, , , ,

Pasar Papringan dan The Power of Pemberdayaan (Bagian 4 – Famtrip Dinkop UMKM Jateng)


Pengunjung ramai berjubel di bawah rimbunpohon bambu

PERTAMA kali mendengar kehadiran Pasar Papringan, saya merasa jatuh cinta. Padahal baru melihat berbagai makanan tradisional yang diupload di berbagai sosmed oleh teman-teman yang sudah kesana.
Bagi saya pribadi, makanan tradisional sendiri bukanlah hal yang istimewa. Pasalnya, saya juga orang desa yang besar di sebuah desa bernama Kesongo di Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang. Namun meski orang kabupaten, secara de facto, desa saya lebih dekat ke Kota Salatiga sehingga SMP dan SMA saya habis di sini.
Menariknya, desa saya berbatasan langsung dengan Rawa Pening. Jadi komplit ada sawah, bukit hingga perahu dan danau yang dipenuhi oleh eceng gondok.
Karena itulah saya bilang, makanan tradisional bukanlah sesuatu yang istimewa. Latar belakang wong deso saya, masih melekat kuat hingga saat ini.
Tapi demi melihat eksistensi Pasar Papringan, terlebih gambar-gambar yang ditampilkan ada makanan tradisional yang nyaris punah dan sudah susah ditemui dewasa ini, animo saya bangkit. Saya men-declare harus mengunjungi pasar yang konon semuanya ‘dihias’ dengan ornament dari bamboo ini.

Gayung yang bersambut saat mendapat tawaran dari Dinkop UMKM Jateng untuk nge-trip dan salah satu agendanya mengunjungi Pasar Papringan. Antusiasme tak terbendung membuat saya tak mau menunggu jemputan dari tempat parkir di pinggir dan memilih berjalan kaki mendahului rombongan meski jelas tertulis jarak masih terbentang 1,6 Km. Jarak dan berjalan kaki jelas gak ada masalah bagi wong ndeso yang suka ngetrip ini (agak sok-sokan).
Tapi dasar niat baik, baru berjalan 500 meter, ada seorang warga yang menawari saya membonceng sepeda motornya. Dari dirinyalah saya banyak mendengar sisi lain pasar ini yang intinya ada pada kata pemberdayaan.
Jadi, sesuai perkembangan dan animo warga, sebagian warga di luar Dusun Ngadiprono Desa Ngudimulyo Kecamatan kedu Kabupaten Temanggung ini, sudah mulai ‘mencium’ aroma rupiah. Alhasil, mereka juga mulai meminta untuk dilibatkan sebagai pedagang di pasar tiban yang hanya ada pada Pon dan Wage ini sehingga jika dihitung dari kalender Masehi, akan jatuh setiap hari Minggu pada dua pekan sekali.
Namun permintaan tersebut ditolak karena salah satunya space yang masih terbatas. Lebih dari itu, kurasi pada setiap makanan yang dihadirkan sangatlah ketat dimana kuncinya adalah tidak menggunakan bungkus plastik, tidak menggunakan MSG (karena micin kita lemot mikir) serta tentunya harus tradisional dan tidak mudah ditemui di tempat lain.
Mendengar penuturan sekilas itu saja, saya sudah semakin terpesona lalu makin jatuh cinta. Begitu memasuki pos penukaran, tentu saja tidak saya lewatkan untuk mendapatkan mata uang ‘Pring’ serta mulai menyorotkan lensa saya sembari tentu saja memencet shutter-nya hehe.
Tentu saja stan pertama yang saya tuju adalah kuliner, apalagi saya tidak sarapan sejak keluar dari guest house sementara waktu sudah menunjuk pukul 09.31. Mendapati aneka bubur, bubur jangan (sayur) adalah pilihan pertama ditambah dengan gorengan bakwan, lalu lanjut ke penjual makanan lainnya yang tentu saja sudah kuno eh tradisional ala ndeso.
Eh eh…saya tidakmau cerita tentang semua isi stan kuliner di sini, biar kalian saja yang langsung ke sini, jajan semua makanannya dengan koin pring yang eksotis sehingga bisa dijadikan gantungan kunci hihi. Lebih dari semua makanan yang ada, Pasar Papringan sudah menjadi gantungan hidup warga di dusun ini.
Menurut penuturan salah satu pedagang, sehari-hari ia hanyalah petani atau mencari rumput. Dengan berjualan bubur, ia bisa mendapatkan uang Rp800 ribu setiap kali pasar dibuka.
Artinya, kehadiran pasar tematis ini telah mampu mengangkat derajad warga sekaligus nguri-uri melestarikan agar makanan tradisional yang langka, tidak punah. Lebih dari itu, dengan memberdayakan warga yang notabene bukan pedagang, maka pasar ini akan tetap ada sampai kapanpun. Karena jika murni pedagang yang berjualan di sini, ada kemungkinan ia akan hengkang jika suatu ketika pasar mulai sepi dan pindah ke pasar yang lebih ramai.
Namun dengan pemberdayaan warga local, maka pasar akan tetap ramai. Pasalnya warga merasa memiliki pasar ini sehingga tanpa keberadaan Pasar Papringan, mereka tidak akan bisa mendapatkan tambahan uang untuk kehidupan mereka.



 
Ketua Komunitas Mata Air Imam Abdul Rofik (29) menyebut, konsep membuat sebuah pasar di bawah rimbunan vegetasi tanaman bambu ini sebenarnya terinspirasi oleh pasar papringan yang sebelumnya pernah digelar di Dusun Kelingan Desa Caruban Kecamatan Kandangan beberapa waktu lalu.
Diselenggarakan di atas lahan bambu seluas 2.500 meter persegi, pasar ini hanya akan dibuka setiap Minggu Wage dan Pon saja, mulai pukul 6.00 sampai 12.00 WIB. Tak hanya sebagai upaya konservasi alam, terutama vegetasi tanaman bambu, pasar papringan juga ditujukan untuk mengangkat segala kearifan lokal masyarakat sekaligus merangsang pertumbuhan ekonomi warga setempat.
“Dulu tempat ini hanya digunakan warga setempat sebagai lokasi pembuangan sampah. Nah, bermula dari rasa kepedulian, akhirnya kami sepakat untuk menyulapnya menjadi pasar papringan,” jelasnya.
Di dalam pasar ini, lanjut Imam, terdapat 42 lapak dagangan yang dijalankan mayoritas oleh warga di dusun tersebut mulai olahan kuliner khas, hasil pertanian, hingga kerajinan produksi lokal masyarakat.
Jangan lupa tukar rupiahmu dengan Pring

100 meter menuju hatimu eh ...

Bule-pun kalap nemu tape hehe
Share:

2 komentar:

  1. Enak nek ke sini jajan jajan aja tau tau kenyang. Wkwkw
    Wah, beruntung banget mas bisa dapet "ojek".

    Aku nunggu mobil sampe lama. Hehe

    BalasHapus
  2. Ya itu kuncinya, klo kita mau 'bergerak, berusaha'pasti sudah ada jalan. Daripada menunggu, aku pilih jalan owk, g suka nunggu, apalagi nunggu jawaban dari dia hahaha

    BalasHapus