, , , , , , , ,

The Emejing d'Emmerick (part 1): Belajar Kehidupan dari Memanah dan Ketinggian


Ing salah sawijining dino, kakang prabumu iki kadapuk undangan mangkat blogger camp ing papan panggonan ingkang paring asma d'Emmerick Hotel wonten tlatah Salatiga. Papan ingkang sejatosipun sampun cukup akrab kangge kawulo amargo nate berencana anggawe event Forest Run wonten mriki.
Namung, takdir Illahi berkehendak sanes, rencana event gagal bin total. Ananging takdir sanesipun sampun awaiting, geh puniko...
 blogger camp.

Ganteng ya hotelnya...photo by @Zainkagawa
*
MENYUSUR jalan berbatu di pintu masuk menuju lobi, adalah sebuah pengalaman berbeda. Biasanya, jalan menuju hotel atau resort, selalu rapi jali dengan aspal mulus seperti pantat bayi. Tapi ini beda, batunya lancip yang sepertinya diukur presisi untuk jadi segitiga sama kaki dan tangannya. Tapi justru itu experience yang membedakan dengan hotel lainnya.
Disambut timnya d'Emmerick di Cleverly Eatary, mas Sigit sebagai marcom sekaligus PO event ini (dudu po' o lo), lalu ada mbak Dona yang jadi bosnya, disambung om Martin dan mas Adit, komplit deh perkenalannya. Eh ya, trip kali ini diwarnai dengan temen-temen blogger gak hanya dari Semarang tapi juga Jogja, Pekalongan dan Jakarta. Lain daripada itu, lebih komplit lagi karena ada fotografer, youtuber dan vlogger gak cuma blogger (apalagi yang abal-abal kayak aku).
Satu yang menarik lagi, anak lanang al-Athier, berhasil kupengaruhi untuk ikut nge-camp. Itupun setelah melalui debat panjang berbahasa ngorok bersama mamahnya selama dua hari dua malam haha.
Eh lah...belum juga proses kenalan usai, muncullah aroma sedap dari balik bilik Cleverly. Ternyata, menu-menu andalan hotel semi resort ini sudah disiapkan. Ada Gecok Cabut Gunung yang jadi favoritku, meski sudah berganti dengan iga sapi, tapi tetap saja indhuss. Pengin nambah tapi isin hiks hiks.


Gecok Cabut Gunung favoritku, menu lain kurang suka karena banyak sayur mayur hahaha
Tangan siapa nih? Ganggu ajah hahaha
Dan tibalah saat yang paling dinantikan yakni menuju camping ground. Dari rumah, aku dan Athier sudah mbayangin bahwa lokasinya berada di rerumputan sehingga kami bawa garam 3 Kg untuk ditabur di sekeliling tenda agar binatang melata enggan masuk tenda karena di dalam sudah ada manusia melata. Tapi nyatanya, camping ground sudah ditata dengan bata setinggi 10 cm ditabur pasir dengan tenda terpal tebal yang dilapis tenda biru deklit. Jadi aman very very aman, meski Athier tetap saja menabur garam berkeliling...ya biarlah, biar dia belajar hidup di alam bebas.
Eh ternyata di dalem sudah ada matras seukuran tubuh manusia. Ada enam berjajar untuk kami berlima nanti malam (Bayu, Nico, Athier, aku dan Anji yang nyusul karena busnya ngetem kelamaan dari Wonosobo). Wah wah...bisa bisa iming-iming tidur di dalam sleeping bag ke Athier, bisa angus nih...
Sekira jam 2, kami semua digiring menuju arena outbond. Di sana kami dibagi menjadi 2 tim, dimana kami semua ber-30 jadi jika dibagi 2 menjadi masing-masing 15 orang (gini aja dijabarin, kebengetan gak ketulungan ya blogger abal-abal ini).
Tim pertama akan menjajal arena outbond lebih dulu yang terdiri dari 5 etape berbeda yang kesemuanya diketinggian. Dan membayangkan saja, saya sudah ngeri. Maklum saya adalah jamaah Acrophobia (artinya apa? search sendiri lah, ntar dikira blogger abal-abal lagi). Makanya saya milih gabung di grup kedua yang menuju ke arena archery.


Nah kan bener, si Isul nangis mpe ngompol...eh
Kupikir, yes kupikir...panahan itu gampang. Tinggal tarik busur, bidik, tahan napas lalu lepas....jrootttt kena deh sasaran item di tengah. Yess, aku seperti Robin Hood yang bisa membelah anak panah yang sudah menancap menjadi dua...tapi itu cuma adegan pilem gaes. Sweaaar angele puollll. Dari total 16 anak panah yang kulepaskan, 3 tidak menemui sasaran sementara sisanya ilang terbang entah menancap di tebing belakang target sasaran haha.
Ayo kak, kamu bisa. Bidik masnya, eh sasarannya.

Cuma gaya kok, buat nambah konten. Photo by Aji @lagilibur.com
Ya sudahlah, mungkin bakatku gak di sini. Apalagi setelah beradu duel dengan Danang Dave dan Rivai dengan skorku yang sempurna yakni 10 sementara mereka cuma 75 dan 90 (loh lah...kalah adoh iwk). Ok aku pindah aja ke outbond, mending naik-naik tali kayaknya aku bisa lah.
Dan benar adanya, ternyata dengan sangat cepat saya sudah berada di etape kedua setelah melewati etapi pertama balok kayu yang disusun berjajar mudah saya lalui. Tapi etape kedua adalah menaiki sepeda di atas seutas tali adalah sebuah hal yang sangat menakutkan. Giliran saya sendiri sudah pasrah dilewati dua peserta di belakang saya...swear saya gemetar yang bahkan tidak saya rasakan ketika mau ngucap ijab kabul.
Dan setelah membaca doa terutama doa mau makan, keberanian terkumpul. Apalagi setelah melihat ternyata ada penyangga besi di belakang sadel yang membuat ia tak akan goyang apalagi jatuh (padahal saya juga sudah pake tali pengaman lo), tapi bayangan kaki kram tidak dapat mengayuh ketika di tengah-tengah, kemudian muncul. Saya kembali panik. Hanya desakan Lintang saja yang membuat saya suruh cepat karena antrian di etape kami makin banyak yang akhirnya meneguhkan iman saya untuk segera mengayuh sepeda.

.... dan benar, ternyata aman-aman saja loh gaes. Saya pun berteriak kegirangan, di sela teriakan untuk menekan rasa takut. Berhasil...dan diabadikan oleh mb Wati lo kegiranganku.
Etape yang berikutnya dibilang menelusur sarang hamster oleh Erfix, sudah saya kuasai. Saya bahkan wani selfie di dalamnya haha...best partnya kan sudah saya lewati.


Sok sok an selfie padahal dag dig dug. Photo by @wahidunited haha
Tapi berikutnya, saya pilih saving energi. Dua etape terakhir saya lewati karena sangat menguras energi demi melihat peserta lain yang sudah turun dari temali...la jam 03.00 nanti sudah harus bangun je, saya takut kekeselen, tur meneh habis ini masih ada archery battle, sharing dan makan malam je.
Di arena archery battle, Athier sudah menunggu memberi semangat. Ia sangat yakin ayahnya akan bisa menembak musuh-musuhnya sekaligus mengambil ratu sebagai hadiah *eh. Tapi harapanpun musnah, ternyata aku salah...usai briefing lalu start dan mengambil anak panah, sebuah panah nyasar yang jelas-jelas tidak disengaja, mengarah ke dahiku. Dusssshhh...aku tergeletak, tidak pingsan. Hanya sedikit malu karen abahkan aku belum nembak satu anak panahpun, tapi sudah terkena duluan. Duh...
Ya sudah...renang aja yuk kak. Ajakku ke Athier memberinya hiburan agar tidak terlalu kecewa dengan panah nyasar tadi. Eh tapi yakin kok, battle ini sangat aman karena meski terkena panah, ada penutup muka yang melindungi serta ada aturan yang harus dijalani. Anak panahnya juga sudah dilapisi dengan busa dan tidak lancip layaknya anak panah pas proses belajar memanah sebelumnya.
Sayang perutku yg kotak gak nampak. Photo by sopo ya?
**
Nah nah...usai capek berenang sekaligus mandi, tapi bukan berenangnya sudah berlumuran sabun lo ya (ini sekaligus menghapus stigma bahwa kalau ngetrip aku tidak pernah mandi), makan malah was ready. Ciuhiiii laper tapi makannya sudah siap itu rasanya seperti mau makan gaes. Tenin wes to
Menu sup daging dan kacang merah panas, pas untuk perutku yang kotak ini. Aku bahkan sampe nambah dua porsi supnya, plus nasi sepiring, dan dua gandeng pisang bakar ala d'Emmercik yang ngedap ngedapi.
Disambung dengan perbincangan hangat bersama Teguh Omah Alit dan pakdhe Sarbu Riyono, Nia Nurdiansyah, Rivai aka Pay aka Pak i, Erina, Deta + Maureen dan makhluk astral yang berada di sisi kiriku tentang pariwisata negeri ini, tak terasa 3 batang rokok berteman jahe tandas. Sementara di Cleverly, sama si Danang Dave dan Erfix sedang ngoceh tentang bagaimana mengembalikan kejayaan hidup melalui aktivitas positif semacam ngeblog, ngevlog dan lain-lain sesuai passionmu.
***
Eh udah ya, tak mbalik ke tenda dulu. Athier sudah lebih dulu mbalik soale bareng om Bayu dan Nico, kasihan klo dia nyariin aku.
Dan menyusur malam di jalanan berbatu d'Emmerick, terbayang tangan yang bisa digandeng sambari menikmati rembulan serta milky way yang seolah ngawe awe. Romantis kayane...
****
f/22 10" ISO 6400 16mm


Share:

35 komentar:

  1. Beneran jalan sendiri nih, gelap loh mas 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan ada kamu mbak, biar jauh, tp dekat di hati hihi...hatinya babeh

      Hapus
  2. Balasan
    1. Hihi bkn kamu Er...ah perasa amat, orang segede gaban gitu. Iya bsok tak edit, aku lupa siapa aj yg duduk sebangku huhu

      Hapus
  3. Aku kangen nenda, ihh..
    Anw, aku kebayang manah itu cool, tapi susah banget keliatannya ya. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Susah owk...siku kiri memar krn salah tumpuan. Lbh mudah nundukin hati wanita drpd memanah...

      Hapus
  4. seru ya, tapi aku kedinginan tidur di tenda, padahal udah jaketan tebel,dan padahal nggak hujan. Ealah serius masa mudahan menundukkan hati wanita dibanding memanah? haha

    BalasHapus
  5. Kak Athier keren lah pokoknya. Hihihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayahnya aja keren, palagi anak lanangnya...wekekkeke

      Hapus
  6. Ngedap2i tulisane...bikin ngekek...🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh...aku tersandung iwk. Tp klo bener, brarti aku sdh menemukan way of life, and that its you haha

      Hapus
  7. Aku bingung mau komen apa, tapi ku menunggu kelanjutan cerita bagian ke dua nya

    BalasHapus
  8. Balasan
    1. Lah sopo? La aku diikutin y g reti sopo sing ngetutin to ya, kan aku ra nengok nengok...tegak lurus hihi

      Hapus
  9. Hahahaha...mesem2 bacanya. Nunggu part.2 nyaa ahh

    BalasHapus
  10. Balasan
    1. Kan undangan sdh dishare di Genpi, bebih g fokus ma akyu sihhh...kakean barbel eh kroyA eh korea

      Hapus
  11. Iya, 12 blok garam dapur yg bata itu

    BalasHapus
  12. Namaku jadi banyak sekali 😂
    Archery battlenya emang seru sih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya beb...soalnya kamu berarti hihi. Seru karena gak pake tanda tanya haha

      Hapus
  13. Memanah diketinggian asyik dong, jadi kaya Arjuna *eh

    BalasHapus
  14. Arjunanya para wanita...aw aw

    BalasHapus
  15. Aaakkkk,, namaku masih di blog e mas Wahid,,
    Btw gecok e kemarin aku nggak habis, kamu nggak bilang owk mas,, dihabisin deh sama ibu-ibu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nasip...nasip...baleni neh ae yuk, sopo reti gecok e masih ada hihi

      Hapus
  16. sangat emejing memang... belajar memanah agar tetap sasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. se-emejing dikau mengenalku kan doel wekwekwek

      Hapus
  17. Lebih mudah memanah hatinya dripada memanah target di wahana archery

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huum iwk...satu mangkok mie ayam untukmu yu huhu *bangkrut

      Hapus
  18. Paket komplit pengalaman camping ground di D'Emmerick. Seru banget pastinya, beradventure bersama :D

    BalasHapus