,

7 Mitos Melegenda dari Sumur Jalatunda

gus Wahid

Mengunjungi Dieng, belum lengkap rasanya jika belum mampir ke Sumur Jalatunda. Di sini, akan disajikan sensasi sebuah sumur raksasa dengan kedalaman sekitar 100 meter. Dengan HTM hanya Rp5 ribu per orang yang dikelola Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, pengunjung sudah dapat menikmati pemandangan luar biasa yang beda dengan destinasi lainnya.
Meski demikian, Sumur Jalatunda memiliki mitos yang bisa dipercaya atau tidak sama sekali, semua bergantung pada pemahaman kita masing-masing. Dan berikut tujuh mitos terkait Sumur Jalatunda.
1. Hasil Hitung Tangga Tidak Akan Pernah Sama
Jika anda sudah sampai di pelataran parker Sumur Jalatunda, jangan lupa mulai menghitung berapa jumlah anak tangganya. Menurut mitos, jumlah hasil hitung masing-masing orang tidak akan pernah sama. Jikapun sama, ketika dihitung kembali saat turun, pasti akan berbeda.
Secara logika, hal ini mungkin terjadi karena kita tidak fokus hanya menghitung anak tangga. Pasalnya, para pengunjung semestinya lebih focus untuk berwisata, berfoto dan sebagainya. Mungkin hasilnya benar-benar akan sama, jika proses penghitungan dilakukan berbarengan, serentak, tanpa melakukan aktivitas lain selain menghitung anak tangga.
Saya sendiri berhasil menghitung jumlah anak tangga di angka 87. Sementara beberapa rekan menghitung di angka 86 dan 88. Cobalah menghitung jika ke sini, lalu kita bandingkan hasilnya.
gus Wahid

2. Permintaan Terkabul Jika Dapat Melempar Batu Mengenai Dinding Sumur
Saat sudah sampai di atas, di gardu pandang, anda dapat melempar batu ke dalam sumur. Konon, jika lemparan kita dapat sampai ke dinding sumur di seberang, permintaan kita akan terkabul.  Benarkah? Wallahualam.
Yang jelas, saat itu saya melempar menggunakan pecahan genteng, dan tidak pernah dapat mencapai bibir sumur di seberang. Boro-boro mendekati, lemparan saya bahkan sudah terjatuh ketika melewati tengah sungai.
Logikanya memang benar, karena gaya gravitasi bumi menarik semua benda di atasnya. Selain itu, jika mempercayai mitos yang satu ini, tentu dikhawatirkan akan menjadi musyrik karena tentunya segala permintaan dan doa hanya dipanjatkan kepada Allah SWT.
Tapi kalau sekedar ingin mencoba dan menguji lemparannya, ya boleh-boleh saja kok. :D
gus Wahid

3. Merupakan Jalan Penghubung ke Laut Selatan
Satu kisah lain menyatakan, Sumur Jalatunda merupakan jalan penghubung ke Kerajaan Laut Selatan. Entah penghubung dalam artian mistis ataupun logis.
Yang jelas, kita semua harus percaya bahwa seluruh air di daratan, memiliki kaitan erat dengan air di lautan. Toh semua aliran air nantinya akan bermuara di laut kan? Jika ternyata lautan yang dimaksudkan adalah Laut Selatan (Samudera Hindia), mungkin karena secara geografis, Dieng memang lebih dekat ke selatan daripada ke utara (Laut Jawa).
4. Berasal dari Legenda Roro Jongrang dan Bandung Bondowoso
Namanya juga legenda, boleh percaya boleh tidak. Namun kisah ini melekat erat dalam keseharian warga Dieng.
Alkisah, Roro Jongrang membuat syarat yang tidak mudah bagi Bandung Bondowoso yang ingin meminangnya, yakni harus membuat sumur yang besar dan dalam. Dengan kesaktiannya, Bandung berhasil memenuhi permintaan tersebut. Namun dengan kecerdikannya, Roro memperdaya Bandung dan meminta masuk ke dalam sumur, lalu sesaat setelah masuk, lubang sumur ditimbun batu agar Bandung Bondowoso mati dan tidak dapat kembali ke permukaan.
Legenda ini senada dengan kisah adanya putri cantik namun buruk hati. Ketika hendak dipinang seorang pengeran, ia membuat syarat serupa, membuat sumur dan lalu mengubur sang pangeran di dalam sumur ketika ia turun ke dasar untuk mengeceknya. Kisah ini juga masih beredar luas di kalangan warga Dieng, sampai saat ini.
gus Wahid

5. Berasal dari Kawah Purba
Sebuah cerita lain menyebut, Sumur Jalatunda dulunya merupakan kawah purba. Karena sudah tidak aktif, lubang kawah yang menganga ini akhirnya dipenuhi dengan air tampungan hujan dan jadilah seperti telaga yang sekarang ini dalam dalam ukuran seperti sumur raksasa.
Kemungkinan adanya kawah purba, sangat logis mengingat Kaldera Dieng juga dimungkinkan dari hasil letusan gunung api purba maha raksasa jutaan tahun silam. Keberadaan kawah-kawah purba dan sisanya ini dapat dibuktikan dengan banyaknya lahan berbentuk ceruk besar di Dieng, seperti halnya di lokasi Kompleks Candi Arjuna, Bukit Pangonan, Sumur Jalatunda dan belasan kawah-kawah yang masih aktif di Dieng hingga saat ini.
6. Jangan Membuang Sampah ke Dalam Sumur
Barang siapa yang membuang sampah ke dalam Sumur Jalatunda, niscaya ia akan mendapat tuah atau balak (bahaya). Ya tentu saja, karena membuang sampah adalah tindakan yang kurang terpuji. Namun budaya masyarakat yang sering membuang sampah di sembarang tempat, sulit dihapuskan.
Mungkin dengan adanya tuah tersebut, warga dan wisatawan dapat berpikir dua kali untuk membuang sampah sembarang. Karena memang lebih baik membuang sampah di tempat sampah dan membuang mantan di kenangan hehe.
gus Wahid

7. Suasana Mistis Berkabut Selimuti Area Sumur
Suasana ini dapat kita jumpai di sore hari, kala kabut mulai turun. Di saat seperti itulah, nuansa dan suasana mistis akan sangat terasa. Apalagi ditambah keberadaan gapura berbentuk cantik di sisi utara pintu masuk.
Kabut dan candi, seolah menjadi perangsang mistis paling OK di Sumur Jalatunda. Entah benar atau tidak benar, kalau bicara hal-hal mistis, memang di sekitar kitapun banyak makhluk gaib, tidak hanya di sekitar Sumur Jalatunda
gus Wahid

Nah demikian tadi 7 mitos yang kental menyelimuti keberadaan Sumur Jalatunda. Percaya atau tidak percaya, kembali pada individu masing-masing. Yang jelas, kawasan Dieng memang selalu eksotis untuk dieksplor.
Selamat piknik!!
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar