,

Mendobrak Budaya Membuang Sampah



SAMPAH sudah menjadi persoalan besar bagi kita dan dunia dewasa ini. Kehadiran sampah yang tidak hanya dari limbah rumah tangga, menjadi hal yang harus dipecahkan dengan duduk bersama oleh banyak pihak.

Sampah bukan lagi musuh manusia namun sudah lebih massive menjadi musuh dunia terutama plastik. Dan bukan rahasia lagi jika banyak pemerintah di berbagai belahan bumi berusaha ‘memeranginya’.

Banyak dana dan anggaran dikucurkan. Mulai dari sekedar kampanye, hingga aksi-aksi sosial untuk mengatasinya.

Namun, volume sampah setiap harinya seolah tidak pernah berkurang. Bahkan cenderung bertambah.

Banyak pula bermunculan saat ini komunitas-komunitas yang mencoba memanfaatkan limbah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis. Namun gerakan mereka terbatas pada limbah-limbah plastik.

Ada pula kelompok-kelompok yang mencoba memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi kompos. Tentu juga terbatas dalam jumlah yang relatif kecil dengan komposisi sampah-sampah yang berasal daun.

Lalu bagaimana dengan jenis sampah lainnya. Bahkan kadang kita lihat ada sampah kasur terbawa aliran sungai, batang dan ranting pohon mengambang dengan santainya seolah tidak memiliki beban untuk menuju muara.

Setipis itukah kesadaran masyarakat dalam membuang sampah? Semudah itu pulakah sungai yang dulu-dulu mengalirkan air biru bening segar menjadi solusi praktis mengeyahkan sampah dari halaman belakang rumah?

Sampah jenis plastik menjadi persoalan paling serius dari berbagai langkah penanganan terkait sampah. Apalagi jamak diketahui, plastik menjadi musuh utama bumi kita karena sulitnya proses daur ulang yang harus ditempuh oleh tanah.

Melalui Perwal Semarang Nomor 27 tahun 2019, Pemkot Semarang mengeluarkan aturan untuk mulai mengatasi sampah. Pemakaian sedotan plastik, gelas plastik, tas plastik dan juga styrofoam, pipet dan lain-lain, mulai dibatasi.

Sanksipun diberlakukan. Pada tahap awal, pelanggar akan mendapatkan sanksi tertulis meningkat menjadi perintah paksa lalu pembekuan usaha hingga pencabutan izin usaha.

Para pelaku usaha menjadi bidikan utama sebagai penyumbang sampah plastik terbesar di kota ini. Hotel, restoran, rumah makan, café, penjual makanan dan toko modern diharapkan mulai membatasi penggunaan barang tak mudah diurai tersebut.

Solusipun ditawarkan. Tidak saja mengajak komunitas turut serta, namun juga memberi contoh.

Dalam suatu event, masyarakat diajak mengumpulkan sampah plastik dimana satu kantong sampah yang dihasilkan ditukar dengan satu gelas kopi gratis. Dalam kesempatan lain, Pemkot Semarang memberi contoh distribusi daging kurban menggunakan besek dan pembungkus dari daun pisang.

Efektifkah? Iya saat itu. Entah karena dipandegani langsung oleh Bapaknya Wong Semarang atau karena memang semangat mendapatkan secangkir kopi gratis.

Penggunaan besek dan daun pisang juga meningkat drastis. Setidaknya selama sepekan Lebaran Qurban, volume penggunaan besek dan pembelian daun pisang serta daun jati di pasar tradisional meningkat pesat.

Tidak itu saja, Pemkot Semarang juga sudah membangun PLTSa, sebuah penghasil listrik dari tenaga sampah. Warga sekitar juga sudah memanfaatkan biogas menjadi energi yang diubah untuk memasak sehari-sehari.

Namun setelahnya apa yang terjadi? Perilaku dan pola hidup masyarakat dalam menggunakan plastik berulang kembali.  

Volume sampah di TPA Jatibarang sebagai tempat terakhir bermuaranya seluruh sampah di kota ini menjadi normal di angka 4 juta kubik per hari. Jumlahnya tak pernah benar-benar berkurang.

Mengubah Perilaku Membuang Sampah

Mengatasi persoalan sampah memang sepertinya tidak akan benar-benar dapat sempurna, total sepenuhnya bersih. Sekeras apapun usaha pemerintah dalam menerapkan larangan, sanksi dan hukuman, jika faktor perilaku ini tidak mendapat sentuhan, hasilnya tetap saja nol besar.

Pemkot Semarang bahkan memberlakukan sanksi denda Rp50 juta bagi warga yang tertangkap basah membuang sampah. Tapi tetap saja masih ditemui perilaku yang berulang sama, membuang sampah sembarangan.

Tapi iya benarkah ini soal perilaku? Jangan-jangan ini adalah budaya yang sudah mendarah daging di masyarakat?

Pasalnya selama ini, cukup banyak sentuhan personal baik melalui media, campaign maupun aksi nyata di lapangan, halus maupun frontal. Namun para pembuang sampah tidak pernah surut langkah.

Seakan tanpa beban dosa mereka melakukannya. Tak pernah ada pikiran bahwa anak cucu mereka kelak masih ingin menikmati keindahan dunia.

Lebih menyedihkan lagi, saat Indonesia sedang berbenah menjadi destinasi utama wisata dunia, perilaku masyarakatnya belum dapat berubah. Sampah dimana-mana dan menjadi keluhan utama para turis mancanegara.

Sebagai permulaan, tak perlu kita melihat lebih jauh. Mulai dari diri kita sendiri.

Membiasakan diri lalu membentuknya menjadi pola hidup yang lambat laun menjadi budaya yang akan kita wariskan ke anak cucu, menjadi pilihan terbaik. Jikapun kita belum membuat kompos dari sisa daun atau barang-barang bernilai ekonomis dari sampah plastik, kita dapat mengawalinya dari mengubah perilaku kita sendiri dalam keseharian?

Sudahkah kita membuang sampah pada tempatnya? Sudah kita membiasakan diri memberi contoh pada anak-anak kita akan kebiasaan positif?

Jikapun beranjak lebih jauh, sudah kita mengelola sampah rumah tangga kita menjadi barang-barang yang lebih berarti? Namun jika belum mampu, dua hal tersebut di atas cukuplah berarti.

Tak perlu janji, mari kita beri bukti. Ibu Pertiwi menanti…


Referensi:



Share:
Read More

Saparan: Pesan Persaudaraan dari Lereng Merbabu


SENIN siang itu cukup terik. Apalagi sepekan terakhir, matahari sedang berada di titik terdekat dengan khatulistiwa.

Serasa di ubun-ubun, panasnya menyengat, menghasilkan peluh yang menderas. Berkali-kali menyeka keringat, bukan berarti langkah kami surut.

Menyusur jalan kampung yang berdebu di penghujung kemarau ini, kami bergegas. Masih banyak rumah yang harus kami kunjungi, beradu lalang dengan ratusan warga lainnya.

Apalagi masih menumpuk jajan yang musti kami icipi. Belum lagi menu-menu lezat seperti opor ayam, rendang daging atau telor balado bahkan bakso, serasa menanti kedatangan kami.

Tapi ini bukan Lebaran. Syawal telah jauh ditinggalkan, sekira 4 bulan di belakang. Senin legi 28 Oktober ini, tepat pula jatuh pada 29 Safar 1441 H.


Inilah Saparan. Sebuah tradisi yang terus dijaga hingga kini oleh warga Desa Sumogawe, Getasan Kabupaten Semarang.

Di sini, tak perlu menunggu lebaran untuk bersilaturahmi. Di tempat ini, semua makanan tersaji free tanpa harus menanti datangnya hari fitri.

“Saat Saparan, semua kolega, kerabat dan teman dekat kami undang hadir untuk memperpanjang silaturahmi dan kekerabatan,” Maman, warga Krajan Sumogawe yang menjadi tujuan pertama saya mulai berkisah.

Saparan bagi warga Sumogawe adalah lebaran ketiga setelah Idul Fitri dan Idul Adha. Di saat inilah seluruh warga membuka pintu rumah lebar lebar-lebar, tak lupa karpet dan tikar juga digelar.


Aneka rupa jajan tersaji, menunggu disantap sembari berbasa-basi. Di ruang makan, menu-menu masakan berat menanti dicicipi, menahan gejolak perut agar segera diisi.

Tapi tunggu dulu. Tak terlalu bijak menyantap semua menu yang tersedia. Pasalnya, warga lain juga menyediakan menu serupa dan tak berkah jika semua sajian warga yang dikunjungi tak dirahapi.

“Saat open house seperti sekarang ini, semua warga Sumogawe berada di rumah. Yang kerja ya libur demi menunggu tamu-tamu yang akan berkunjung. Dan semua tamu, wajib makan di setiap rumah yang mereka kunjungi karena Saparan adalah wujud syukur warga atas nikmat Illahi,” imbuh Maman seraya mempersilahkan rekan-rekan kerjanya di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Salatiga menyikat habis semua sajian.


Sebelumnya, seluruh warga telah berkumpul di tetua kampung. Bersama mereka menggelar kenduri dan merti bumi, memberi sesaji dari daging ternak dan hasil bumi.

Kirab budaya seluruh tua muda bahkan anak-anak menjadi penanda, betapa rasa syukur adalah segalanya. Pun mereka tak lupa berdoa, tilik kubur dan ziarah dikemas dalam nyadran, tepat sepekan sebelum Saparan.

“Kalau di Dusun Magersari, Saparan-nya jatuh pada setiap Rabu pon bulan yang sama. Jadi masing-masing Saparan di berbagai dukuh di Sumogawe tidak bareng. Kami jadi bisa saling berkunjung, bergantian silaturahmi antar warga dusun. Prosesinya juga sama, diawali dengan merti bumi dan kirab budaya,” ungkap Tiyo, warga Magersari.

Kyai Sumokerti dan Nyai Gawe, pasangan pendiri Desa Sumogawe, pasti bangga dengan polah tingkah cucu cicit mereka. Di tengah gejolak dan syahwat negeri yang rakyatnya mudah tersulut emosi, Sumogawe membawa pelita keharmonisan, persaudaraan dan kebersamaan.

Bahwa open house bukan sekedar milik mereka yang berlabel pejabat. Bahwa sebenarnya amatlah mudah membuat Nusantara ini bahagia, selama masing-masing manusianya memegang teguh aturan dan adat budaya.

Pesan persaudaraan dari lereng Merbabu ini, layak kita bawa ke penjuru negeri. Mengabarkan sekaligus menyebarkan virus arif lokalnya tradisi Saparan.

“Satu rumah lagi sepertinya masih mampu mas perutnya, tadi aku sengaja makan dikit-dikit kok biar muat banyak. Mumpung gratis lo,” rayu seorang rekan.

Tidak. Gumamku lirih bergeming.

Saya terlalu tidak sabar ingin segera mengabarkan tentang Saparan kepada dunia. Tentang semangat persaudaraan dan nguri budaya dari Sumogawe yang ternyata tak hanya dikenal atas produksi susu sapi perah dan Pokdarwis Ken Nyusu-nya.

Saya sangat bersemangat untuk Sumogawe...

Share:
Read More
, , ,

Hidup Seperti Rollercoaster (Catatan Perjalanan ke Kawah Ijen)




HIDUP itu seperti rollercoaster, naik turun, tidak selalu di atas namun juga tidak melulu di bawah. Kadang kencang, kadang pelan, sesekali menegangkan, meski banyak juga yang membosankan.
Saya sepakat itu. Bahkan hitungannya tidak lagi tahun, tapi bisa dalam kurun waktu beberapa jam.
Seperti yang saya alami dalam trip ke Ijen Banyuwangi, akhir Agustus lalu. Bahwa sehari sebelumnya saya masih staycation di hotel bintang lima, dimanjakan dengan fasilitasnya, nongkrong bersama kawan di cafe ternama, hidup saya mewah.
Ya untuk saat itu, dua hari itu saja saya berada di kasta teratas kehidupan. Selebihnya ya karena memang saya tidak mampu bergelimang kemewahan bintang lima, ya wajib disyukuri ketika ada yang mentraktir menginap di situ.
Kehidupan saya berputar cepat. Usai melepaskan diri dari rombongan, saya sudah langsung berada di level terendah tatanan social kita.
Dari yang naik bus umum dengan label ekonomi, hingga ojek menuju Paltuding seharga 200K. Itupun awalnya masih saya tawar lo. Dan setelah tahu jarak tempuh yang sebenarnya, saya cukup menyesal hanya memberi di nominal itu.
Bayangin saya, turun bus di pertigaan Pos Gathak, Bondowoso, jarak ke Paltuding masih sekitar 58Km. Dengan posisi jam di angka 17.30, mau tak mau pilihannya hanya ngojek atau nginap di sini karena saya terlanjur memilih jalur Bondowoso.
Jarak mungkin sesuatu yang bisa ditempuh, iya. Tapi demi mengingat rute, jalur berkelok naik turun, hutan dan senyap serta rasa cemas khawatir akan adanya tindak kriminal, jelas jika saya jadi pengojeknya, sayapun tak mau hanya diberi bayaran 200K.
Bahkan 500K jika mengendarai sepeda motor, saya masih akan menolak. Adoh tenan kas, adem san!! Ya maklum lah, jalurnya menuju titik pendakian terdekat ke Ijen yakni Paltuding, jauh, berkelok dan menanjak sangat dingin.
Pun ketika di Paltuding, hidup saya sudah mulai berubah lagi. Batasan memulai pendakian jam 01.00 WIB, membuat semua wisatawan atau pendaki harus bersabar.
Mereka bisa tinggal di hotel, homestay, tidur di dalam mobil jika bawa kendaraan pribadi atau seperti saya menghabiskan waktu berbincang dengan pemilik warung dan beberapa teman baru. Badan saya memang penat sejak perjalanan pagi sebelumnya dari Batu, Malang yang total butuh waktu hampir 10 jam dengan angkutan umum.
Tapi rasa penasaran, passion untuk melihat eternal blue fire, jauh mengingkari rasa capek. Bahwa sudah sejak 20 tahun silam saya mendambakan memotret api biru abadi yang hanya ada dua di dunia ini, tak terbendung. Kalau di Indonesia ada, ngapain juga harus ke Islandia kan?!

Bermula dari sebuah majalan fotografi, tulisan dan foto blue fire terpampang. Fotomedia namanya, sekarang sudah almarhum, menyebut destinasi di Banyuwangi adalah satu dari list yang harus dikunjungi wisatawan terutama penghobi fotografi.
Pun ketika rekan perjalanan saya dari pos I sudah menghilang karena terhambat dan berjalan lebih lambat, saya terus menanjak sendirian di tengah keramaian. Ritme dan tempo berjalan tak pernah saya ubah sebagai bentuk penghematan atas nafas yang tersengal dan usia yang tak lagi bisa dibilang remaja. (Ya iyalah, anak saya sudah 3 je)
Dua jam berikutnya, hidup saya sudah kembali berputar. Pengalaman, tantangan dan petualangan yang saya damba dua dekade terakhir, terpapar jelas, memuaskan semua raga di tengah lelah dan kengerian medan menuju si api biru yang bahkan sebenarnya tidak jauh beda dengan nyala api gas elpiji di rumah.
Ya memang bener sih, blue fire tak beda dengan LPG. Yang bikin mereka tak serupa adalah, blue fire ini muncul dari sela bebatuan di Kawah Ijen dimana untuk mendapatkan fotonya saja, kita harus bersaing keras dengan kepulan asap belerang yang tak segan membuat nafas sesak.
Lebih dari itu, api ini sudah menghilang jika sudha lebih dari jam 04.30. Ya wajar memang, nyala birunya sudah akan terbias matahari jika lebih dari waktu tersebut.
Aktivitas penambang belerangpun tak kalah indah diabadikan. Mereka yang berjuang demi hidup dengan pertaruhan kesehatan yang terus menerus terpapar asap belerang, taruhan nyawa melintas jalan setapak di tebing dengan membawa kurang lebih 150Kg belerang di pikulan kiri dan kanan, juga merupakan pilihan momen bagus untuk diabadikan.

