, , , ,

9 Hal Salah Kaprah Saat Lebaran

Menuju sempurna
Kepompong...menuju kesempurnaan


BANYAK orang menganggap, perayaan lebaran adalah bagian dari Islam. Padahal, Idul Fitri merupakan lahir kembali insan ke dunia usai diuji sebulan penuh di melalui Bulan Ramadhan dengan menahan seluruh hawa napsunya. Ya mirip dengan transformasi ulet menjadi kupu-kupu cantik gitu setelah melalui proses menjadi kepompong lebih dulu.
Tapi faktanya, banyak orang salah mengartikan Idul Fitri. Fitri dan lahir kembali diartikan sebagai saran untuk hal-hal yang sebenarnya kurang produktif, kurang bermanfaat bahkan lebih cenderung melakukan tradisi budaya daripada syariat Islam. Jadinya salah kaprah deh...pffftt
Namun justru budaya inilah yang berkembang pesat di masyarakat. Tradisi itu juga diyakini sebagai sebuah kebenaran lo. Sementara di negara asalnya sono, perayaan Idul Fitri jauh berbeda dengan yang di sini. Konon begitu kalau di Arab, entah sih...saya sendiri belum pernah ke Arab meski wajah saya agak kearab-araban hihi.
Nah inilah hal yang menjadi salah kaprah dalam melaksanakan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia:

1.       Sungkeman
Hampir semua orang memanfaatkan momentum Lebaran untuk bermaaf-maafan. Bahkan kepada orang tua kita, selalu harus ada tradisi sungkeman, muter dari kakak pertama dan berakhir di adik yang paling ragil. Bergantian, si kakak kemudian akan juga disungkemi adik-adiknya, anak-anaknya, keponakan dan begitu seterusnya.
Yakin deh, sungkeman ini adalah tradisi Jawa. Memang tujuannya bagus, yakni saling memaafkan. Namun menurut Islam, memaafkan mah tidak perlu nunggu Lebaran. Begitu merasa salah, ya langsung saja minta maaf. Iya kalau umur kita bisa sampae lebaran tahun depan? Kalau tidak, kan berabe.
Nah menariknya, saat sungkeman atau bermaaf-maafan, selalu mengucapkan Minal Aidzin wal Faizin yang ternyata artinya bukan meminta maaf atau memaafkan lo. Maunya bergaya keara-araban, tapi salah arti hahaha.

Saya sendiri sudah mulai menghilangkan sungkeman ini ke generasi kedua. Anak-anak sudah tidak lagi saya biasakan untuk sungkeman saat Lebaran. Saya paling ikut sungkem hanya kepada orang tua dekat saya (Ibu dan mertua) sembari pelan-pelan mlipir untuk tidak sungkem ke yang lain hahaha
Silaturahmi juga dilakukan untuk keluarga jauh yang selama ini jarang dikunjungi. Tapi khusus silaturahmi ini, saya sendiri mengapresiasi karena memang diajarkan penting di Islam. Ya sekaligus menanya kabar saudara-saudara kita yang jarang bertemu.

2.       Mudik dan THR
Mudik dan pembagian Tunjangan Hari Raya (THR), juga hanya ada di Indonesia. Tujuannya adalah untuk membantu mereka yang merayakan Idul Fitri. Dari kacamata si penerima, THR tentu menjadi berkah, gaji ke-13 bagi karyawan swasta, macam aku ini. Tapi dari sisi pengusaha, THR adalah suatu pengeluaran luar biasa. Bayangkan, jika di negara lain hanya ada 12 bulan gaji, di sini bisa lebih loh hahaha...
Begitu pula dengan mudik. Tradisi pulang kampung ini juga lucu. Banyak yang bertanya,Mudik kemana?. Ketika dijawab, Aku mudik ke Jawa.
“Jawanya mana? Kapan balik Jakarta?” “Aku di Semarang. Aku balik H+7”
Terasa aneh kan. La apa Jakarta itu bukan bagian dari Pulau Jawa? La apa Jakarta itu pulau terpisah layaknya Pulau Seribu atau bahkan Sumatera?
Lebih dari itu, mudik juga telah mampu menggerakkan 19 juta manusia dari Jakarta ke berbagai daerah tujuan (data prediksi pemudik 2018 dari Kemenhub). Padahal, selama belasan jam-jam, mereka didera kemacetan, antre panjang, kaki menekuk di bawah jok, bagasi menumpuk dengan baju dan oleh-oleh. Tapi inilah tradisi...sulit ditolak. Ada ungkapan juga, kalau Lebaran tidak pulang kampung, berarti tidak berbakti kepada orang tuanya apalagi jika masih hidup.
Tapi jika mudik dengan niatan bersilaturahmi, saya acungi jempol deh...pokoke silaturahmi di atas segalanya.
Kan bagi yang jomblo, biasa juga diberi pertanyaan, "Kapan nikah? kok calonnya gak diajak kemari? Gak laku ya." :D

3.       Belanja Baju Baru
Entah siapa yang memulai, hingga sata usia SMP, ibu selalu membelikan baju baru saat Lebaran. Jumlahnya selalu berpasangan, baju dan celana, satu stel katanya. Selebihnya di bulan-bulan lain, saya tidak akan dibelikan baju baru, kecuali baju seragam sekolah ini.
Tapi mulai akhir SMP, saya sudah menolaknya. Saya minta uangnya, saya belikan barang yang lebih saya suka. Pernah pula baju Lebaran saya pakai dua tahun setelah dibeli, hanya karena saya sudah malu pakai baju baru saat Lebaran hahaha

