, , , , , , , , ,

Candi Singosari: Menjumpai Ken Dedes dalam Lintas Imaji



Buah Mojo dan Candi Singosari apakah berkaitan dengan Kerajaan Majapahit?

Gending Kebo Giro terus mengalun pelan
Ken Dedes berjalan pelan diselimuti keanggunan
Dan ketika Tunggul Ametung siap, bergantian gending Ketawang Kodok Ngorek dilantunkan para waranggono
Gamelan yang dipukul syahdu, menjadikan suasana kala itu megah namun jauh dari kesan mewah
Bertautlah dua hati...penguasa cinta meski tak paripurna

MEMASUKI pelataran Candi Singosari, asa saya melayang jauh. Kembali ke ratusan tahun silam, membangun fantasi. Sekejap dalam benak, muncul bayangan si cantik Ken Dedes yang hendak dipertemukan di pelaminan dengan Tunggul Ametung si penguasa Tumapel kala itu.
Fantasi saya semakin liar. Candi Singhasari atau juga ada yang menyebut Candi Singosari ini adalah saksi pernikahan mereka. Di hadapan para empu, tetua kampung dan para Begawan, keduanya disatukan dalam ikatan suci, di depan pelataran candi sebagai satu-satunya tempat para leluhur berkumpul.
Dari jalan masuk, Gending Kebo Giro terus merangsek membawa kaki jenjang Ken Dedes ke latar candi. Di dalam, Tunggul Ametung sudah bersiap dengan dandanan ala raja, menyambut wanita kampung pujaannya dari Desa Panawijen. Di sisinya, resi dan empu bersiap menyiramkan air suci tahta seribu.
Di kejauhan, di bawah pohon pisang...sorot matanya menyala, berbeda dengan keseluruhan hadirin yang ada. Nampak tak ada restu. Hanya amarah dan cemburu menyelimuti. Bergegas langkah meninggalkan paseban di seputaran candi, menjumpai Mpu Gandring memintanya membuat keris, tak peduli hingar bingar dan hiburan di sela pesta pernikahan. Ken Arok nama pemuda itu.
*
TAPI tenang semua, tidak akan pertumbahan darah di sini. Baik di blog saya maupun di halaman Candi Singosari. Itu semua hanya fantasi mistis saya saja ketika memasuki pelataran candi. Entah mengapa, begitu melihat candi ini, saya langsung teringat kisah di Kitab Pararaton tentang cerita cinta Ken Arok-Ken Dedes-Tunggul Ametung.
Bahkan di era sebelum lahirnya Kerajaan Singasari-pun, sudah ada kisah cinta segitiga. Tidak hanya saat ini hahaha. Jadi wajar kali ya, kalau ada yang mendua bahkan mentiga hahaha...eh eh sudah, malah makin melantur.

Candi berada di tengah pemukiman
Jadi gini gesss, dalam sebuah trip ke Batu dan Malam pertengahan Juli lalu, saya singgah tanpa sengaja di Candi Singosari. Dan begitu diberitahu tentang keberadaan candi, saya langsung mupeng. Suguhan bakso malang Cak Kar yang disiapkan bahkan saya tinggalkan, demi candi dan segala aura mistis yang menyelimutinya.
Dan ya itu, begitu kaki melangkah masuk pelatarannya, langsung deh fantasi saya melayang ke Ken Dedes. Padahal setelah membaca literatur, fantasi saya melenceng jauh. Salah besar saudara-saudara hahaha kayak tebakan Jerman sang juara dunia yang bahkan gagal di laga penyisihan grup...zonkkk. Sok PeDe sih hihihi
*
TERLETAK di Desa Renggo Kecamatan Singosari, candi ini masuk di ranah Kabupaten Malang. Ia berada kawasan lembah di ketinggian 512 mdpl, dinaungi asrinya hawa Gunung Arjuna, kabarnya ia adalah Candi Hindu-Buddha. Kini ia berada di tengah pemukiman penduduk. Jaraknya tak jauh dari Jalan Raya Mondoroko yang menghubungkan Malang dan Pandaan. Masuk sekitar 300 meter di Jalan Kertanegara, kita akan jumpai candi sisi kanan. Jika terus, kita akan sampai di Bakso Malang Cak Kar. Sementara jika masih terus di Jalan Mondoroko, kita akan menjumpai salah satu outlet Malang Strudle yang ada di Singosari.



Candi utamanya berada di tengah area seluas 200x400 meter dan berdiri mirip menara, tinggi namun langsing. Di pintu masuk, terdapat pos jaga yang akan meminta kita mengisi buku tamu sekaligus memberikan donasi seikhlasnya. Pintu utama candi menghadap ke barat, ke arah Gunung Arjuna. Di sisi kiri pos, kita akan disambut jejeran arca yang sebagian sudah rusak dan entah kenapa tidak dikembalikan ke posisinya semula.

Entah arca siapa dan mengapa hanya dia yang beri atap

Jajaran arca di Kompleks Candi Singosari
Bebatuan di atap candi sebagian sudah menunjukkan usia. Maklum, ia dibangun jauh sebelum era Majapahit. Jadi, Singosari ini dipercaya jadi cikal bakal kerajaan terbesar di tanah air, Majapahit yang rajanya diturunkan dari keturunan Ken Arok.
Di ketiga sisinya yang lain, ada celah yang semula saya kira adalah pintu lain untuk masuk ke ruang utama. Di ruang utama ini pula, kita masih akan dapat menjumpai lingga, sebuah batu besar yang berlubang di tengah. Di depan lingga, sesembahan berupa dupa, menyan dan kembang setaman masih memunculkan aroma mistis yang kuat. Kebetulan sinar matahari tidak kuat menembus ruang ini, jadi kesan mistis sangat terasa meski siang hari. Ah...asa saya kembali pada Ken Arok dan Ken Dedes lagi nih.
Meski demikian, cukup banyak kunjungan yang dilakukan warga ke sini. Beda dengan kunjungan di Candi Merak, yang cukup minim. Jadi, harus lebih hati-hati agar gambar yang diambil tidak bocor meski sudah pakai sayap *eh.


Menilik dari tipe bangunan candinya, Candi Singosari ini cukup aneh untuk ukuran dan model di zaman itu. Bangunan kakinya gemuk namun badannya langsing sedangkan atapnya tidak lancip. Beberapa ahli bilang, pasti ada alas an khusus mengapa candi ini dibuat demikian. Sebuah kegiusan local pada masanya. Tapi ya maklum juga sih demikian karena sebagian beranggapan, candi ini adalah makam Kertanegara. Sebagian lagi beranggapan, candi ini belum sempurna dibangun. Entahlah...saya sendiri masih merenung dan menganggap Ken Dedes sedang mengamati saat saya nungging mencari angle yang pas demi memotret candi ini.

Dupa dan kemenyan memperkuat kesan mistis 


Share:
Read More
, , , , , , ,

Tradisi Cukur Rambut Gimbal di DCF 2018 (Minta Dipotong oleh Gubernur Hingga Yupi dan Tempe Gembus)*

Bocah bajang, kinasihing Gusti kang Moho Welas Asih sak lawase
Rambut gimbal den cukur dimen tirto kangge suci lahir
Uwal saking cidro dadio bocah mulyo, slamet raharjo waras waris tansah yekti, lir sambi kala**

Prosesi potong rambut gimbal di Candi Arjuna

TENTANG apa yang tertulis dari serat dan babad Tanah Jawa, Dieng adalah tanahnya para dewa. Bersemayam di ketinggian, berselimut kabut, berbalut dingin menuju puncak keabadian. Dan kidung telah mengalun, mengawali prosesi suci untuk memurnikan mereka...para Anak Bajang.
Ya...sebutan anak bajang disematkan kepada mereka, anak-anak yang memiliki rambut gimbal. Bukan gimbal layaknya anak-anak punk dan reagge, namun gimbal karena takdir. Pun anak-anak ini tak memiliki darah seni untuk membuat rambut mereka menggimbal. Mereka juga bukan gembel yang tak pernah keramas sehingga rambutnya lepek, mengempel hingga sulit disisir.
Tradisi inipun bukanlah yang pertama. Berlangsung dari tahun ke tahun, musim by musim dan ketika bulan berganti...prosesi siap disaji. Candi Arjuna menjadi saksi para Anak Bajang akan menjalani lakon mereka selanjutnya, tataran hidup yang sebenarnya, melepas status bajang dan hidup normal layaknya anak kecil lainnya.
Bersiap menuju area pemotongan

Toh rambut gimbal juga bukan keinginan mereka. Legenda berkisah, anak bajang adalah anak-anak istimewa. Syahdan, mereka adalah anak titipan dari para leluhur dataran tinggi Dieng yang dititipkan penguasa Laut Selatan, Nyai Roro Kidul. Karenanya, pada waktunya nanti, anak-anak ini akan kembali diminta Sang Ratu.
Legenda lain berkisah, konon adalah Kyai Kaladete yang menjadi leluhur pertama manusia di Dieng. Ia bersumpah tidak akan mandi dan memotong rambutnya sehingga akhirnya menjadi gimbal, sebelum masyarakat di Dieng makmur. Kelak, keturunannya juga akan memiliki ciri serupa, rambut menggimbal (ikal).
Karena ini pula, orang tua pemilik anak bajang, haruslah mengistimewakan mereka. Segala permintaan mereka harus dipenuhi terutama saat mereka sudah bersedia untuk dipotong rambut gimbalnya. Terlebih, rambut gimbal ini muncul tidak dari lahir namun berubah secara sendirinya. Demam tinggi dan terus mengigau menjadi penanda perubahan menuju Anak Bajang.
Prosesi pemotongan rambut hanya dapat dilakukan seusai permintaan si anak sendiri, bukan karena pengaruh dan bujuk rayu siapapun. Syaratnya, orang tua harus menyediakan semua permintaan si anak, sesulit bahkan seaneh bagaimanapun permintaan itu. Pun pemotongannya juga harus dilakukan secara ritual, tidak sembarang ke tukang cukur rambut madura atau ke salon, namun harus melalui upacara adat yang dipusatkan di Kompleks Candi Arjuna.
*

12 Anak Bajang siap dipotong rambutnya
TAHUN ini, melalui DCF 2018, ada 12 Anak Bajang yang siap mengikuti prosesi pemotongan rambut gimbal. Entah kebetulan atau tidak, mereka semua perempuan. Dan semuanya memiliki permintaan yang tidak lazim namun sama sekali tidak membuat repot orang tuanya. Beberapa bahkan seolah memiliki visi untuk membantu perekonomian keluarga, sebuah pandangan masa depan dari para Anak Bajang.
Simak saja permintaan Elsa (9 tahun) yang meminta kambing jantan besar dan 2 bungkus besar roti marie. Atau Nisya yang meminta mentog 3 ekor dan sepatu roda. Begitu pula rikues Adinda yang masih berusia 6 tahun yang meminta ikan lele hidup. Bagi saya, ini adalah permintaan yang memiliki visi ke depan, menjaga stabilitas ekonomi keluarga karena tentunya rikues mereka tidak hanya untuk keperluan mereka pribadi, namun juga untuk keluarga besar.
Sisi lain, beberapa anak banyak yang meminta sepeda (yang selalu berwarna pink) ataupun handphone. Sepertinya mereka tak mau kalah kekinian, atau bisa juga mereka memiliki visi menjadi seorang sosio media strategic atau minimal jadi blogger lah. Bahkan si Laila memohon agar diberlikan tablet bergambar apel untuk mainan lo hahaha. Eh satu lagi, ia juga minta dicukur oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, sebuah rikues yang tentu sangat cerdik hehe.

Ini hasilnya...

Tapi ada juga lo permohonan yang simpel seperti meminta bolu black forest atau 2 bungkus permen yupi plus 2 bungkus krupuk rambak. Fitria bahkan meminta bakso dan tempe gembus, sebuah permintaan lugu nan sederhana. Ada juga rikues wortel dan ayam jago. Hemmm...lugu ya, namun tentunya berdasar kicauan hati tak ingin merepotkan orang tua mereka.
Di beberapa permintaan, disertai pula jumlahnya. Jumlah ini juga harus dipenuhi atau mereka akan kembali mengalami panas tinggi lalu mengigau. Atau jika si orang tua belum mampu memenuhi, boleh saja ritual ditunda untuk tahun berikutnya sampai mereka dapat memenuhinya.
Saya sempat membayangkan, bagaimana jika rikues mereka adalah barang yang langka atau sulit di dapat, misal meminta ikan paus hidup. Kan susah tuh nangkepnya, belum juga membawanya ke Dieng, apa iya mau dicemplungin ke Telaga Merdada?
... tempe gembus

Beberapa penonton bahkan sempat mengucap jika dirinya adalah Anak Bajang, mereka akan meminta jodoh atau mobil atau rumah. Tapi inilah Anak Bajang, mereka meminta dari hati bukan dari napsu. Permintaan mereka bukanlah duniawi namun jelas untuk tujuan yang lebih, baik bagi diri maupun keluarga dan lingkungan. Menariknya, keduabelas Anak Bajang yang dipotong rambutnya, juga menerima bingkisan spesial dari PT Nestle. Mayan kan, bisa icip icip produk-produk ternama dari produsen terkemuka ini.
... dan selepas potong rambut gembel, dilarunglah semua potongan rambut ke Telaga Merdada. Melarung semua sengkakala, nasib buruk dan semua hal yang tak baik kembali ke ibu bumi. Anak Bajang, kini siap menuju istimewa.
Senyum ceria karena roti marie
Siap ngalap berkah ingkung sesaji

Caping seragam para guest DCF 2018

**











* Ditulis sekaligus untuk merayakan pergantian nama domain baru ke guswah.id (dibaca: guswahid)
** Kidung yang ditembangkan di sela prosesi pemotongan rambut gimbal sebagai lantun doa-doa dan permohonan bagi para leluhur.
Share:
Read More
, , , ,

Bakso President Yang Tak Segemerlap Nama Besarnya


Para pelintas rel dan eks bioskop President 
PERTAMA kali mendengar nama Bakso President, hasrat langsung tergugah karena sepertinya tak lengkap jika mengunjungi Malang namun tak mampir berburu kuliner di sini. Pokoknya yang sebutannya bakso atau mie ayam, selalu dapat membangkitkan selera makan saya, sehabis makan apapun itu.
Apalagi jika menu kuliner itu, khas di suatu daerah tujuan. Pastilah dengan semangat membara, sesulit bagaimanapun, harus didapatkan dan dicoba. Sukur-sukur cocok dan balik lagi.
Tapi eh tapi...demi melihat background saya sebagai penyuka bakso, sebenarnya saya cukup kecewa dengan Bakso President ini. Rasa dan taste-nya sama sekali tidak setenar namanya. Eh tapi ini pribadi lo ya, karena pendapat tentang citarasa kuliner itu sangat subyektif, beda lidah beda pendapat.
Eh tapi juga, bukan ini yang hendak saya sampaikan dengan membahasnya lebih dalam. Namun bagaimana kekuatan sosial media dewasa ini telah mampu menjungkirbalikkan kondisi dari sebelumnya. Agak berat memang bahasa saya, maklum seminggu ini saya belum ketemu mie ayam hahaha.


Jadi begini, sepulang dari makan Bakso President, saya ketemu dengan driver ojol yang ternyata selera lidahnya sama. Ia bahkan merekomendasikan tempat lain yang katanya jauh lebih enak. Ya bukan terus saya buru kesana, tapi cukup menangkap apa yang ingin disampaikannya.
Bahwa dalam telaah awamnya, nama Bakso President bisa setenar ini karena imbas dari media sosial. Promo yang berlebih, campaign PR dari pihak ketiga yakni para tamu dari luar kota ini, mau tidak mau telah melambungkan nama bakso yang telah ada sejak tahun 1977 ini.
Memulai 'karier' sebagai tukang bakso kelilingan, Abah Sugito baru membuka warung sederhana lima tahun kemudian. Berada di belakang Bioskop President Malang, diambilah nama Bakso President yang terus melegenda hingga kini. Dan bahkan meski bioskopnya sudah berubah bentuk menjadi pusat perbelanjaan, nama Bakso President tetap melekat dan jadi buruan para wisatawan yang datang ke Malang.




Tapi ya itu, sekedar menjawab rasa penasaran. Begitu sudah mencoba, berfoto dengan latar belakang tulisan gede di atap warung serta berlatar depan rel kereta api, ya sudah...saya sendiri tak punya keinginan kembali ke sana. Setidaknya saya pernah makan, duduk, memotret dan mencicipi menunya yang sepertinya semakin kaya dengan ragam pilihan.
Tidak...tidak. Saya tidak sama sekali tidak ingin anda pergi ke Malang lalu urung mencicipi bakso ini. Saya juga tidak akan memberi rating rendah pada citarasanya. Cobalah dulu, rasakan sensasi kuliner legenda ini.
Saya sekali lagi hanya ingin mengungkapkan tentang bagaimana kekuatan media telah mengangkat suatu hal yang biasa-biasa saja menjadi extra ordinary dan menjadi buruan para wisatawan.
Langkah ini tentunya bisa ditiru oleh banyak penyedia jasa kuliner lainnya. Pemula maupun yang sudah mapan. Jadi memang harus disadari, betapa besar kekuatan medsos di era sekarang ini selain tentu saja promosi dari mulut ke mulut. Bagaimana google telah merubah tatanan wajah dunia menjadi hanya dalam genggaman tangan dan pencetan jempol.
Cuma ya jangan lupakan perjuangan berat Abah Sugito bisa bertahan 40 tahun terakhir, tentu juga hasil doa dan upaya keras. Apa yang terlihat saat ini, mungkin juga berkat tirakat kuat, keringat serta darah yang berdarah-darah (gimana sih kalimat ini).
Yang pasti, jika punya keinginan dan mimpi-mimpi, kita pantas memperjuangkannya, sekuat tenaga dan doa yang bisa kita puja untuk-Nya. Tulisan inipun ditujukan untuk dinikmati, tanpa men-judge apapun karena toh faktanya saya juga mempromosikan Bakso President di blog saya sebagai bagian dari trip ke Malang Juli 2018 lalu :D.
Ah jadi laper lagi...bakso apa mie ayam nih enaknya gaes??

Slow speednya kurang joss nih karena terburu-buru

Share:
Read More
, , , , ,

Baobab Safari Resort: Sensasi Menginap dan Bermain Bersama Satwa

Tampilan resepsion dengan logo pohon dari leher jerapah...Baobab
MENGINAP di hotel, bagi saya adalah pemborosan. Apalagi saya itu senenge cuma tidur, bayar mahal-mahal kalau tidak untuk tidur buat apa? haha. Tapi perasaan itu sirna seiring dengan pengalaman menginap di Baobab Safari Resort di kawasan Taman Safari II Prigen di Pasuruan sono.
Bagaimana tidak? Di sini, kita tidak hanya akan bisa tidur dengan nyenyak, makan enak serta lokasi yang nyaman, namun juga akan dapat pengalaman berbeda. Pasalnya, karena menjadi satu area dengan Taman Safari, kita akan mendapat special experience yang tidak diperoleh di hotel lain.
Apa itu? Kasih makan satwa liar. Ya, karena area hotel menjadi satu dengan area taman safari, di hotel ini juga terdapat beberapa satwa. Di antaranya rusa, jerapah, badak dan zebra. Beberapa hewan omnivora bahkan bergaul bebas (bukan pergaulan bebas lo ya), satu sama lain di taman yang disediakan.

View Gunung Arjuna dan satwa liar 
Nah jika tertarik memberi makan satwa, bergabunglah dengan crew setiap jam 08.00, 10.00 dan 16.00. Dengan memberi donasi untuk konservasi terhadap satwa, pengunjung dan tamu bebas memberi makan makanan yang disediakan serta berfoto secara bergantian.
Di stage yang sudah disediakan, Jeri si jerapah akan dengan serta menyamperi kita. Sepertinya ia sudah paham jam makannya. Bersama dengan si Reva, koleganya sesama jerapah, pengunjung bergantian memberi wortel atau rumput segar. Eh itu nama samaran lo ya, jangan dibocorkan, nanti keluarga mereka malu hahaha
Tentu saja ini menjadi sasaran empuk anak-anak dan mak-mak narsis yang ingin berfoto dengan satwa ini. Termasuk mbak bojo tentu saja hahaha (berharap ia tidak membaca tulisan ini ya).

Mak mak narsis...dicium Jeri lo :D
Eh sebelum memberi makan Jeri dan Reva, sempetin dulu sarapan dan berenang di kolam yang asoooy. Berada di kaki Gunung Arjuna, viewnya sungguh menggoda dengan settingan resto dan pool yang menghadap langsung ke area gunung dan alam terbuka tempat satwa berkeliaran.
Jadi kalau mau berenang sambil sesekali mencuri pandang ke leher Jeri yang jenjang, bisa kok. Tinggal membidik view vinder kamera dan jepret...jadi deh foto indah dengan background hewan-hewan cantik ini.
Tapi kalau mau hanya malas-malasan di kamar, boleh juga. View gunung serta area taman dan para satwa yang berkeliaran di bawah, masih bisa kita saksikan.

Ngopi di hadapan sabana dan Gunung Arjuna ben sejajar gantengnya
Nah yang spesial lagi, setiap akhir pekan ada story telling untuk anak-anak. Tentu saja temanya tentang dunia fauna lo ya, bukan tentang Thanos yang nggapleki itu hehe. Setelah itu pada pukul 21.00 akan dilanjutkan dengan safari night menyusur Taman Safari selama 30 menit untuk melihat kehidupan malam para binatang. Ya tentu saja kehidupan malam mereka berada di hutan dan bukan di lounge, jadi harus sedia pakaian yang mumpuni untuk menjelajah hutan ya.
Menarik pula melihat dresscode awak hotel. Mereka mengenakan baju berwarna coklat serta sebagian pakai topi rimba. Ya layaknya penjaga hutan gitu deh.
Jadi, tak ada salahnya mengagendakan acara piknik kluarga anda ke sini ya. Kayaknya bakal jadi jaminan anak-anak menyukainya dan meninggalkan berkas sejarah positif di benak mereka.

Tipe deluxe savana nih gaess
Eh iya, jika kamu ingin sekalian harga paket kunjungan ke Taman Safari Prigen, ada juga kok. Cukup membayar Rp800 ribu hingga Rp1,6 juta untuk harga kamar, dimana sebagian sudah termasuk harga tiket masuk Taman Safari Prigen. Bahkan ada juga paket untuk harga kamar dan berenang bersama lumba-lumba selama 30 menit lo.
Menariknya kalu beli tiket Taman Safari II di Baobab, kita bisa main dua hari berturut-turut ke Taman Safari. Jadi misal kita cek ini Sabtu pagi, sudah bisa masuk ke area taman dan 'memburu' satwa di sana. Lalu malamnya menginap, Minggu siangnya kita masih bisa masuk lagi tanpa harus membayar tiket Taman Safari. Menarik bukan? Yuk ajak aku lagi ke sana...:D
Bagian lain tentang perjalanan di Taman Safari, nanti aku ceritakan lagi...

Anak-anak pasti suka bermain dan belajar satwa

Menunggu dibidik lensa nih...

As usual...narsis duyuuuu

Ada juga yang sekali nyemplung kolam langsung kedinginan brrrrrrr

Baca juga: http://www.guswahidunited.id/2018/07/menikmati-harmoni-alam-di-curug-sewu.html
Share:
Read More
, , , , ,

Menikmati Harmoni Alam di Curug Sewu


Curug Sewu, Obyek Wisata Air Terjun Andalan Kendal
SAAT mendapat undangan dari teman-teman Forum Komunikasi Desa Wisata untuk mengikuti kegiatan mereka di Desa Curug Sewu, Patean, Kendal, Jumat-Sabtu (29-30 Juni) tidak ada kata lain selain mengiyakan. Tidak saja karena akan banyak ilmu, relasi dengan para pegiat desa wisata hingga piknik gratis.
Gratis?? Ya tidak juga sebenarnya, wong ya harus menuju ke lokasi dengan biasa sendiri. Namun setidaknya, penyediaan akomodasi dan homestay untuk menginap serta makan selama di sana, tentu sangat membantu bagi blogger berkantong tipis seperti saya. (inget, kantongnya ya yang tipis, isinya ya sama saja ahahaha). Apalagi selalu ada embel-embel masuk destinasi wisata juga gratis...ahahahahahaiii.
Tapi lebih dari itu, sebagai petani konten, tentu ada tujuan lain dong. Yap tentu...memanen konten untuk kemudian dipajang di instagram. Jarang-jarang kan bisa piknik bareng gini bersama rekan blogger lain. Sekalian silaturahmi juga dapat saling memanfaatkan jasa memotret satu sama lain hehe
*
Sayangnya, karena mendapat amanah mengurus darah rekan di PMI, saya baru bisa berangkat jam 17.00. Memilih jalur Semarang-Boja baru ke Patean, saya membayangkan akan melewati banyak hutan dan sepi. Rute ini saya pilih karena sepertinya lebih dekat daripada harus lewat Kendal-Weleri baru ke Patean.
Apalagi saya ingin banget naik motor ke sana. Agak was-was memang karena saya pikir jalurnya hutan dan sepi manusia. Kalau setan sih saya gak takut, tapi kalau setan yang wujudnya manusia kayak begal yang di tipi-tipi, baru saya keder.

Sok sokan jadi rider...lama gak touring sih
Alhamdulilah sih, saya sampai di Balai Desa Curug Sewu dengan aman, lancar dan utuh. Belasan tahun silam, saya pernah melintasi rute ini dan masih sangat sepi, masih sangat banyak bidang-bidang tanah kosong yang hanya dimanfaatkan untuk kebun (kalau gak bisa dibilang hutan ya), jadi sangat sueppii. Namun ternyata, jalur Boja-Singorojo-Patean, kini sudah mulus beton, ramai dan aman. Rekomended lah pokoke.
Dan ternyata (baru saya ketahui di perjalanan pulang siang harinya), kebun cengkeh yang sangat indah terpapar di kanan kiri. Ini sangat indah gaes, beda banget dengan pemandangan gedung dan rumah-rumah elit (ekonomi sulit :D layaknya pemandangan di kota). Selain itu ada juga beberapa petak kebun jati serta beberapa sungai yang mengalir yang masih cukup jernih di antaranya Kali Bodri yang kalau kita lewati di kawasan Kendal, warnanya sudah brubah jadi coklat kayak seragam Pramuka kumel.
*
Karena sampai sudah malam, saya melewatkan suguhan welcome dance Tong Tong Tek yang dipersembahkan rekan-rekan Deswita Permata Bukit Kendeng (PBK) sebagai pengelola deswita di sini. Suguhan opor ayam menjadi pemikat perut yang sudah berkolaborasi dengan harmoni EDM-nya The Chainsmoker tapi yang ini lebih ngawur karena tingkat lapar yang tak terbendung.
Usai berdiskusi dengan pengurus dan anggota FK Deswita (yang berdikusi mereka lo ya, saya kan bukan pengurus, jadi cuma nonton saja), diperoleh kesimpulan bahwa pengelola Deswita bukanlah pengelola obyek wisata. Pasalnya jika pengelola obyek, mereka wajib menjual tiket masuk.
Sedangkan pengelola deswita, dituntut mampu menawarkan paket-paket wisata yang menjual potensi di desanya masing-masing. Ya bisa destinasi atau atraksi. Jadi pengelola deswita sangat dituntut kreativitasnya dalam mengolah paket-paket wisata ini.

Pengelola Deswita harus kreatif yeaayy

Lalu sekira jam 23.00, kami belum kembali ke homestay karena masih ada suguhan reog dari Bujang Ganom. Uniknya, di sini terjadi kesurupan massal. Ada belasan pemuda yang tiba-tiba trance, padahal beberapa menit sebelumnya saya masih asyik motret bloodmoon.
Uniknya, mereka dapat diajak berkomunikasi. Diajak bercanda juga bisa lo. Inilah bedanya reog di Curug Sewu dan di tempat lain.
Bedanya lagi, mereka tidak dapat menulari kesurupan ke orang lain selain anggota mereka sendiri. Pasalnya untuk dapat dimasuki roh halus, mereka wajib menjalani ritual tertentu serta membuka cakra diri termasuk puasa mutih 40 hari dan tidak boleh melakukan mo-li-mo (main/judi, madon/berzina, maling/mencuri, minum/mabuk dan madat/narkoba).
"Jadi tidak sembarang orang. Dan yang kami undang untuk merasuki adalah danyang kampung sini bukan setan. Ini adalah roh putih bukan roh hitam, jadi mereka yang kesurupan masih bisa diajak berkomunikasi bahkan ada yang dapat membaca al Quran dengan baik," terang sesepuh Bujang Ganom, Pak Teguh.

*
Penampilan Bujang Ganom belum paripurna, namun sebagian peserta sudah kembali ke homestay untuk beristirahat. Apalagi jam 04.00, kami sudah harus standby untuk memburu sunrise di salah satu spot unggulan deswita ini. Tapi karena menarik, saya, Anji dan Arsenta masih terus bertahan sampai bubar.
Padahal di antara kami belum tahu dimana kami akan stay malam ini haha...tapi karena suguhan menarik ini, kami rela harus mencari homestay paling belakangan. Dan terbukti, kami baru masuk rumah sekitar jam 01.00. Beruntung pemilik rumah yakni pak Supriyanto ternyata juga pengurus Deswita PBK yang juga sekaligus Kadus di sini. Jadilah kami ngobrol panjang kali lebar sama dengan luas hingga pukul 03.00. Cukuplah setengah jam untuk memejamkan mata lalu berburu sunrise.
Oh ya gaes, satu hal yang kami alami di sini di sepanjang malam itu adalah angin yang terus berhembus. Hawanya memang tidak dingin, namun angin yang menghembus terus menerus membuat hawa menjadi lebih dingin.
Sebelum mencapai bukit, kita akan melintasi perkampungan warga Aceh di desa ini. Saat ini masih ada 13 KK yang bermukim di sana. Mereka pindah dan ditampung Pemkab Kendal sejak saat GAM masih merajalela di sana.

Kampung Aceh di Curug Sewu

Kondisi ini masih berlangsung ketika kami harus berjalan kaki kurang lebih 10 menit menuju Bukit PBK. Angin terus menghembus dengan cukup kencang hingga kami menggigil ketika harus menunggu Mentari (bukan anak gadis tetangga lo ya) di bawah joglo yang terbuka kanan kirinya.
Sayangnya, matahari sepertinya kurang bersahabat. Hingga 06.30 ia masih malu menampakkan jelitanya. Tapi ya tetap harus dimanfaatkan moment ini meski warnanya sudah tak lagi keemasan, kan ya eman-eman kalau tidak mengeluarkan jurus pamungkas si Fuji X-A2.
Dari sini, akan terlihat Laut Jawa dan pesisirnya di sisi utara. Di sebelah timur, Kota Semarang nampak gemerlap meski kecil-kecil, sementara di selatan kegagahan Gunung Ungaran masih dominan dibanding Merbabu dan Merapi (ya iyalah secara ia berada di depannya jika dilihat dari sudut ini).




Di bukit ini, sudah terdapat beberapa gazebo dan spot selfie. Cukuplah untuk menambah daya pikat Deswita PBK selain obyek utama air terjun Curug Sewu yang akan kami kunjungi siang harinya. Jadinya, saya memilih memotret biji kopi yang keemasan dan juga bunganya yang harum seperti kembang melati.
Dan ketika mengunjungi obyek Wisata Curug Sewu, saya baru tahu kalau obyek ini dikelola oleh Pemkab Kendal. Sementara untuk air terjunnya berada di wilayah milik Perhutani. Alhasil, pengunjung harus membayar dua kali jika hendak melihat dari dekat air terjun tersebut.
Secara penataan, obyeknya sudah cukup baik. Sayang sampah masih menjadi kendala terbesar wisata di negeri ini. Kesadaran untuk membuang atau bahkan memanfaatkan sampah, masih minim. Ini juga jadi bahan evaluasi kok bagi pribadi saya, ya kayak bercermin gitu lah.
Jadi, apapun sebaiknya kita kelola sendiri sampah-sampah kita terutama sampah plastik mengingat masih minimnya pemanfaatan sampah. Tapi apa ya kita harus membawa pulang sampah plastik hasil piknik? Kalau kamu gimana?

Saya pilih bawa tumbler owk


Baca juga: http://www.guswahidunited.id/2018/02/menelusur-jejak-merbab-merapi-di-dewi.html
 

Share:
Read More
, , , , , , ,

Elegi Cinta Candi Merak

Candi Merak di Karangnongko Klaten
Row matahari bikin makin cantik si Merak

NAMA Candi Merak memang tak setenar candi-candi lainnya. Selain karena bangunannya yang tidak terlalu besar, letaknya juga cukup terpencil.
Selain itu, sepertinya Candi Merak bukanlah pusat peradaban atau tempat peribadatan utama kala itu. Lepas dari itu semua, candi ini pantas dijadikan salah satu tujuan wisatamu terutama bagi yang suka mengunjungi kawasan heritage. Ya ibarat mengenang mantan dan masa lalu lah.
Letaknya berada di sebelah barat Kota Klaten. Berada persis di kaki Gunung Merapi, sepertinya candi ini juga pernah terkubur kedahsyahtan lentusan Merapi.
Terbukti, ia baru ditemukan sekitar tahun 1925 namun baru selesai dipugar tahun 2011 lalu. Diperkirakan dibangun di abad 8-10 Masehi, karena memang tidak ditemukan prasasti yang menandakan waktu pembuatan. Beda ma kita ya gaes yang dikit-dikit sekarang pakai tanggal. Tanggal jadian, tanggal putus deelel.
Nah menurut alkisah, di kawasan ini dulunya ada sebuah Pohon Joho yang sangat besar. Pohon itu sering dihinggapi Burung Merak, yang kini burungnya entah kemana jejaknya. Saat tumbang, akar Pohon Joho yang sangat besar itu tercerabut ke atas yang menyisakan ada tumpukan batuan dan arca candi.
Dan setelah dilakukan penggalian, barulah ditemukan adanya bangunan candi yang sudah tidak utuh. Candi ini diduga berlatar belakang Hindu seiring ditemukannya lingga yoni, arca Ganesa, arca Nandi dan arca Durga.
Candi Merak sendiri menghadap ke timur sementara tiga buah candi perwaranya menghadap ke barat. Memiliki ukuran bangunan panjang 8,86 m, lebar 13,5 m dan tinggi 12 m, dengan luas kompleks candi sekitar 2.000 m².
Candi pewara-nya belum dipugar gaes


Atap candi baru selesai dipugar 2011 loh



Oh ya, sekilas candi ini mirip dengan candi-candi yang dibangun di masa Mataram Kuno yang juga berlatar belakang Hindu. Lihat saja seperti Candi Plaosan, Candi Sewu dan Prambanan.
Menariknya, di sekitar Candi Merak juga ada situs lainnya. Saya bahkan menyempatkan berkunjung ke Candi Karangnongko yang sama sekali belum dipugar dan hanya menyisakan tumpukan bebatuan saja. Nama Candi Karangnongko sendiri saya yakin diambil dari daerah ditemukannya candi ini yakni Desa Karangnongko.
Letaknya gak jauh kok, cuma sekitar 1 Km dari Candi Merak. Kalau Candi Merak di sekitar pemukiman pendudukan dan asri dengan naungan pepohonan rimbun, Candi Karangnongko berada di tengah sawah dan di tepi sisi atas sungai kecil, panas nda hahaha.
Eh setelah baca-baca, ternyata juga masih ada Candi Kriyan dan Candi Bekelan di sekitar Candi Merak lo. Ah sayang, saya tak sempat berkunjung ke sana.
Tapi dari semua candi-candi tersebut, termasuk candi-candi lainnya, saya sedikit berkesimpulan. Ya boleh setuju boleh tidak lah, namanya juga kesimpulan pribadi owk.
Jadi begini, dalam pandangan saya, semua candi-candi tersebut (selain Candi Borobudur lo ya, karena ini candi Buddha), semuanya berada di sekitar Gunung Merapi. Mereka seolah memutari gunung ini. Mungkin juga memiliki filosofi bahwa puncak gunung adalah pusat ke-Illahi-an (wallahualam bisawab).
Tapi itu teori pribadi lo ya, toh saya sendiri juga bukan ahli soal candi, apalagi soal hati.



***
JADI, Lebaran tahun 2018 ini, saya sekeluarga seperti biasa ke Klaten, tempat mbah buyut. Karena saya bukan penganut paham berlebaran (klo silaturahmi saya OK), saya sengaja dolan sendirian. Dilalah kok nemu peta wisata Klaten dan penunjuk Candi Merak yang ternyata tidak terlalu jauh letaknya dari rumah mbah buyut.
Saya juga sengaja menggunakan GPS untuk mencari letak candi ini. Namun entah karena naik sepeda motor (sehingga suara mbak-mbak GPS-nya tak terdengar), atau memang karena saya bodo membaca peta, nyasar deh.
Alhasil, saya tetap harus menggunakan cara tradisional by jalinan silaturahmi yakni dengan bertanya kepada warga. Baru deh ketemu tuh jalannya...hahaha sepertinya cara ini masih jadi yang paling efektif untuk mencari alamat di desa deh.
Dan ketika ketemu Candi Merak, di sana sudah ada 3 muda mudi. Sepertinya mereka juga baru tahu tentang keberadaan candi ini. Sayangnya karena masih Lebaran, pagar pembatasnya tutup jadi gak bisa masuk ke pelataran.
Usai itu, gantian sepasang suami istri bergantian berfoto ria. Saya tahu mereka suami istri karena anaknya menunggu di sepeda motor, sepertinya tidak tertarik sama sekali dengan susunan batuan berwarna kusam itu.
Anak kecil menunggu di dekat Candi Merak
Males banget liat batu ya dek, mending nonton Avengers Infinity War meski diboongi produsernya hehe 

Lalu setelahnya, sepasang muda mudi yang sepertinya orang lokal sekitar Klaten juga. Jadi total saat itu Candi Merak dikunjungi 8 orang termasuk saya, beda jauh dengan Candi Borobudur atau Prambanan yang dikunjungi ribuan orang di kala Lebaran seperti ini.
Ya memang secara obyek, Candi Merak kurang menonjol. Pun secara peradaban, candi ini bukanlah pusat perhatian dan pusat peribadatan. Mungkin hanya sekedar tempat pemujaan sementara untuk peribadatan besar, mereka ke Prambanan (mungkin lo ya).
Yang jelas, candi ini kurang promosi. Padahal dengan keberadaan situs-situs candi lainnya di sekitar Candi Merak, dapat dijadikan paket wisata heritage menarik tentunya setelah disiapkan story telling serta pekat pendukung lainnya. Bisa juga dijadikan satu dengan paket wisata air ke Umbul Ponggok yang terkenal itu (paling terkenal di Klaten).
Jadi ya malah mirip elegi cinta gitu...klo gak dipromoin tapi kok bagus, klo dipromosiin kok ya masih kalah sama Plaosan dan Prambanan.
Aku terkunci, jadi cuma bisa melongok intap intip hihi


Share:
Read More
, , ,

Daftar Kuliner Terlengkap di Semarang

Inilah daftar kuliner paling komplit njerit di Semarang. Disusun berdasar menu, jadi lebih mudah mencarinya. Beberapa penjual menawarkan dua atau lebih menu yang berbeda, sehingga bisa muncul beberapa kali pula. Soal rasa, pastikan lidahmu cocok yo nda

A. Nasi Goreng
1. Nasi Goreng Babat Pak Karmin, Jembatan Berok (024) 356334 & Cab. Gajah Mada (024) 3558565*
2. Nasi Goreng Babat Pak Marsono di perempatan Jalan Anjasmoro Raya no. 64 sesudah rel belok kanan, buka siang - malam 081390302192*
3. Nasi Goreng Babat Hengky di Puri Anjasmoro Blok M, setelah perempatan Arteri, maju belok kiri gang 1, telp 085225086676 (sebaiknya pesan dulu), buka mulai jam 17.00 sampai habis.*
4. Nasi Goreng Babat Pak Di di Gang Pinggir 23 08122834892/081325950753
5. Nasi Goreng Kepiting Rezeki (Nasi Goreng Artis), Gang Pusponjolo - Jl. Pamularsih, telp. 0247604913, 02470125216
6. Nasi Goreng Babat Pak Tamam Jalan Stadion Selatan depan BKD*
7. Nasi Goreng Pak Setu Jl Sisingamangaraja, 16.00-24.00*
8. Nasi Goreng Bahagia Jalan Kranggan 16.00-24.00
9. Nasi Goreng Pak Baru Jalan Sebandaran kawasan Pecinan

B.  Sate Kambing
1. Sate Kambing 29 Depan Gereja Blenduk Kota Lama*
2. Sate Kambing Kapuran Jalan Kapuran (024) 3517638*
3. Sate Kambing Tongseng Pak Amat Jalan Thamrin*
4. Sate Kambing Gelora Jalan MT Haryono (024) 3549805*
5. Sate Sapi Pak Kempleng Ungaran
6. Sate Blora Sapi & Ayam Jalan MT Haryono depan Lab Prodia
7. Sate, Gule, Tongseng dan Bestik Pak Man Jalan Dr Cipto
8. Sate Kambing Widodo Sampangan Jalan Menoreh Raya
9. Gule Kambing Bustaman, Jl. Agus Salim - sebelah Pasar Ikan Hias (hanya siang)
10. Sate Kuda Pak Din Jalan Veteran persis di pertigaan blkg RS Kariadi
11. Sate Kambing Kemronyos Jalan Anjasmoro setelah Palang Pintu KA
12. Gule Kambing Bustaman Pak Sabar samping Gereja Blenduk*
13. Sate Ayam Ponorogo Jalan Thamrin pertigaan Jl Suyudi
14. Sate Ayam Martawi Jalan Tentara Pelajar tlp 024-8319074
15. Tengkleng Kambing Nyamleng Jl Majapahit depan Dolog*
16. Sop Kaki Betawi & Sate Kambing Tiga Saudara Jl Majapahit
17. Sate Sapi Suruh Jalan Sriwijaya
18. Sate dan Tongseng Pak Ragil Taman Halmahera
19. Sate, Gule, Tongseng Mbak Tun di Pasar Babadan Ungaran (buka pada pasaran wage dan legi)*
20. Sate Kambing Moro Seneng Jalan Sriwijaya

C. Nasi Ayam
1. Nasi Ayam Pojok Matahari Bu Sami Simpang Lima, dekat tangga Simpang 5 Plasa, telp. 081326559966, 081325268885, buka mulai pukul 22.00 malam*
2. Nasi Ayam Yu Pini Gang Pinggir depan Salon Jhony Saleh buka malam pkl 18.00 dan di sebrang Paragon Mall*
3. Nasi Ayam Bu Nyoto depan SD Santo Yusuf - Jl. MT. Haryono, buka pagi jam 07.00, buka malam jam 18.00
4. Nasi Ayam Bu Wido Jalan Gajah Mada (Samping dealer Honda mobil)
5. Nasi Ayam Bu Har Jalan Majapahit depan LOTTE MART

D.     Nasi Pindang
1. Nasi Pindang/Lodeh SEDERHANA, Jl. Lampersari belakang Metro
2. Nasi Pindang Pak Ndut Jalan Stadion Selatan - sebelah Ayam Penyet Pak Kul
3. Nasi Pindang Jalan Gajah Mada dekat perempatan Depok.
4. Nasi Pindang Jalan Tlogorejo
5. Nasi Pindang Mbah Kung Jalan Karangwulan Barat

E. Nasi Gandul
1. Nasi Gandul Jalan Sriwijaya halaman Asrama Polisi
2. Nasi Gandul Margojoyo Jalan Kelud depan PDAM
3. Nasi Gandul Jalan Dr Cipto dekat Perempatan Citarum
4. Nasi Gandul Jalan Seroja Raya depan RS Telogorejo.
5. Nasi Gandul Tlogosari

F. Nasi Gudeg
1. Nasi Gudeg Rumah Makan Nglaras Roso Jalan MT Haryono Depan SMA Sedes dan Jl Thamrin*
2. Nasi Gudeg Bu Leman Jalan Indraprasta buka pagi - sore, Jalan Abdurrahman Saleh
3. Nasi Gudeg Mbak Sum, perempatan Sompok-Peterongan buka malam
4. Nasi Gudeg Sriwijaya Jalan Sriwijaya
5. Nasi Gudeg Bu Tini Jalan Kaligarang
6. Nasi Gudeg dan Koyor Mbak Tum di Peterongan kiri BTPN Semarang (buka malam)*
7. Gudeg Abimanyu Jalan Abimanyu VII (max jam 10.00), Jalan Stadion Selatan*

G. Ayam Goreng
1. Ayam KALASAN
- Jalan Kompol Maksum, telp. 024 8313383 (dibawa pulang karena dalam kondisi setengah matang sudah dibumbui)
- Jalan Depok no 39 (depan RM Bambang) telp 024 70710311
2. Burung Dara & Ayam Goreng, Restoran Permata (ex Loo San), Kranggan Barat (dekat perapatan Gajah Mada)
3. Ayam/Burung Dara/Bebek Sambel Cobek Pak HEXA, Sidorejo dan juga di Jalan Ki Mangunsarkoro*
4. Ayam Penyet Pak Kul Jalan Stadion Selatan, buka siang*
5. Ayam Goreng & Sop Buntut Pak Supar Jalan Suyudi*
6. Ayam Lombok Idjo Jalan Gajahmada
7. Burung Belibis Mangkang depan Jembatan Timbang, deket BPKP
8. Ayam Goreng Yansen Bangkong Mataram Jalan dr Cipto dekat KFC.
9. Ayam Goreng Salim Jalan Seroja Raya, sederet dg Telogorejo
10. Iwak Manuk  Pak No Jalan Sawojajar, Krobokan Barat*
11. Ayam Goreng Bu Salim Jalan Pringgading dekat bangjo*
12. Ayam Goreng Mas Met Jalan MT Haryono dekat Atalanta Electronic dan di Gang Warung Pecinan*
13. Ayam Goreng Kalasan Jalan Gajah Mada (dekat bangjo Kampungkali)*

H. Mie Jowo
1. Mie Jowo Dul Numani di Jalan Pemuda (2 outlet) dan Jalan MH Thamrin*
2. Mie Jowo Ayu di Jalan Lamper Tengah dekat Bangjo Pasar Mrican
3. Mie Jowo Pak Topi di Jalan Dr Wahidin (persis setelah tanjakan Tanah Putih)*
4. Mie Jowo Pak Setu Jalan Sisingamangaraja
5. Mie Jowo Pak Sulur Jalan Sisingamangaraja
6. Bakmie Jowo Pak Har Jalan Karangwulan Barat
7. Mie Jowo Pak Panut di Jalan Jagalan*
8. Mie Jowo Pak Gareng Jalan Ki Mangunsarkoro

G. Soto
1. Soto Ayam Bangkong di Perempatan Bangkong dan di exit tol Srondol*
2. Soto Ayam Kudus Bokoran Jalan Plampitan, buka pagi*
3. Soto Ayam Pak Neon lapangan WIDOSARI Brumbungan
4. Soto Ayam Kudus LIEN di depan Stadion Diponegoro, Dekat RS. Telogorejo*
5. Soto Ayam Kudus Selan Jalan Depok, buka pagi*
6. Soto Ayam Pak Man Jalan Purwosari (tenda), Jalan Pamularsih, Jalan Veteran*
7. Soto Ayam Mas Met Jalan Indraprasta (buka sore sampai malam)*
8. Soto Ayam Pak Rebo Jalan Purwosari, buka malam
9. Soto Sedap Boyolali di perempatan Jalan Pandanaran II
10. Soto Pak No Jalan Kaligarang, Jalan Kelud Raya dekat bangjo Sampangan, Jalan Sukun Raya*
11. Soto Pak Banjar Jalan Mlaten Trenggulun
12. Soto & Pindang Kudus Trisno Sari Jalan Majapahit depan Pasar Gayam*
13. Soto Sapi Lengkong Jl Wot Gandul
14. Soto Ayam Pak Din Jalan Tanjung samping PLN
15. Soto Ayam Pak Tanto Jalan Dr Cipto (dekat Gedung Sobokartti)*
16. Soyo Ayam Pak Wito Jalan Hasanudin, Jalan Sisingamangaraja, Jalan MT Haryono*
17. Soto Ayam pak Bambang Jalan Stadion Utara-Depan Karangturi
18. Soto Ayam Berkah Jalan Sisingamangaraja (06.00-13.30)*
19. Soto Ayam Pak Nur di Pasar Gayamsari (16.00-23.00)
20. Soto Bang Ari Jalan WR Supratman*
21. Soto Lamongan di Jalan Kyai Saleh

H. Lontong Cap Go Meh
1. Lontong Capgomeh RM Semarang Jalan Gajahmada (07.00-13.00  buka lagi 16.00-21.00)*
2. Lontong Capgomeh, Istana Wedang Jalan Pringgading
3. Lontong Capgomeh dekat Klenteng Sebandaran
4. Lontong Capgomeh RM Timlo Jalan Mataram Bangköng

I. Bakso dan Mie Ayam
1. Bakso Geger Jalan Pamularsih sebelum SMA Kesatrian belok kiri, Jalan Setiabudi Srondol*
2. Bakso Mawardi Jalan Citarum dekat lampu merah perempatan Jl Dr Cipto*
3. Bakso Wardi di Jalan Ahmad Dahlan seberang BCA*
4. Bakso Pak Djo Jalan Anggrek belakang Mal Citraland*
5. Bakso Asia Jl MT Haryono Peterongan*
6. Bakso Doa Ibu di Jalan Sompok*
7. Bakso Petruk Jalan Indraprasta
8. Bakso Kumis di Plaza Simpang Lima, depan SMP 15 Kagok
9. Bakso Kribo Jalan Sukun Raya (belakang Pom Bensin Banyumanik)
10. Bakso Agung Jalan Puri Anjasmoro, Jalan MH Thamrin, Jalan Dr Wahidin*
11. Bakso Pak Ripto Jalan Lesanpuro*
12. Bakso Kuncoro Jalan Majapahit dekat Samsat Semarang 1 *
13. Mie Ayam Teguh Jalan Rinjani (buka Selasa-Kamis-Sabtu) jam 16.00 sampai habis*
14. Mie Ayam 99 Jalan Tlogosari Raya II
15. Mie Ayam Pak Supri Jalan Kranggan
16. Mie Ayam dan Bakso Pak Min Wonogiri Jalan Kalisari Baru (samping Mapolrestabes Smg)*
17. Mie Ayam Pak Kawit Jalan Seroja sebrang Hotel Grand Arkenso
18. Mie Ayam Si Jonti Palebon
19. Mie Ayam Bang Rohmad Jalan Tentara Pelajar sebelum Pasar Mrican
20. Mie Ayam Jakarta 69 di Jalan MT Haryono (dekat bangjo Peterongan)
21. Mie Ayam Pak Min Jalan Pandanaran II*
22. Mie Ayam Happy Jalan Kedungmundu Raya
23. Mie Ayam dan Baso Soun Jalan Sompok
24. Mie Ayam dan Bakso Jaya Sari Jalan Puspogiwang Barat

J. Es dan Wedang
1. Ice Cream /lilin/mambo Lido Jalan Golf samping Hotel Grand Candi (024) 8449488, dibawa pulang
2. Restaurant, Ice Cream Palace & Patisserie Toko OEN, Jl. Pemuda 52, telp 024 3541683
3. Ice Cream LINDS Jalan Papandayan Raya
4. Es Marem, Jl. Kranggan, dan depan Sekolah Theresiana (Kp Kali)*
5. Es Kelapa Muda Kartika Jl MT Haryono, kiri jalan sebelum belokan jl Petolongan, buka siang
6. Es Puter Cong Lik Jalan Tlogorejo, buka malam*
7. Wedang Kacang Kapuran Jalan Kapuran
8. Istana Wedang Jalan Pringgading dan Jl DI Panjaitan No 21*
9. Gemblong Bakar & Aneka Wedang, Jl MT Haryono depan Yamaha Mataram Sakti
10. Kedai Susu Karang Doro Jl Raden Patah
11. Es Kelapa Muda Pak Ambon Jalan Dr Cipto depan SD Xaverius (Siang)
12. Wedang Cap Kau King  depan Gang Baru
13. Wedang Jahe Rempah Mbah Jo belakang kantor Gubernuran Jalan Menteri Soepeno (buka pagi sampai sore)*
14. Wedang Jahe Rempah di Jalan Tri Lomba Juang sebrang stadion (buka sore sampai malam hari)

K. Sego Pecel
1. Nasi Pecel Mbok Sador depan TELKOM Simpanglima buka malam*
2. Nasi Pecel Yu Surip depan Radio Gajahmada Jl MT Haryono, dekat Dargo*
3. Warung Pecel/Rujak Cingur Bu Sri Jalan Pekunden buka pagi & siang
4. Nasi Pecel Bu Suji Jalan MT Haryono sebelum Tri Dharma
5. Pecel Bu Sumo Jalan Kyai Saleh*
6. Pecel Yu Sri di Simpanglima dekat toko Brilliant*

L. Aneka Masakan/Jajanan
1. Tahu Pong Sari Roso Jalan Depok dekat bangjo sebrang Pegadaian*
2. RM Timlo Jalan Mataram Bangköng*
3. Aneka Bubur RM Indah Sari Jalan MT Haryono 403-405, Ruko 9-10, sebelah/setelah SMA Mataram (024) 3549967*
3. Seafood Sari Roso Jalan Kartini (buka malam)
4. Kepiting SR Rejeki Jalan Puspowarno
5. Seafood Pak Sangklak Jalan Raya Telaga Mas No B1 Tanah Mas (024)3518057*
6. Kepiting Cak Gundul Cab Surabaya Ruko Sunindo Square no. 1 - Jl. Sudirman (Siliwangi), telp (024) 76632627
7. RM Kampung Laut sebelah PRPP Puri Anjasmoro*
8. Chinese Food RM Happy Jalan Gajah Mada*
9. Ikan Bakar GAMA Jalan MT Haryono Bangkong, Jalan Sultan Agung (Candi)
10. Mie Kopyok mas Antok Jalan Pandanaran I
11. Mangut Welut & Tongkol Bu Basuki Jalan Abdulrahman Saleh
12. Mangut Ikan Pe Warung Samping Stasiun Poncol
13. Warteg Sederhana Jalan Sisingamangaraja dekat Hotel Patra Jasa
14. Warung Mak Mi Spesial Kepiting Lemburi (cangkang lunak) Jl Suyudono
15. Gado-gado & Es Pankuk Pak Yono Jalan Tanjung samping PLN*
16. Steak & Masakan Indonesia Jati Legi Jalan Sultan Agung & DP Mall
17. Steak Sim Six Jalan Banyumanik Raya
18. Swikee (dalam) - Sate Ayam/Kambing/Sapi (luar) Pasar Burung Karimata
19. Gado2 Es Degan & Cincau Bu Sri Jalan Pekunden II
20. Gado2 Ungaran Jalan Raya Merdeka arah UNDARIS
21. Resto Pesta Keboe Jalan Veteran
22. RM Tanjung Laut lokasi pinggir laut di sisi kiri jalan ke Bandara Ahmad Yani
22. Sisingamangaraja Sites (S2), Jalan Sisingamangaraja
23. Super Penyet Jalan Gajah Mada dan Jalan Setiabudi Srondol
24. RM Selasih Jalan Sultan Agung, telp (024) 8448808
25. Swikee Gracia Jalan Suyudi
26. Swikee Seng Tua Jalan Kranggan
27. Warung Mangut Belut Hj Nasimah Jalan Menoreh Utara (sebrang Sate Widodo), Pujasera Kyai Saleh*
28. RM Mbah Jingkrak Jalan Taman Beringin dan Jl Kyai Saleh
29. RM Bu Fat Spesial Kepala Manyung Jalan Ariloka Raya Krobokan*
30. Warung Makan Bu Sum Jalan Radusari Spaen I No278
31. Gulai Kepala Ikan Pak Untung Jalan Siwalan No 1
32. Resto Pesta Keboen Jalan Veteran No 29 (024)-70297029
33. Lentog Tanjung Samping Gedung KORPRI Kota Smg Jalan Ki Mangunsarkoro
34. Nasi Kebuli Joss Ala Pekalongan Bang Opie Jalan Citarum
35. Pisang plenet depan Sri Ratu Jalan Pemuda*
36. Sup Buntut Abdurrahman di Pasar Jatingaleh*
37. Mie Kopyok Pak Dhuwur Jalan Tanjung dan di Pujasera Kyai Saleh*

M. Oleh Oleh
1. Bandeng Asep Ebeka Jalan Dr Cipto 124 - Depan Perhutani (024) 3545588/3519764/08164881201
2. Bandeng Presto Jalan Pandanaran
3. Bandeng Juwana Jalan Pandanaran dan Jalan Pamularsih
4. Lunpia Mataram Jalan MT Haryono 533 A, telp. 024 8452501
5. Loenpia Mbak Lien  Jalan Pemuda (024) 3580734 dan Jalan Pandanaran di depan Bandeng Juwana No57 0818242086
6. Wingko Babad cap Kereta Api Jalan Cendrawasih 14 (024) 3542064
7. Toko Roti Sanitas Jalan MT Haryono 543 (024) 8316415*
8. Pia Kemuning Jalan Kemuning
9. Bakery, Cookies & Ice Cream Linda Jalan Mayjen Sutoyo 85-87 (024) 8413545, Jalan Pandanaran 94 (024) 8314722/8314415
10. Ayam Goreng/Bakar Tulang Lunak Kraton Jalan KH Wahid Hasyim 109 (024) 3543095 - 3517491
11. Bakso Ajong (Bakso Beku) Jalan Petudungan 115 (024) 3542071/ 081931967774
12. Tahu Bakso Bu Pudji Jalan Letjen Suprapto (Akses Tol) Ungaran depan Kantor DPRD, di Babadan depan Bengkel Karoseri, Jalan Pamularsih
13.  Toko Oleh Oleh Pandanaran Jalan Pandanaran 08156505814
14. Lumpia Delight Jalan Gajah Mada
15. Leker Paimo Jalan Karanganyar depan SMA Loyola*
16. Kue moaci Gemini Jalan Kentangan Barat No 101  (024)-3519503* 
15. Cake Brilliant Ruko Simpang Lima (024)-8456456  dan Jalan Thamrin No 59
16. Lapis Legit Niki Sae Suparman Jalan Senjoyo Il/1 (024)-3557471/3550676.

*Legenda. Pemberian tanda berdasar pada usia keberadaan selama ini dan pengakuan taste dari pada konsumen yang sudah mencoba.

Nah gaes, itu tadi daftar kuliner di Semarang yang paling komplit njerit. Oh ya, alamat bisa saja sudah berubah karena kebanyakan tempat makan berada di emper toko atau menggunakan kios dengan sistem kontrak. Kalau ada yang belum masuk list, boleh lo ditambahkan. Selamat berburu kuliner....
Share:
Read More
, , , ,

9 Hal Salah Kaprah Saat Lebaran

Menuju sempurna
Kepompong...menuju kesempurnaan


BANYAK orang menganggap, perayaan lebaran adalah bagian dari Islam. Padahal, Idul Fitri merupakan lahir kembali insan ke dunia usai diuji sebulan penuh di melalui Bulan Ramadhan dengan menahan seluruh hawa napsunya. Ya mirip dengan transformasi ulet menjadi kupu-kupu cantik gitu setelah melalui proses menjadi kepompong lebih dulu.
Tapi faktanya, banyak orang salah mengartikan Idul Fitri. Fitri dan lahir kembali diartikan sebagai saran untuk hal-hal yang sebenarnya kurang produktif, kurang bermanfaat bahkan lebih cenderung melakukan tradisi budaya daripada syariat Islam. Jadinya salah kaprah deh...pffftt
Namun justru budaya inilah yang berkembang pesat di masyarakat. Tradisi itu juga diyakini sebagai sebuah kebenaran lo. Sementara di negara asalnya sono, perayaan Idul Fitri jauh berbeda dengan yang di sini. Konon begitu kalau di Arab, entah sih...saya sendiri belum pernah ke Arab meski wajah saya agak kearab-araban hihi.
Nah inilah hal yang menjadi salah kaprah dalam melaksanakan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia:

1.       Sungkeman
Hampir semua orang memanfaatkan momentum Lebaran untuk bermaaf-maafan. Bahkan kepada orang tua kita, selalu harus ada tradisi sungkeman, muter dari kakak pertama dan berakhir di adik yang paling ragil. Bergantian, si kakak kemudian akan juga disungkemi adik-adiknya, anak-anaknya, keponakan dan begitu seterusnya.
Yakin deh, sungkeman ini adalah tradisi Jawa. Memang tujuannya bagus, yakni saling memaafkan. Namun menurut Islam, memaafkan mah tidak perlu nunggu Lebaran. Begitu merasa salah, ya langsung saja minta maaf. Iya kalau umur kita bisa sampae lebaran tahun depan? Kalau tidak, kan berabe.
Nah menariknya, saat sungkeman atau bermaaf-maafan, selalu mengucapkan Minal Aidzin wal Faizin yang ternyata artinya bukan meminta maaf atau memaafkan lo. Maunya bergaya keara-araban, tapi salah arti hahaha.

Saya sendiri sudah mulai menghilangkan sungkeman ini ke generasi kedua. Anak-anak sudah tidak lagi saya biasakan untuk sungkeman saat Lebaran. Saya paling ikut sungkem hanya kepada orang tua dekat saya (Ibu dan mertua) sembari pelan-pelan mlipir untuk tidak sungkem ke yang lain hahaha
Silaturahmi juga dilakukan untuk keluarga jauh yang selama ini jarang dikunjungi. Tapi khusus silaturahmi ini, saya sendiri mengapresiasi karena memang diajarkan penting di Islam. Ya sekaligus menanya kabar saudara-saudara kita yang jarang bertemu.

2.       Mudik dan THR
Mudik dan pembagian Tunjangan Hari Raya (THR), juga hanya ada di Indonesia. Tujuannya adalah untuk membantu mereka yang merayakan Idul Fitri. Dari kacamata si penerima, THR tentu menjadi berkah, gaji ke-13 bagi karyawan swasta, macam aku ini. Tapi dari sisi pengusaha, THR adalah suatu pengeluaran luar biasa. Bayangkan, jika di negara lain hanya ada 12 bulan gaji, di sini bisa lebih loh hahaha...
Begitu pula dengan mudik. Tradisi pulang kampung ini juga lucu. Banyak yang bertanya,Mudik kemana?. Ketika dijawab, Aku mudik ke Jawa.
“Jawanya mana? Kapan balik Jakarta?” “Aku di Semarang. Aku balik H+7”
Terasa aneh kan. La apa Jakarta itu bukan bagian dari Pulau Jawa? La apa Jakarta itu pulau terpisah layaknya Pulau Seribu atau bahkan Sumatera?
Lebih dari itu, mudik juga telah mampu menggerakkan 19 juta manusia dari Jakarta ke berbagai daerah tujuan (data prediksi pemudik 2018 dari Kemenhub). Padahal, selama belasan jam-jam, mereka didera kemacetan, antre panjang, kaki menekuk di bawah jok, bagasi menumpuk dengan baju dan oleh-oleh. Tapi inilah tradisi...sulit ditolak. Ada ungkapan juga, kalau Lebaran tidak pulang kampung, berarti tidak berbakti kepada orang tuanya apalagi jika masih hidup.
Tapi jika mudik dengan niatan bersilaturahmi, saya acungi jempol deh...pokoke silaturahmi di atas segalanya.
Kan bagi yang jomblo, biasa juga diberi pertanyaan, "Kapan nikah? kok calonnya gak diajak kemari? Gak laku ya." :D

3.       Belanja Baju Baru
Entah siapa yang memulai, hingga sata usia SMP, ibu selalu membelikan baju baru saat Lebaran. Jumlahnya selalu berpasangan, baju dan celana, satu stel katanya. Selebihnya di bulan-bulan lain, saya tidak akan dibelikan baju baru, kecuali baju seragam sekolah ini.
Tapi mulai akhir SMP, saya sudah menolaknya. Saya minta uangnya, saya belikan barang yang lebih saya suka. Pernah pula baju Lebaran saya pakai dua tahun setelah dibeli, hanya karena saya sudah malu pakai baju baru saat Lebaran hahaha

4.       Banyak Makanan/Jajanan
Seiring dengan pergerakan manusia melalui kegiatan mudik di atas, apalagi jumlahnya mencapai jutaan, selalu saja disediakan makanan di masing-masing rumah. Mulai dari roti kongguan yang terlihat lebih mewah dibanding para tetangga, lalu ada kembang goyang, satru, tumpi hingga rengginang, komplit terhidang di meja.
Minumnya? Pasti deh sirup kenamaan yang iklannya memborbardir selama Bulan Puasa, siang dan malam.
Eh pernah lo makanan Lebaran ini sudah hampir sebulan tak tersentuh di rumah dan ketika saya bawa ke kos, cuma dapat bertahan tidak lebih dari dua jam wekwkewkek

5.       Opor dan Ketupat
Opor dan ketupat lagi-lagi bukan dalam ajaran Islam. Tradisi Jawa yang kental, merasuk bagi kami pemeluknya, terutama yang tinggal di Jawa lalu menyebar ke seluruh pelosok negeri. Akhirnya muncul ungkapan, Lebaran tanpa ketupat dan opor, tidaklah komplit.
Memang sih, aneh rasanya berlebaran tanpa makan opor dan kupat. Tapi ketika tiga hari berturut-turut makan opor dan ketupat terus, bosen juga ya.
Oh ya, kupat atau ketupat sendiri merupakan ungkapan Jawa yang berarti ngaku lepat, senada dengan tradisi sungkeman di atas.

6.       Membagi-bagi Uang sebagai angpao
Membagi-bagi uang, ternyata bukan hanya tradisi milik orang China melalui angpaw. Kitapun ikut-ikut membagi uang kepada sanak saudara, keponakan, tetangga dan lain-lain saat Lebaran. Entah maksud dan tujuannya apa. Saya sendiri kurang jelas visi misinya.
Menariknya lagi, uang yang dibagikan haruslah baru. Alhasil marak deh penjual uang baru di jalanan bagi mereka yang tidak sempat menukarkannya ke bank-bank. Saya sendiri pernah mendapat uang baru ini beserta dengan nomer serinya yang masih urut, lalu saya simpan di bawah kasur tidak saya buat jajan.

7.       Mengajak serta Saudara/teman dari kampung halaman bekerja di kota
Setiap kali Lebaran usai, Jakarta dan kota-kota metropolitan lainnya selalu memiliki kendala sama. Jumlah warga membengkak. Ternyata, kebiasaan mengajak serta saudara atau teman di daerah asal untuk bekerja di kota besar, masih terjadi. Pertemuan antar saudara dalam tradisi silaturahmi selalu ditutup dengan,”Kalau ada pekerjaan, ajaklah saudara kau itu agar bisa sesukses kamu sebagai karyawan di pabrik itu. Atau bisa bantu-bantu kau jualan nasi goreng di Jakarta”
Pemprov DKI bahkan sudah mengeluarkan larangan bagi warganya untuk mengajak serta orang lain non DKI masuk pasca Lebaran. Ya tujuannya agar jumlah penduduknya tidak meledak, perekonomian juga tidak goncang serta yang pasti agar jumlah tuna wisma di Jakarta tidak semakin banyak.

8.       Memborong dan menumpuk bahan tertentu
Kalau yang ini, biasanya dilakukan oleh penjual atau pedagang. Menumpuk stok bahan jualan inilah yang kemudian memicu naiknya harga baik saat menjelang Ramadhan maupun saat menjelang Lebaran.
Padahal ya jika dihitung secara hukum ekonomi, harga-harga itu harusnya turun lo. Kan bunyinya,”Makin banyak permintaan, harga akan semakin turun (selama suplainya tetap).
Tapi sepertinya momentum Lebaran memang saat untuk mencari untung dan laba besar. Kenaikan harga berlipat, membuat sebagian saudara kita rela menumpuk stok agar tidak kehilangan momentum ini.

9.       Bersilaturahmi melalui HP dan Sosmed
Masih banyak di antara kita yang mengabaikan betapa pentingnya silaturahmi dan tatap muka. Dengan bertatap muka, kita dapat saling mengerti dan memahami perasaan satu sama lain.
Namun seiring perkembangan zaman, kita sering mengabaikan silaturahmi dan memilih untuk sekedar menyapa melalui HP. Masih mending kalau menelepon, la kalau sekedar pakai teks? Duh duhhh
Lalu di malam Idul Fitri yang selayaknya diisi dengan takbiran, kita malah sibuk di pojokan, mengirim WA, SMS dan aneka teks lainnya melalui sosmed. Akibatnya, malam itu jaringan seluler penuh lalu down sehingga pesan malah tidak terkirim hahahah.


Yap itu tadi 9 hal yang sering kita lakukan saat Lebaran. Patut diingat, kita memang menerima THR, lalu uangnya kita belanjakan untuk beli baju, makanan, kebutuhan lain-lain yang ujungnya uangnya kembali mengalir ke konglomerasi, para pengusaha guide-guede. Siapa yang kaya? Siapa juga yang hanya akan seperti-seperti ini saja meski menerima dua kali gaji dalam sebulan?
Bersama, mari kita rubah cara pandang kita. Bukan sok keminter atau sok suci, tapi hal-hal diatas bisa dilogika kok, dipertimbangkan dengan akal sehat. Saya sudah mulai dari diri saya, kamu..?


Oh ya, bagi yang kurang setuju atau tidak sependapat, boleh kok meninggalkan komennya ...

Share:
Read More