, , , , , , , , ,

Candi Singosari: Menjumpai Ken Dedes dalam Lintas Imaji



Buah Mojo dan Candi Singosari apakah berkaitan dengan Kerajaan Majapahit?

Gending Kebo Giro terus mengalun pelan
Ken Dedes berjalan pelan diselimuti keanggunan
Dan ketika Tunggul Ametung siap, bergantian gending Ketawang Kodok Ngorek dilantunkan para waranggono
Gamelan yang dipukul syahdu, menjadikan suasana kala itu megah namun jauh dari kesan mewah
Bertautlah dua hati...penguasa cinta meski tak paripurna

MEMASUKI pelataran Candi Singosari, asa saya melayang jauh. Kembali ke ratusan tahun silam, membangun fantasi. Sekejap dalam benak, muncul bayangan si cantik Ken Dedes yang hendak dipertemukan di pelaminan dengan Tunggul Ametung si penguasa Tumapel kala itu.

Fantasi saya semakin liar. Candi Singhasari atau juga ada yang menyebut Candi Singosari ini adalah saksi pernikahan mereka. Di hadapan para empu, tetua kampung dan para Begawan, keduanya disatukan dalam ikatan suci, di depan pelataran candi sebagai satu-satunya tempat para leluhur berkumpul.

Dari jalan masuk, Gending Kebo Giro terus merangsek membawa kaki jenjang Ken Dedes ke latar candi. Di dalam, Tunggul Ametung sudah bersiap dengan dandanan ala raja, menyambut wanita kampung pujaannya dari Desa Panawijen. Di sisinya, resi dan empu bersiap menyiramkan air suci tahta seribu.

Di kejauhan, di bawah pohon pisang...sorot matanya menyala, berbeda dengan keseluruhan hadirin yang ada. Nampak tak ada restu. Hanya amarah dan cemburu menyelimuti. Bergegas langkah meninggalkan paseban di seputaran candi, menjumpai Mpu Gandring memintanya membuat keris, tak peduli hingar bingar dan hiburan di sela pesta pernikahan. Ken Arok nama pemuda itu.
*
TAPI tenang semua, tidak akan pertumbahan darah di sini. Baik di blog saya maupun di halaman Candi Singosari. Itu semua hanya fantasi mistis saya saja ketika memasuki pelataran candi. Entah mengapa, begitu melihat candi ini, saya langsung teringat kisah di Kitab Pararaton tentang cerita cinta Ken Arok-Ken Dedes-Tunggul Ametung.

Bahkan di era sebelum lahirnya Kerajaan Singasari-pun, sudah ada kisah cinta segitiga. Tidak hanya saat ini hahaha. Jadi wajar kali ya, kalau ada yang mendua bahkan mentiga hahaha...eh eh sudah, malah makin melantur.

Candi berada di tengah pemukiman
Jadi gini gesss, dalam sebuah trip ke Batu dan Malam pertengahan Juli lalu, saya singgah tanpa sengaja di Candi Singosari. Dan begitu diberitahu tentang keberadaan candi, saya langsung mupeng. Suguhan bakso malang Cak Kar yang disiapkan bahkan saya tinggalkan, demi candi dan segala aura mistis yang menyelimutinya.

Dan ya itu, begitu kaki melangkah masuk pelatarannya, langsung deh fantasi saya melayang ke Ken Dedes. Padahal setelah membaca literatur, fantasi saya melenceng jauh. Salah besar saudara-saudara hahaha kayak tebakan Jerman sang juara dunia yang bahkan gagal di laga penyisihan grup...zonkkk. Sok PeDe sih hihihi
*
TERLETAK di Desa Renggo Kecamatan Singosari, candi ini masuk di ranah Kabupaten Malang. Ia berada kawasan lembah di ketinggian 512 mdpl, dinaungi asrinya hawa Gunung Arjuna, kabarnya ia adalah Candi Hindu-Buddha. Kini ia berada di tengah pemukiman penduduk. Jaraknya tak jauh dari Jalan Raya Mondoroko yang menghubungkan Malang dan Pandaan. Masuk sekitar 300 meter di Jalan Kertanegara, kita akan jumpai candi sisi kanan. Jika terus, kita akan sampai di Bakso Malang Cak Kar. Sementara jika masih terus di Jalan Mondoroko, kita akan menjumpai salah satu outlet Malang Strudle yang ada di Singosari.



Candi utamanya berada di tengah area seluas 200x400 meter dan berdiri mirip menara, tinggi namun langsing. Di pintu masuk, terdapat pos jaga yang akan meminta kita mengisi buku tamu sekaligus memberikan donasi seikhlasnya. Pintu utama candi menghadap ke barat, ke arah Gunung Arjuna. Di sisi kiri pos, kita akan disambut jejeran arca yang sebagian sudah rusak dan entah kenapa tidak dikembalikan ke posisinya semula.