Dan ketika hidup adalah pilihan; memilih blue fire atau sunrise Ijen, pada akhirnya saya memilih tidur di sela bebatuan. Terhindar dari asap belerang, keramaian serta heboh ribuan manusia yang berfoto dengan latar belakang si api biru, saya memejam barang sejam.

Saya baru ingat, saya belum merem sekejappun sejak lepas dari hotel bintang lima di Batu, di hotel yang juga diinapi Ibu Menkeu Sri Mulyani malam itu. Lebih lagi, saya tipe yang tidak bisa merem di tempat yang tidak bisa selonjor atau dengan kata lain harus tidur di tempat yang bisa dihinggapi dengan nyaman (baca: posisi tidur mengkurep kalau bisa lengkap dengan memeluk guling dan lalu mengilerinya).
Dan lagi-lagi hidup adalah pilihan, untuk terus berputar seperti rollercoaster atau berbaring nyaman di dasar bebatuan Kawah Ijen. Saya harus ingat bahwa saya harus pagi-pagi turun ke Banyuwangi jika memang hendak melanjutkan petualangan ke Baluran.
Di sana...petualangan baru sudah menunggu.

Jangan lupa pula mampir di channel Youtube gus Wahid United ya gaess...


Share:
Read More

Diplomasi Patah Hati



BAGI sebagian (besar) orang, patah hati adalah bencana. Lebih beresiko mungkin dari seluruh bencana alam yang ada di muka bumi.
Itulah pula mengapa, pedangdut kesohor tanah air Alm Meggy Z lebih memilih sakit gigi daripada patah hati. Putus cinta adalah duka tak berkesudahan, menurutnya.
Sementara sakit gigi, paling banter hanya bertahan sepekan. Setelahnya normal lagi, ketawa lagi, beda dengan putus cinta yang bisa menahun.
Awalnya juga demikian, saya pikir saya akan tersuruk poranda di lembah duka. Pasca putus dari mantan (ya iyalah mantan, kan sudah putus yeee), saya tak akan lagi dapat melihat cerahnya surya, indahnya dunia (lebay dikit ah).
“OK kita putus. Baik-baik!” kata baiknya diucapkan dengan penekanan mendalam, menjurus ketus.
Lunglai beberapa jam mendengar maklumat tersebut, saya terkesiap. Sepertinya, perasan ini pula yang dirasakan tentara Jepang saat mendengar Indonesia merdeka dari RRI kala itu.
Atau hancurnya perasaan warga Amerika saat John F Kennedy tewas ditembak. Ditimpuk dengan isu perselingkuhannya dengan Marlyn Monroe, tersuruk sudah.
Tapi bukan Wahid kalau hanya menangis di sudut ruangan. Bukan saya itu kalau hanya meratap melihat atap yang dipandang sampai ubananan pun tak akan pernah berubah, tetap plafonnya berwarna putih lethek saking banyaknya sawang rumah laba-laba.
Hari kedua saya bangkit. Masih bingung mau berbuat apa. Biasanya, hari-hari gini ada dia yang menemani, kini harus sendiri.
Menata hati, saya beringsut. Meski mirip siput, perlahan namun pasti.
Tetap saja bingung mau berbuat apa. Nanar menatap sekeliling, mata tertancap pada deretan buku di lemari. Sudah lama saya tak membaca.
Jadi teringat, kami dulu  rajin berburu buku. Ya, hanya berburu. Buku yang terbeli, hanya menambah daftar koleksi, selebihnya kami lebih sering berdua daripada membaca.
Atau kalaupun membaca, ya lebih sering saling membaca mata, meresensi isinya lalu mengartikan maksudnya yang sebenarnya juga saling paham. Ah sudahlah, jadi ingat lagi kannn...
Lalu bukunya? Hehe lupa. Terserak di samping pergumulan kami. Perburuan buku seolah hanya jadi stimulan bahwa kami pasangan serasi, kemanapun berdua tak bisa dipisahkan.
Eh eh...ternyata sudah dua buku sudah habis saya baca dalam sehari. Padahal jika lagi normal, satu buku biasa saya lahap dalam satu pekan. Hehe maklum lagi gak waras...
Saya bosan, mencari sesuatu yang pula jarang saya lakukan. Momentum putus cinta, selayaknya adalah melakukan hal-hal yang jarang kita lakukan.
Lagi-lagi, proses cuci motor juga sudah rampung kurang dari 1 jam. Padahal 2 motor sekaligus saya usap dan saya sabun, yang bahkan saya lupa mensabun diri saya sendiri. Mandi maksudnya, jangan ngeres aja tuh pikiran.
Bersih atau kurang bersih ya dimaklumi saja, namanya juga lagi putus cinta. Sudah bagus lo mau tandhang gawe dan bukannya nangis doang di pojokan kan.
Dan ketika genap satu minggu, ternyata sudah ada 3 tulisan yang siap tayang di blog. Dan saya sendiri tidak mengetahui, bagaimana saya seproduktif ini. Sebelumnya? Boro-boro satu minggu satu tulisan, dalam sebulan saja belum tentu saya menghasilkan :D
Pas saat jatuh cinta, seolah dunia milik berdua. Semua yang kita lakukan, terfokus kepadanya. ‘Dia’... seolah adalah ‘NOS’ bagi pembalap Nascar, menjadi ‘Muse’ bagi Mozart dalam mencipta karya.
Seharusnya sih demikian. Tapi kalau kita buta dan lebih menghabiskan waktu berdua, ya mandeglah proses produksi. Kini saya bayar semuanya ketika putus cinta.
Lalu, apakah iya kita harus putus cinta dulu agar bisa over produksi?


Share:
Read More
,

Pesona Lighting Waterfall Curug Gondoriyo



gus Wahid United


SEBUAH destinasi wisata baru yang unik, berbeda dan inovatif segera lahir dari Kota Semarang. Ya, destinasi Curug Gondoriyo menawarkan sensasi berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya.

Perpaduan air terjun, tata kelola lampu dan wisata malam, dipastikan akan menarik minat pengunjung. Dan memang, curug setinggi 25 meter di Dusun Karang Joho, Kelurahan Gondoriyo di Ngaliyan ini memang berbeda.

Keberadaan lampu warna warni menyorot sisi dalam air terjun, akan membuat mata jatuh cinta. Lensa kamerapun tak ikut berhenti mengabadikannya.

Dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Curug Gondoriyo Arifin, destinasi ini baru akan dibuka secara resmi pada Februari mendatang. Pengelola saat ini masih mematangkan berbagai persiapan serta story telling terkait spot di sekitar curug.

“Nanti akan kami buka untuk umum pada 9 Februari. Ada dua jam kunjungan yakni pagi mulai jam 09.00-17.00 dan malam mulai 19.00-24.00,” terang Ketua Pokdarwis Curug Gondoriyo Arifin.

Dipastikan, dalam mengelola dan tata lahan, pihaknya tidak akan mengubah estetika ataupun merusak alam. Dan sejak setahun silam, pihaknya terus bahu membahu bersama warga dan pemerintah untuk menyiapkan curug ini sebagai destinasi wisata unggulan di Kota Semarang.

Selain keindahan curug, di sisi kiri, pengunjung juga akan menemui sebuah gua setinggi 10 meter dengan lebar 3 meter dan kedalaman 2,5 meter. Di dalamnya terdapat sebuah batu yang mirip meja besar dan patung mirip kepala primata.

Dimungkinkan, gua ini semacam tempat pertemuan rahasia atau persembunyian sementara. Keberadaan batu seperti meja besar menjadi penandanya.

Kabarnya di sisi kanan curug juga ada gua yang hanya dapat dilihat secara mistis. Jadi, hanya mereka yang memiliki indra keenam saja yang dapat melihat bentuknya, kalau aku sih hanya temannya Indra hahaha.

Tidak hanya itu, ada pula batu tumpang yang meski saling bertumpuk, namun batu yang atas tidak jatuh. Konon makhluk gaib penunggu batu ini seringkali mengingatkan pengunjung atau warga yang melintas dan memiliki niat buruk, agar mengurungkan niatnya.

“Konon ada gembala yang tidak tahu bahwa di bawahnya ada jurang curug dan ia terus berjalan. Karena bisikan gaib, ia memang terjatuh namun hanya tersangkut di akar rerumputan dan tidak terjerembab ke dasar curug sehingga ia selamat. Jadi kalau ada sepasang muda mudi pengin berniat burukpun, akan diingatkan lebih dulu,” imbuh Arifin.

Menariknya lagi, ada juga fosil kayu jati raksasa sepanjang 25 meter yang berbentuk seperti saluran. Air yang mengalir kabarnya dapat mengairi sawah seluas 50 ha. Saluran ini diberi nama Talang Londho.
gus Wahid United

Lebih dari itu, Pokdarwis juga telah menyiapkan jembatan comblang yang dimasudkan agar pengunjung dapat lebih mesra kepada pasangan maupun calon pasangannya. Layaknya Mak Comblang, para muda mudi yang jomblo dapat menemukan jodohnya di sini, sedangkan bagi yang sudah berpasangan dapat lebih mesra kepada pasangannya.

Di ujung jembatan bambu ini sudah disiapkan gembok cinta untuk mengunci cinta masing-masing pasangan yang melintas di Jembatan Comblang. Untuk selanjutnya, mereka dapat bersantai di gazebo yang diberi nama Gubuk Patemon.

Ada juga pemandian Kali Anyes yang mata airnya tidak pernah kering meski di musim kemarau sehingga sangat membantu kebutuhan air warga sekitar. Lebih dari itu, air dari mata air ini sangat dingin layaknya air es.

Konon bagi yang memiliki hasrat dan keinginan, dapat membasuh muka atau mandi sekaligus memohon kepada Yang Maha Kuasa, niscaya akan dikabulkan. Benar atau tidak, tentu saja itu kembali kepada pribadi masing-masing.

Dari sisi kuliner, pengunjung akan disuguhi nasi bleduk. Makanan berbahan dasar nasi jagung ini akan disuguhkan bersama urap sayuran serta ikan wader dan bacem tahu tempe.

Sedangkan wedang sinom merupakan air rebusan pucuk daun asam yang diolah bersama gula jawa. Minuman ini dipercaya sangat baik untuk kesehatan terutama untuk lambung.

gus Wahid United

Tertarik? Cobalah berkunjung ke sana dimana masing-masing pengunjung cukup mengeluarkan ongkos tiket Rp10 ribu dengan fasilitas free wedang sinom. Jam kunjungnya untuk siang adalah jam 09.00-17.00 dan untuk malam hari mulai jam 19.00-22.00.

Untuk akses menuju ke Curug Gondoriyo, kita dapat  mengambil rute dari Ngaliyan menuju kawasan BSB. Tepat sebelum LP Kedungpane, langsung berbelok ke kanan menuju lokasi dengan kondisi jalan yang sangat baik dan dapat dilalui kendaraan roda empat.

Pengunjung bahkan dapat langsung memarkirkan kendaraannya di lokasi parkir tepat di atas curug dan tidak perlu berjalan jauh untuk melihat keberadaan air terjun ini kok.


gus Wahid United

gus Wahid United

Baca juga:
- https://www.hidayah-art.com/2019/02/wisata-kekinian-di-air-terjun-gondoriyo.html
- https://www.doyanjalanjajan.com/2019/02/lighting-waterfall-di-curug-gondoriyo.html


Share:
Read More