4.       Banyak Makanan/Jajanan
Seiring dengan pergerakan manusia melalui kegiatan mudik di atas, apalagi jumlahnya mencapai jutaan, selalu saja disediakan makanan di masing-masing rumah. Mulai dari roti kongguan yang terlihat lebih mewah dibanding para tetangga, lalu ada kembang goyang, satru, tumpi hingga rengginang, komplit terhidang di meja.
Minumnya? Pasti deh sirup kenamaan yang iklannya memborbardir selama Bulan Puasa, siang dan malam.
Eh pernah lo makanan Lebaran ini sudah hampir sebulan tak tersentuh di rumah dan ketika saya bawa ke kos, cuma dapat bertahan tidak lebih dari dua jam wekwkewkek

5.       Opor dan Ketupat
Opor dan ketupat lagi-lagi bukan dalam ajaran Islam. Tradisi Jawa yang kental, merasuk bagi kami pemeluknya, terutama yang tinggal di Jawa lalu menyebar ke seluruh pelosok negeri. Akhirnya muncul ungkapan, Lebaran tanpa ketupat dan opor, tidaklah komplit.
Memang sih, aneh rasanya berlebaran tanpa makan opor dan kupat. Tapi ketika tiga hari berturut-turut makan opor dan ketupat terus, bosen juga ya.
Oh ya, kupat atau ketupat sendiri merupakan ungkapan Jawa yang berarti ngaku lepat, senada dengan tradisi sungkeman di atas.

6.       Membagi-bagi Uang sebagai angpao
Membagi-bagi uang, ternyata bukan hanya tradisi milik orang China melalui angpaw. Kitapun ikut-ikut membagi uang kepada sanak saudara, keponakan, tetangga dan lain-lain saat Lebaran. Entah maksud dan tujuannya apa. Saya sendiri kurang jelas visi misinya.
Menariknya lagi, uang yang dibagikan haruslah baru. Alhasil marak deh penjual uang baru di jalanan bagi mereka yang tidak sempat menukarkannya ke bank-bank. Saya sendiri pernah mendapat uang baru ini beserta dengan nomer serinya yang masih urut, lalu saya simpan di bawah kasur tidak saya buat jajan.

7.       Mengajak serta Saudara/teman dari kampung halaman bekerja di kota
Setiap kali Lebaran usai, Jakarta dan kota-kota metropolitan lainnya selalu memiliki kendala sama. Jumlah warga membengkak. Ternyata, kebiasaan mengajak serta saudara atau teman di daerah asal untuk bekerja di kota besar, masih terjadi. Pertemuan antar saudara dalam tradisi silaturahmi selalu ditutup dengan,”Kalau ada pekerjaan, ajaklah saudara kau itu agar bisa sesukses kamu sebagai karyawan di pabrik itu. Atau bisa bantu-bantu kau jualan nasi goreng di Jakarta”
Pemprov DKI bahkan sudah mengeluarkan larangan bagi warganya untuk mengajak serta orang lain non DKI masuk pasca Lebaran. Ya tujuannya agar jumlah penduduknya tidak meledak, perekonomian juga tidak goncang serta yang pasti agar jumlah tuna wisma di Jakarta tidak semakin banyak.

8.       Memborong dan menumpuk bahan tertentu
Kalau yang ini, biasanya dilakukan oleh penjual atau pedagang. Menumpuk stok bahan jualan inilah yang kemudian memicu naiknya harga baik saat menjelang Ramadhan maupun saat menjelang Lebaran.
Padahal ya jika dihitung secara hukum ekonomi, harga-harga itu harusnya turun lo. Kan bunyinya,”Makin banyak permintaan, harga akan semakin turun (selama suplainya tetap).
Tapi sepertinya momentum Lebaran memang saat untuk mencari untung dan laba besar. Kenaikan harga berlipat, membuat sebagian saudara kita rela menumpuk stok agar tidak kehilangan momentum ini.

9.       Bersilaturahmi melalui HP dan Sosmed
Masih banyak di antara kita yang mengabaikan betapa pentingnya silaturahmi dan tatap muka. Dengan bertatap muka, kita dapat saling mengerti dan memahami perasaan satu sama lain.
Namun seiring perkembangan zaman, kita sering mengabaikan silaturahmi dan memilih untuk sekedar menyapa melalui HP. Masih mending kalau menelepon, la kalau sekedar pakai teks? Duh duhhh
Lalu di malam Idul Fitri yang selayaknya diisi dengan takbiran, kita malah sibuk di pojokan, mengirim WA, SMS dan aneka teks lainnya melalui sosmed. Akibatnya, malam itu jaringan seluler penuh lalu down sehingga pesan malah tidak terkirim hahahah.


Yap itu tadi 9 hal yang sering kita lakukan saat Lebaran. Patut diingat, kita memang menerima THR, lalu uangnya kita belanjakan untuk beli baju, makanan, kebutuhan lain-lain yang ujungnya uangnya kembali mengalir ke konglomerasi, para pengusaha guide-guede. Siapa yang kaya? Siapa juga yang hanya akan seperti-seperti ini saja meski menerima dua kali gaji dalam sebulan?
Bersama, mari kita rubah cara pandang kita. Bukan sok keminter atau sok suci, tapi hal-hal diatas bisa dilogika kok, dipertimbangkan dengan akal sehat. Saya sudah mulai dari diri saya, kamu..?


Oh ya, bagi yang kurang setuju atau tidak sependapat, boleh kok meninggalkan komennya ...

Share:

1 komentar: