedung ini digunakan sebagai kantor yayasan pendidikan MULO (setingkat SMP) di masa pemerintahan Belanda. Usai kemerdekaan, sempat pula dijadikan kantor beberapa dinas milik pemerintah dan sekarang jadi kantor dan studionya Batik TV,” kalimatmu terasa semakin datar, namun lagi-lagi tak dapat kutangkap apa yang kau sembunyikan.
“Lihat sebelah utaranya!” tukasmu. “Yang sekarang jadi GOR Jetayu itu dulunya tempat berkumpul kaum Freemansonry di Pekalongan. Lalu berubah menjadi Societet usai Indonesia merdeka.”
Lagi-lagi aku tak mampu mencerna kalimatmu. Anganku terlalu sibuk dengan Freemansonry yang menurutku keren banget, Kota Pekalongan yang sebesar ini telah memiliki pengikut organisasi sekuler, bahkan di kota yang dalam pahamku adalah kota berbasis muslim.
Tak jua tuntas pemikiranku, tiba-tiba kau gamit lenganku. Warna kulit di bawah lengan baju yang belang hitam putih, tersibak pelan. Sedikit malu, kuturunkan lengan bajuku, tapi kamu tak mau tau. Tetap kau pegang erat lengan lalu sedikit menyenderkan kepala, kau mengajakku berjalan ke arah timur. “Kita akan ngobrol di pabrik limun,” bisikmu mengetahui keraguanku.
Namun kau tetap tak berkata-kata. Hanya genggaman tangan di lenganku dan bahasa tubuh yang kurasakan ada sesuatu yang kau tutupi. Entah apa, aku tak jua dapat menerka.
Dan ketika memasuki tempat yang kau bilang pabrik limun, tapi bagiku lebih mirip old vintage cafe, kau segera memesan minuman berwarna-warni di dalam botol itu. “Mau rasa apa?”
Kujawab apa saja. Bagiku, gak penting rasa minuman itu selama ada dirimu bersamaku, bisikku dalam hati. Entah kau mengetahuinya atau tidak.
Masih dengan mata yang syahdu, kau kembali berceloteh usai minuman dingin terhidang. Di kursi tua beralas rotan itu, kau kisahkan tentang Limun Oriental yang sudah dibuat sejak 1920 oleh keluarga Nyoo Giok Lien.
Kuberanikan diri menatap lekat dua matamu, ingin kubaca apa sebenarnya yang kau rasa. Tapi kau buru-buru berpaling seraya melanjutkan, “Mereknya Tjap Nyonya Shiluette, ada tujuh rasa berbeda.” Ah, kau benar-benar cantik dengan mata binarmu. Mata yang membuatku bahagia dan menggerakkan seluruh sendi untuk mencarimu di kota ini. Tapi itu tak lama, kau hindari tatapku, lalu kembali melamun jauh.
Sekejap itu pula, kau raih telfon genggammu, melihat jam atau mungkin ada pesan yang masuk. “Aku harus pergi sekarang juga. Maaf aku tak bisa mengantarmu. Hati-hati di jalan.” Aku terlongo. Janji untuk ngobrol di sini, tak lebih dari tukar tatap mata, tak lebih.
Hanya kalimat itu yang terakhir kuingat di ujung perjumpaan kita. Kembali kuingat kala aku sudah duduk sendiri di pabrik limun ini, usai menapak seluruh tilas perjalanan kita berdua waktu itu. Kubayangkan kau duduk di depanku, bercerita tentang kotamu, tentang kita atau tentang Indonesia yang ingin kita jelajah bersama.
Tapi semua berbeda. Pesan yang masuk di telfon genggamku sesaat sebelum masuk ke kereta yang akan mengantarku pulang usai kebersamaan terakhir kita, menyudahi semua cita yang kita rangkai berdua. Pesan yang singkat, sesingkat bahagiaku bersamamu.
“Maaf, aku tak bisa meneruskan ini semua. Terima kasih atas selama ini. Kamu lebih bahagia tanpaku.
Dariku...Non.” 
...dan kini ketika aku kembali ke kotamu, samar terdengar lantun Segenap hatiku luluh lantak, Mengiringi dukaku yang kehilanganmu, Sungguh ku tak mampu tuk meredam kepedihan hatiku Untuk merelakan kepergianmu.
Langkahkupun semakin gontai, lunglai. Aku tak sanggup menyusur semua kenangan akan kotamu sendirian...aku luluh.
Ceria anak-anak bermain bola, tak mampu usir hati yang luluh :D




Share:
Read More
, , , , , ,

Tauladan Kisah Penghidupan Candi Sojiwan


Tak lekang oleh waktu

TERIK siang itu cukup menyengat. Kulit legam ini berasa semakin hitam berpadu dengan lelehan keringat dan debu yang melekat. Tapi sama sekali langkah tak surut menuju Candi Sojiwan, berjalan kaki menjadi pilihan ketika saya memilih parkir di areal Candi Prambanan.
Tak jauh memang. Hanya sekitar 1 Km saja. Melintasi pemukiman warga, sedikit sawah di sisi kiri, harus pula melangkahi rel kereta sekaligus menunggunya menyintas, sampailah saya di pelataran Candi Sojiwan.
Sudah cukup lama saya menyimpan hasrat mengunjungi candi ini. Selama ini, hanya Prambanan saja yang cukup ternama bersanding dengan Candi Sewu dan juga Boko. Padahal di sekitarnya, cukup banyak candi-candi kecil yang patut dikunjungi, menipak jejak demi menyaksikan kemegahan masa silam.
Lengkap dengan stupa sebagai mahkota

Layaknya candi-candi Buddha lainnya, Sojiwan atau ada yang menyebutnya Sajiwan, dihiasi dengan stupa dan relief. Mirip dengan Candi Borobudur. Jajaran pahatan batu yang bercerita, ada di kaki candi, mengelilinginya.
Ini pula yang menjadi salah satu kelebihan candi ini dibanding dengan lainnya. Keberadaan relief-relief mengambil cerita binatang (fabel) yang mengandung banyak tauladan untuk kita. Salah satunya adalah fabel kura-kura yang dibawa terbang oleh sepasang angsa, atau kera yang memanfaatkan buaya untuk menyebrang sungai, dimana ceritanya diambil dari Pancatantra atau jataka. 
Jataka sendiri, patut dicatat adalah kumpulan cerita tentang kehidupan-kehidupan sang Buddha ketika masih berwujud hewan, sebelum beliau menitis menjadi Siddharta Gautama. Cerita-cerita ini jumlahnya kurang lebih ada 547 dan aslinya ditulis dalam bahasa Pali.

Jataka kera dan buaya yang dimanfaatkan untuk menyeberang sungai

Sayangnya, dari 20 relief, hanya tersisi 19. Tangan jahil dan pencuri jahat, telah menjadi pemilik barunya. Beberapa patung dan stupa, menjadi korbannya. Semoga saya tak ikut dijahili ya...
Lebih dari itu, kelebihan Sojiwan lainnya adalah adanya struktur parit yang mengelilingi areal candi ini. Sayangnya pula, parit tersebut sebagian sudah hilang terkubur dan rusak, tergantikan dengan pemukiman warga dan persawahan. Sayapun tak berhasil mendapatkan gambarnya.
Candi Sojiwan sendiri diperkirakan dibangun antara tahun 842 dan 850 Masehi, kurang lebih pada kurun yang sama dengan candi Plaosan, yang berada sekitar 2 Km di dekatnya. Menurut prasasti Rukam berangka tahun 829 Saka (907 M), Candi Sojiwan merupakan persembahan dari Raja Balitung yang beragama Hindu kepada neneknya, Nini Haji Rakryan Sanjiwana (nama ini juga disamakan dengan Ratu Pramodhawardhani) yang beragama Budha.
Karena itu pulalah mungkin candi ini dinamai sesuai dengan namanya yang menjadi pelindung Desa Rukam (kini bernama Desa Kebon Dalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten). Sojiwan juga dipercaya sebagai candi pendharmaan atas rasa cinta dan sayang terhadap mereka yang menjaga lingkungan...layaknya aku menjaga bara rindu padamu huhu.

Ruang bilik Sojiwan yang sudah kosong, sebagian sudah diganti dengan andesit.

Anak-anak bermain di pelataran Sojiwan
Oh ya, area taman di Sojiwan sudah ditata rapi. Meski demikian, beberapa batuan penyusun struktur candi sudah diganti andesit. Termasuk pula beberapa batu di dalam bilik candi yang sudah kosong berbentuk relung atau singgasana yang mungkin saja dulunya ditempatkan sebuah arca Boddhisatwa.
Aih...saya kembali berfantasi (bukan fantasi jorok lo) di bilik ini. Saya bayangkan Ratu Pramodhawardhani duduk di bawah sementara para pendeta memberikan wejangan, petuah dan tauladan kepadanya. Di luar, warga berkumpul dengan berbagai sesaji uborampe, memberi puji puja kepada Sang Buddha...
..dan saya keluar pelataran, menjumpai masmas ojol yang sudah menunggu karena kaki saya tak bersahabat untuk diajak kembali berjalan kaki kembali ke Prambanan.
Selfie dulu ye gesssh

Arca Boddhisatwa yang tak utuh lagi

Baca juga:
- http://www.guswah.id/2018/08/candi-singosari-menjumpai-ken-dedes.html
- http://www.guswah.id/2018/06/elegi-cinta-candi-merak.html
Share:
Read More
, , , ,

Serunya Upacara 17 Agustus di Kali Progo

Upacara 17 Agustus di tengah aliran Kali Progo


JUJUR kalimat pertama yang selalu muncul ketika ada yang mengajak untuk mengikuti upacara 17 Agustus secara unik, adalah yess. Gak ada kata lain selain mengiyakan dengan penuh antusias layaknya ditawari semangkok mie ayam. Begitu pula dengan tawaran Hotel Puri Asri Magelang untuk mengikuti upacara bertema air di Kali Progo bersama Progo Rafting. I said yesss, gak tahu klo mas Anang :D.

Dan tak ada kalimat lain pula untuk menggambarkan betapa perasaan serta segenap raga dan jiwa saya menyatu dengan Progo. Gemericik air mengalir menerabas bebatuan, angin semilir menerjang tebing berpadu dengan aba-aba menghormat Sang Saka.

Aliran sungai dan bebatuan Kali Progo jadi saksi
Para peserta sudah siap difoto eh siap upacara nih

Alun merdu Indonesia Raya, serasa berkumandang mengubah suasana haru pagi itu. Langit yang berwarna, seketika kontras dengan Merah Putih yang berkibar. Penghormatan tertinggipun kami sampaikan...seiring doa agar Indonesia tetap jaya, makin sentosa, sejahtera dan terus membahagiakan warganya.

Sebagai catatan, ini adalah tahun kedua berturut-turut saya melakukan upacara 17 Agustus bertema air. Di tahun sebelumnya, Pegiat Wisata Kota Semarang bersama rekan-rekan Genpi menggelar upacara di Grand Maerakaca. Ide untuk menggelar upacara unik di atas perahu, mengalir begitu saja demi melihat potensi di destinasi terbaik ini.

Dan tahun ini, duo Puri Asri dan Progo Rafting menghadirkan keunikan tersebut. Dipadupadan dengan keasrian alam hotel serta keasrian alam sungai ini, jadilah sebuah perpaduan nasionalisme unik yang tidak diperoleh di tempat lain. Kabarnya, sudah tahun kedua penyelenggaraannya.

Perahu-perahu karet berjajar menegaskan kesiapan momentum HUT negeri ini. Angka 73 menjadi sakral bagi semuanya. Sesakralnya semesta mencintai kita dengan segala nikmatnya.

Life jacket tentu tak ketinggalan. Penanda bahwa rasa syukur atas nikmat selama kemerdekaan ini, tidak dapat diabaikan. Helm juga menjadi wardrobe yang wajib dikenakan, safety menjadi sisi lain pemandangan unik di sisi Kali Progo yang mengalirkan hidup dan kehidupan.

Ngambilnya bukan pas Indonesia Raya berkumandang lo gesssh

Nasionalisme kami seketika bangkit. Bangun dari lubuk terdalamnya. Tergugah untuk memberikan yang terbaik, tak hanya untuk negeri namun juga untuk diri dan semesta ini.

"Setidaknya, hormatlah dengan benderamu sesekali setahun ini. Jangan hanya memotret saja," sergah saya kepada beberapa rekan blogger yang menyertai kunjungan kami ke Puri Asri.

Pun demikian, di atas perahu yang terayun tenang oleh deras buih Progo, saya angkat tangan tangan kanan. Penuh takzim saya sampaikan hormat kepada Sang Saka. Di sisi kiri, puluhan peserta upacara berjajar rapi, tak mau ketinggalan momen ini. Saya sendiri memilih menghormat di atas perahu karena posisi terakhir memotret. 
Ini juga diambil pas penghomatan bendera di penghujung upacara
Alhasil tentu saja saya tak dapat gambar penghormatan dari seluruh peserta, ya karena itu tadi...inilah momentum utama penghormatan kepada bendera merah putih, saat ia dikibar tinggi-tinggi, 73 tahun lalu untuk pertama kalinya.

Para petugas upacara yang masuk ke aliran sungai, bukan sekedar gagah-gagahan. Perlu stamina yang sangat baik untuk berdiri menahan aliran sungai selama upacara berlangsung. Tiga puluh menit bukanlah waktu yang singkat. Air setinggi dada manusia dewasa bisa-bisa menggoyahkan kuda-kuda, membawa siapa siapa saja terpelanting terbawa arus Progo yang terlihat akrab menggoda pagi itu.

Tiang setinggi 5 meter menjadi penanda, di sanalah Sang Saka akan menghias langit biru Kota Magelang. Merah Putih yang perkasa, menjadi simbol merdeka bagi siapa saja, tak hanya kita, alampun ikut memberi kemerdekaan dengan cerahnya yang luar biasa.

Ah...seandainya saya diberi nikmat kembali ke sini tahun depan, tak akan sia-sia semua perjalanan ini. Jalan menuju kemerdekaan, bebas untuk hidup di atas bumi bernama Indonesia, sesuka-suka menghirup segar udara alamnya lalu menuangkannya dalam rangkai kata. Indonesia...kau cinta hidupku, matipun kelak kuingin dalam pelukmu.

Lomba pukul bantal di atas perahu juga seruuuu

Pose gak jelas di sela lomba makan kerupuk...tjeung tjeung tjing tjing kayaknya

Kayuh manja para rafter dadakan


Share:
Read More
, , , , , , , , ,

Candi Singosari: Menjumpai Ken Dedes dalam Lintas Imaji



Buah Mojo dan Candi Singosari apakah berkaitan dengan Kerajaan Majapahit?

Gending Kebo Giro terus mengalun pelan
Ken Dedes berjalan pelan diselimuti keanggunan
Dan ketika Tunggul Ametung siap, bergantian gending Ketawang Kodok Ngorek dilantunkan para waranggono
Gamelan yang dipukul syahdu, menjadikan suasana kala itu megah namun jauh dari kesan mewah
Bertautlah dua hati...penguasa cinta meski tak paripurna

MEMASUKI pelataran Candi Singosari, asa saya melayang jauh. Kembali ke ratusan tahun silam, membangun fantasi. Sekejap dalam benak, muncul bayangan si cantik Ken Dedes yang hendak dipertemukan di pelaminan dengan Tunggul Ametung si penguasa Tumapel kala itu.

Fantasi saya semakin liar. Candi Singhasari atau juga ada yang menyebut Candi Singosari ini adalah saksi pernikahan mereka. Di hadapan para empu, tetua kampung dan para Begawan, keduanya disatukan dalam ikatan suci, di depan pelataran candi sebagai satu-satunya tempat para leluhur berkumpul.

Dari jalan masuk, Gending Kebo Giro terus merangsek membawa kaki jenjang Ken Dedes ke latar candi. Di dalam, Tunggul Ametung sudah bersiap dengan dandanan ala raja, menyambut wanita kampung pujaannya dari Desa Panawijen. Di sisinya, resi dan empu bersiap menyiramkan air suci tahta seribu.

Di kejauhan, di bawah pohon pisang...sorot matanya menyala, berbeda dengan keseluruhan hadirin yang ada. Nampak tak ada restu. Hanya amarah dan cemburu menyelimuti. Bergegas langkah meninggalkan paseban di seputaran candi, menjumpai Mpu Gandring memintanya membuat keris, tak peduli hingar bingar dan hiburan di sela pesta pernikahan. Ken Arok nama pemuda itu.
*
TAPI tenang semua, tidak akan pertumbahan darah di sini. Baik di blog saya maupun di halaman Candi Singosari. Itu semua hanya fantasi mistis saya saja ketika memasuki pelataran candi. Entah mengapa, begitu melihat candi ini, saya langsung teringat kisah di Kitab Pararaton tentang cerita cinta Ken Arok-Ken Dedes-Tunggul Ametung.

Bahkan di era sebelum lahirnya Kerajaan Singasari-pun, sudah ada kisah cinta segitiga. Tidak hanya saat ini hahaha. Jadi wajar kali ya, kalau ada yang mendua bahkan mentiga hahaha...eh eh sudah, malah makin melantur.

Candi berada di tengah pemukiman
Jadi gini gesss, dalam sebuah trip ke Batu dan Malam pertengahan Juli lalu, saya singgah tanpa sengaja di Candi Singosari. Dan begitu diberitahu tentang keberadaan candi, saya langsung mupeng. Suguhan bakso malang Cak Kar yang disiapkan bahkan saya tinggalkan, demi candi dan segala aura mistis yang menyelimutinya.

Dan ya itu, begitu kaki melangkah masuk pelatarannya, langsung deh fantasi saya melayang ke Ken Dedes. Padahal setelah membaca literatur, fantasi saya melenceng jauh. Salah besar saudara-saudara hahaha kayak tebakan Jerman sang juara dunia yang bahkan gagal di laga penyisihan grup...zonkkk. Sok PeDe sih hihihi
*
TERLETAK di Desa Renggo Kecamatan Singosari, candi ini masuk di ranah Kabupaten Malang. Ia berada kawasan lembah di ketinggian 512 mdpl, dinaungi asrinya hawa Gunung Arjuna, kabarnya ia adalah Candi Hindu-Buddha. Kini ia berada di tengah pemukiman penduduk. Jaraknya tak jauh dari Jalan Raya Mondoroko yang menghubungkan Malang dan Pandaan. Masuk sekitar 300 meter di Jalan Kertanegara, kita akan jumpai candi sisi kanan. Jika terus, kita akan sampai di Bakso Malang Cak Kar. Sementara jika masih terus di Jalan Mondoroko, kita akan menjumpai salah satu outlet Malang Strudle yang ada di Singosari.



Candi utamanya berada di tengah area seluas 200x400 meter dan berdiri mirip menara, tinggi namun langsing. Di pintu masuk, terdapat pos jaga yang akan meminta kita mengisi buku tamu sekaligus memberikan donasi seikhlasnya. Pintu utama candi menghadap ke barat, ke arah Gunung Arjuna. Di sisi kiri pos, kita akan disambut jejeran arca yang sebagian sudah rusak dan entah kenapa tidak dikembalikan ke posisinya semula.

Entah arca siapa dan mengapa hanya dia yang beri atap

Jajaran arca di Kompleks Candi Singosari
Bebatuan di atap candi sebagian sudah menunjukkan usia. Maklum, ia dibangun jauh sebelum era Majapahit. Jadi, Singosari ini dipercaya jadi cikal bakal kerajaan terbesar di tanah air, Majapahit yang rajanya diturunkan dari keturunan Ken Arok.

Di ketiga sisinya yang lain, ada celah yang semula saya kira adalah pintu lain untuk masuk ke ruang utama. Di ruang utama ini pula, kita masih akan dapat menjumpai lingga, sebuah batu besar yang berlubang di tengah. Di depan lingga, sesembahan berupa dupa, menyan dan kembang setaman masih memunculkan aroma mistis yang kuat. Kebetulan sinar matahari tidak kuat menembus ruang ini, jadi kesan mistis sangat terasa meski siang hari. Ah...asa saya kembali pada Ken Arok dan Ken Dedes lagi nih.

Meski demikian, cukup banyak kunjungan yang dilakukan warga ke sini. Beda dengan kunjungan di Candi Merak, yang cukup minim. Jadi, harus lebih hati-hati agar gambar yang diambil tidak bocor meski sudah pakai sayap *eh.

Menilik dari tipe bangunan candinya, Candi Singosari ini cukup aneh untuk ukuran dan model di zaman itu. Bangunan kakinya gemuk namun badannya langsing sedangkan atapnya tidak lancip. Beberapa ahli bilang, pasti ada alasan khusus mengapa candi ini dibuat demikian. Sebuah kegiusan local pada masanya. Tapi ya maklum juga sih demikian karena sebagian beranggapan, candi ini adalah makam Kertanegara. Sebagian lagi beranggapan, candi ini belum sempurna dibangun. Entahlah...saya sendiri masih merenung dan menganggap Ken Dedes sedang mengamati saat saya nungging mencari angle yang pas demi memotret candi ini.


Dupa dan kemenyan memperkuat kesan mistis 

Share:
Read More
, , , , , , ,

Tradisi Cukur Rambut Gimbal di DCF 2018 (Minta Dipotong oleh Gubernur Hingga Yupi dan Tempe Gembus)*

Bocah bajang, kinasihing Gusti kang Moho Welas Asih sak lawase
Rambut gimbal den cukur dimen tirto kangge suci lahir
Uwal saking cidro dadio bocah mulyo, slamet raharjo waras waris tansah yekti, lir sambi kala**


TENTANG apa yang tertulis dari serat dan babad Tanah Jawa, Dieng adalah tanahnya para dewa. Bersemayam di ketinggian, berselimut kabut, berbalut dingin menuju puncak keabadian. Dan kidung telah mengalun, mengawali prosesi suci untuk memurnikan mereka...para Anak Bajang.
Ya...sebutan anak bajang disematkan kepada mereka, anak-anak yang memiliki rambut gimbal. Bukan gimbal layaknya anak-anak punk dan reagge, namun gimbal karena takdir. Pun anak-anak ini tak memiliki darah seni untuk membuat rambut mereka menggimbal. Mereka juga bukan gembel yang tak pernah keramas sehingga rambutnya lepek, mengempel hingga sulit disisir.
Tradisi inipun bukanlah yang pertama. Berlangsung dari tahun ke tahun, musim by musim dan ketika bulan berganti...prosesi siap disaji. Candi Arjuna menjadi saksi para Anak Bajang akan menjalani lakon mereka selanjutnya, tataran hidup yang sebenarnya, melepas status bajang dan hidup normal layaknya anak kecil lainnya.

anak bajang
Add caption

Toh rambut gimbal juga bukan keinginan mereka. Legenda berkisah, anak bajang adalah anak-anak istimewa. Syahdan, mereka adalah anak titipan dari para leluhur dataran tinggi Dieng yang dititipkan penguasa Laut Selatan, Nyai Roro Kidul. Karenanya, pada waktunya nanti, anak-anak ini akan kembali diminta Sang Ratu.
Legenda lain berkisah, konon adalah Kyai Kaladete yang menjadi leluhur pertama manusia di Dieng. Ia bersumpah tidak akan mandi dan memotong rambutnya sehingga akhirnya menjadi gimbal, sebelum masyarakat di Dieng makmur. Kelak, keturunannya juga akan memiliki ciri serupa, rambut menggimbal (ikal).
Karena ini pula, orang tua pemilik anak bajang, haruslah mengistimewakan mereka. Segala permintaan mereka harus dipenuhi terutama saat mereka sudah bersedia untuk dipotong rambut gimbalnya. Terlebih, rambut gimbal ini muncul tidak dari lahir namun berubah secara sendirinya. Demam tinggi dan terus mengigau menjadi penanda perubahan menuju Anak Bajang.
Prosesi pemotongan rambut hanya dapat dilakukan seusai permintaan si anak sendiri, bukan karena pengaruh dan bujuk rayu siapapun. Syaratnya, orang tua harus menyediakan semua permintaan si anak, sesulit bahkan seaneh bagaimanapun permintaan itu. Pun pemotongannya juga harus dilakukan secara ritual, tidak sembarang ke tukang cukur rambut madura atau ke salon, namun harus melalui upacara adat yang dipusatkan di Kompleks Candi Arjuna.
*
tradisi cukur rambut gimbal anak bajang

TAHUN ini, melalui DCF 2018, ada 12 Anak Bajang yang siap mengikuti prosesi pemotongan rambut gimbal. Entah kebetulan atau tidak, mereka semua perempuan. Dan semuanya memiliki permintaan yang tidak lazim namun sama sekali tidak membuat repot orang tuanya. Beberapa bahkan seolah memiliki visi untuk membantu perekonomian keluarga, sebuah pandangan masa depan dari para Anak Bajang.
Simak saja permintaan Elsa (9 tahun) yang meminta kambing jantan besar dan 2 bungkus besar roti marie. Atau Nisya yang meminta mentog 3 ekor dan sepatu roda. Begitu pula rikues Adinda yang masih berusia 6 tahun yang meminta ikan lele hidup. Bagi saya, ini adalah permintaan yang memiliki visi ke depan, menjaga stabilitas ekonomi keluarga karena tentunya rikues mereka tidak hanya untuk keperluan mereka pribadi, namun juga untuk keluarga besar.
Sisi lain, beberapa anak banyak yang meminta sepeda (yang selalu berwarna pink) ataupun handphone. Sepertinya mereka tak mau kalah kekinian, atau bisa juga mereka memiliki visi menjadi seorang sosio media strategic atau minimal jadi blogger lah. Bahkan si Laila memohon agar diberlikan tablet bergambar apel untuk mainan lo hahaha. Eh satu lagi, ia juga minta dicukur oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, sebuah rikues yang tentu sangat cerdik hehe.

Ini hasilnya...

Tapi ada juga lo permohonan yang simpel seperti meminta bolu black forest atau 2 bungkus permen yupi plus 2 bungkus krupuk rambak. Fitria bahkan meminta bakso dan tempe gembus, sebuah permintaan lugu nan sederhana. Ada juga rikues wortel dan ayam jago. Hemmm...lugu ya, namun tentunya berdasar kicauan hati tak ingin merepotkan orang tua mereka.
Di beberapa permintaan, disertai pula jumlahnya. Jumlah ini juga harus dipenuhi atau mereka akan kembali mengalami panas tinggi lalu mengigau. Atau jika si orang tua belum mampu memenuhi, boleh saja ritual ditunda untuk tahun berikutnya sampai mereka dapat memenuhinya.
Saya sempat membayangkan, bagaimana jika rikues mereka adalah barang yang langka atau sulit di dapat, misal meminta ikan paus hidup. Kan susah tuh nangkepnya, belum juga membawanya ke Dieng, apa iya mau dicemplungin ke Telaga Merdada?
... tempe gembus

Beberapa penonton bahkan sempat mengucap jika dirinya adalah Anak Bajang, mereka akan meminta jodoh atau mobil atau rumah. Tapi inilah Anak Bajang, mereka meminta dari hati bukan dari napsu. Permintaan mereka bukanlah duniawi namun jelas untuk tujuan yang lebih, baik bagi diri maupun keluarga dan lingkungan. Menariknya, keduabelas Anak Bajang yang dipotong rambutnya, juga menerima bingkisan spesial dari PT Nestle. Mayan kan, bisa icip icip produk-produk ternama dari produsen terkemuka ini.
... dan selepas potong rambut gembel, dilarunglah semua potongan rambut ke Telaga Merdada. Melarung semua sengkakala, nasib buruk dan semua hal yang tak baik kembali ke ibu bumi. Anak Bajang, kini siap menuju istimewa.
Senyum ceria karena roti marie
Siap ngalap berkah ingkung sesaji

Caping seragam para guest DCF 2018

**











* Ditulis sekaligus untuk merayakan pergantian nama domain baru ke guswah.id (dibaca: guswahid)
** Kidung yang ditembangkan di sela prosesi pemotongan rambut gimbal sebagai lantun doa-doa dan permohonan bagi para leluhur.
Share:
Read More