Entah arca siapa dan mengapa hanya dia yang beri atap

Jajaran arca di Kompleks Candi Singosari
Bebatuan di atap candi sebagian sudah menunjukkan usia. Maklum, ia dibangun jauh sebelum era Majapahit. Jadi, Singosari ini dipercaya jadi cikal bakal kerajaan terbesar di tanah air, Majapahit yang rajanya diturunkan dari keturunan Ken Arok.

Di ketiga sisinya yang lain, ada celah yang semula saya kira adalah pintu lain untuk masuk ke ruang utama. Di ruang utama ini pula, kita masih akan dapat menjumpai lingga, sebuah batu besar yang berlubang di tengah. Di depan lingga, sesembahan berupa dupa, menyan dan kembang setaman masih memunculkan aroma mistis yang kuat. Kebetulan sinar matahari tidak kuat menembus ruang ini, jadi kesan mistis sangat terasa meski siang hari. Ah...asa saya kembali pada Ken Arok dan Ken Dedes lagi nih.

Meski demikian, cukup banyak kunjungan yang dilakukan warga ke sini. Beda dengan kunjungan di Candi Merak, yang cukup minim. Jadi, harus lebih hati-hati agar gambar yang diambil tidak bocor meski sudah pakai sayap *eh.

Menilik dari tipe bangunan candinya, Candi Singosari ini cukup aneh untuk ukuran dan model di zaman itu. Bangunan kakinya gemuk namun badannya langsing sedangkan atapnya tidak lancip. Beberapa ahli bilang, pasti ada alasan khusus mengapa candi ini dibuat demikian. Sebuah kegiusan local pada masanya. Tapi ya maklum juga sih demikian karena sebagian beranggapan, candi ini adalah makam Kertanegara. Sebagian lagi beranggapan, candi ini belum sempurna dibangun. Entahlah...saya sendiri masih merenung dan menganggap Ken Dedes sedang mengamati saat saya nungging mencari angle yang pas demi memotret candi ini.


Dupa dan kemenyan memperkuat kesan mistis 

Share:

21 komentar:

  1. Ken Dedes lagi pesan mie ayam ke warungnya Ken Arok. Bukan ngintip kang Wahid ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aihhh di kala itu, namanya bukan mie ayam mbak tapi mi pithik kriting kuah 😂😂

      Hapus
  2. Tiwas aku nunggu Ken Arok gelut sama Tunggu Ametung buat ngrebutin Ken Dedes

    BalasHapus
    Balasan
    1. G sempet gelut owk...aku keburu selak dijak mangan di bakso cak kar. Duh

      Hapus
  3. udah lama gak kemari sama ke sumberawan hiks
    kangen sama arca dwarapala juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantab candi ini ya gan...syarat legenda sejarah. Sayang belum ada bukti tertulis dibangun dinasti siapa dan oleh sapa. Tapi very unique...aku sukak.
      Salam

      Hapus
  4. Beberapa kali ke Malang, blm pernah mampir ke Candi2.. TFS mas, jadi ingin ke sana juga kapan2..

    BalasHapus
    Balasan
    1. very recommended lo mbak menjejalah candi-candi kecil ini...selalu sarat dengan legenda dan misteri, gak lah sama candi-candi yg gede.

      Hapus
  5. pernah kemalang cuma lupa mampir kesini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Searah kok klo ke arah Pandaan...bisa tuh mampir

      Hapus
  6. bulan depan mau Ke Malang, kyaknya asyik nih mmpir ke candi Singosari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ih km kok gag ajak2 si beb. Q dah lma g k malang, apalagi k candi ini belum pernah

      Hapus
    2. Ajak tuh...duet trip lah kalian sekalian minggu madu *eh

      Hapus
  7. Sepintas sepi gitu ya??
    Apakah masih jarang pengunjungnya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih kok, bahkan lebih banyak daripada pengunjung Candi Merak

      Hapus
  8. Tadinya saya berharap dapat menemukan kisah yang digarap tentang filosofi atau mistisnya candi Singosari ini lho, Oom :D

    Endingnya sengaja digantung begitu ya? Hehehe...


    Salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ide bagus tuh nggarap cerita candi yang filosofis...wait ya, kusiapkan. Memang aku lg nyari bentuk penulisan yang tepat atau setidaknya gonta ganti tema sekaligus menakar kemampuan menulisku agar lebih kaya.


      Endingnya...iya hehe

      Hapus
  9. Padahal kecil di Malang, kuliah di Malang tp belum pernah ke sinii..huaaaa
    Merasaaaa ada yang kurang :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya perlu ditelaah lagi ke-Malang-an mu hihihi

      Hapus
  10. Ya ampun gemes, ak ppengen bisa ke sini 😆 semoga bisa kapan-kapan kali ada rejeki. Aamiin

    Banyak cerita yang bisa diusung ya Mas, dari kisag masa lalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buanyak bahkan Sangat banyak ... tinggal kita telaah dan sesuaikan dengan filosofi hidup masa kini yg berbau milenial xixixix

      Hapus