Diplomasi Patah Hati



BAGI sebagian (besar) orang, patah hati adalah bencana. Lebih beresiko mungkin dari seluruh bencana alam yang ada di muka bumi.
Itulah pula mengapa, pedangdut kesohor tanah air Alm Meggy Z lebih memilih sakit gigi daripada patah hati. Putus cinta adalah duka tak berkesudahan, menurutnya.
Sementara sakit gigi, paling banter hanya bertahan sepekan. Setelahnya normal lagi, ketawa lagi, beda dengan putus cinta yang bisa menahun.
Awalnya juga demikian, saya pikir saya akan tersuruk poranda di lembah duka. Pasca putus dari mantan (ya iyalah mantan, kan sudah putus yeee), saya tak akan lagi dapat melihat cerahnya surya, indahnya dunia (lebay dikit ah).
“OK kita putus. Baik-baik!” kata baiknya diucapkan dengan penekanan mendalam, menjurus ketus.
Lunglai beberapa jam mendengar maklumat tersebut, saya terkesiap. Sepertinya, perasan ini pula yang dirasakan tentara Jepang saat mendengar Indonesia merdeka dari RRI kala itu.
Atau hancurnya perasaan warga Amerika saat John F Kennedy tewas ditembak. Ditimpuk dengan isu perselingkuhannya dengan Marlyn Monroe, tersuruk sudah.
Tapi bukan Wahid kalau hanya menangis di sudut ruangan. Bukan saya itu kalau hanya meratap melihat atap yang dipandang sampai ubananan pun tak akan pernah berubah, tetap plafonnya berwarna putih lethek saking banyaknya sawang rumah laba-laba.
Hari kedua saya bangkit. Masih bingung mau berbuat apa. Biasanya, hari-hari gini ada dia yang menemani, kini harus sendiri.
Menata hati, saya beringsut. Meski mirip siput, perlahan namun pasti.
Tetap saja bingung mau berbuat apa. Nanar menatap sekeliling, mata tertancap pada deretan buku di lemari. Sudah lama saya tak membaca.
Jadi teringat, kami dulu  rajin berburu buku. Ya, hanya berburu. Buku yang terbeli, hanya menambah daftar koleksi, selebihnya kami lebih sering berdua daripada membaca.
Atau kalaupun membaca, ya lebih sering saling membaca mata, meresensi isinya lalu mengartikan maksudnya yang sebenarnya juga saling paham. Ah sudahlah, jadi ingat lagi kannn...
Lalu bukunya? Hehe lupa. Terserak di samping pergumulan kami. Perburuan buku seolah hanya jadi stimulan bahwa kami pasangan serasi, kemanapun berdua tak bisa dipisahkan.
Eh eh...ternyata sudah dua buku sudah habis saya baca dalam sehari. Padahal jika lagi normal, satu buku biasa saya lahap dalam satu pekan. Hehe maklum lagi gak waras...
Saya bosan, mencari sesuatu yang pula jarang saya lakukan. Momentum putus cinta, selayaknya adalah melakukan hal-hal yang jarang kita lakukan.
Lagi-lagi, proses cuci motor juga sudah rampung kurang dari 1 jam. Padahal 2 motor sekaligus saya usap dan saya sabun, yang bahkan saya lupa mensabun diri saya sendiri. Mandi maksudnya, jangan ngeres aja tuh pikiran.
Bersih atau kurang bersih ya dimaklumi saja, namanya juga lagi putus cinta. Sudah bagus lo mau tandhang gawe dan bukannya nangis doang di pojokan kan.
Dan ketika genap satu minggu, ternyata sudah ada 3 tulisan yang siap tayang di blog. Dan saya sendiri tidak mengetahui, bagaimana saya seproduktif ini. Sebelumnya? Boro-boro satu minggu satu tulisan, dalam sebulan saja belum tentu saya menghasilkan :D
Pas saat jatuh cinta, seolah dunia milik berdua. Semua yang kita lakukan, terfokus kepadanya. ‘Dia’... seolah adalah ‘NOS’ bagi pembalap Nascar, menjadi ‘Muse’ bagi Mozart dalam mencipta karya.
Seharusnya sih demikian. Tapi kalau kita buta dan lebih menghabiskan waktu berdua, ya mandeglah proses produksi. Kini saya bayar semuanya ketika putus cinta.
Lalu, apakah iya kita harus putus cinta dulu agar bisa over produksi?


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar